SI KUMBANG MERAH : JILID-11


Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dua orang tokoh kang-ouw yang sudah mempunyai banyak pengalaman dan memiliki kepandaian tinggi itu cepat-cepat mengerahkan tenaga khikang mereka dan memusatkannya kepada pandang mata dan kini lenyaplah dua orang bayangan Han Siong yang lain, tinggal seorang saja yang asli. Akan tetapi Bi Lian tidak tahu bagaimana caranya membuyarkan penglihatan aneh itu dan dia pun berseru sambil tertawa.

"Wah-wah-wah...! Kalau aku menjadi lawanmu pasti aku benar-benar akan kebingungan sekali, Suheng! Yang mana sih engkau yang sesungguhnya?"

Han Siong tersenyum. Dia pun segera melenyapkan dua bayangannya, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan suhu dan subo-nya yang dia tahu dapat menguasai penglihatan mereka tadi.

"Harap suhu dan subo suka memaafkan teecu."

Suami isteri itu saling pandang dan Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang. "Memang hebat ilmu sihir itu, Han Siong. Kami sendiri seketika terpengaruh dan memang ilmu sihir ini dapat menjadi alat pembela diri yang ampuh. Kami ikut merasa gembira bahwa engkau dilatih oleh seorang sakti seperti locianpwe itu. Sekarang lanjutkan ceritamu, Han Siong."

"Teecu lalu pergi berkunjung ke Pek-sim-pang. Di sana teecu bertemu dengan lima orang pendeta Lama yang hendak memaksa teecu ikut ke Tibet, namun teecu berhasil mengusir mereka. Kemudian teecu bertemu dengan ayah, ibu dan keluarga Pek."

"Ah, syukurlah, Han Siong. Aku ikut merasa gembira bahwa engkau bisa bertemu dengan orang tuamu dan keluargamu di sana," kata Toan Hui Cu.

"Tetapi teecu mendengar dari keluarga Pek bahwa adik kandung teecu yang bernama Pek Eng telah pergi meninggalkan rumah, katanya untuk mencari teecu, kakaknya yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya."

"Ahh, kasihan sekali adik Pek Eng...,” kata Bi Lian.

"Karena itu teecu merasa khawatir dan teecu juga tidak lama tinggal di asrama Pek-sim-pang. Teecu lalu berangkat untuk mencari adik Pek Eng dan juga Sumoi, teecu mencari dua orang gadis!"

"Dua orang yang selamanya belum pernah Suheng lihat. Hik-hik, betapa sukarnya itu...!" Bi Lian tertawa.

"Akhirnya teecu menemukan jejak adik Pek Eng yang kiranya ditangkap oleh gerombolan pemberontak Lam-hai Giam-lo yang bersarang di Lembah Yang-ce di Yunan, maka teecu segera menyusul ke sana dan ternyata teecu menemukan dua-duanya di sana!"

Kembali Bi Lian tertawa. "Dua orang yang dicarinya itu telah berkumpul di Yunan, bahkan sebelum Suheng berjumpa dengan aku atau dengan adik Eng, aku dan adik Eng sudah menjadi sahabat baik!"

"Pemberontakan Lam-hai Giam-lo dapat dihancurkan oleh para pendekar, kemudian teecu berhasil membujuk Sumoi untuk menghadap Suhu dan Subo di kuil Siauw-lim-si itu." Han Siong mengakhiri ceritanya.

"Kami sungguh bersyukur sekali, Han Siong. Engkau bukan saja berhasil melaksanakan tugasmu dan memenuhi permintaan kami sehingga berhasil baik, akan tetapi juga dapat menemukan adik kandungmu dan dapat membantu para pendekar untuk menghancurkan persekutuan pemberontak Lam-hai Giam-lo," kata Siangkoan Ci Kang. "Nah, sekarang giliranmu untuk bercerita, Bi Lian."

Bi Lian lalu menceritakan pengalamannya sejak dia diambil murid oleh mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Empat Setan yang menjadi datuk-datuk sesat di empat penjuru itu. Kedua orang datuk itu senang sekali melihat Bi Lian yang ketika itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, manis lincah dan mempunyai keberanian luar biasa sekali.

Tentu saja anak kecil yang pemberani itu tadinya mendendam kepada dua orang iblis ini yang dianggap sebagai pembunuh keluarga Cu, keluarganya! Akan tetapi kedua datuk itu menyalahkan dua pasang suami isteri iblis yang memusuhi mereka. Dua pasangan suami isteri iblis itulah yang membujuk rakyat dusun agar mengeroyok mereka sehingga banyak penduduk dusun tewas, termasuk keluarga Cu. Bi Lian dapat menerima alasan ini dan dia pun lantas mengalihkan dendamnya kepada dua pasang suami isteri iblis, yaitu Lam-hai Siang-mo dan Sepasang Suami Isteri Goa Iblis Pantai Selatan.

"Pelajaran apa saja yang kau peroleh dari Dua Setan itu?" Toan Hui Cu bertanya.

Bi Lian memandang kepada ayah ibunya. Ia melihat sinar mata khawatir ierpancar keluar dari pandang mata kedua orang tuanya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu memang merasa amat khawatir bila membayangkan bahwa anak kandung mereka menjadi murid dua manusia iblis seperti Tung-hek-kwi dan Pek-kwi-ong yang sudah terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai dua orang yang tidak segan-segan melakukan perbuatan jahat dan kejam yang bagaimana pun juga.

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu sadar diri. Mereka merasa bahwa mereka adalah keturunan datuk-datuk jahat sekali, maka mendengar betapa puteri mereka menjadi murid dua di antara Empat Setan, tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau darah nenek moyang puterinya itu akan menurun pada batin puterinya.

Bi Lian tersenyum. "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir. Memang aku mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari mendiang suhu Pek-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, akan tetapi aku tidak sudi mempelajari dan meniru perbuatan mereka yang kuanggap sangat jahat! Bagaimana pun juga, bimbingan keluarga Cu yang baik, juga bimbingan Ayah dan Ibu yang ketika itu kuanggap guru, masih meninggalkan kesan di hatiku sehingga aku tidak terpengaruh oleh watak jahat mereka."

"Sumoi berkata benar,” Han Siong cepat menyambung. "Sejak bertemu dengan Sumoi, yang teecu lihat Sumoi mempunyai jiwa pendekar seratus prosen, dan bahkan dia sudah mendapat julukan Thiat-sim Sian-li sebagai tanda kekerasan hatinya menghadapi orang-orang jahat.”

“Aihh, Suheng ini memuji-mujiku di depan Ayah dan Ibu, mau merayu, ya?” tanya Bi Lian dengan pandang mata nakal menggoda.

Seketika wajah Han Siong berubah merah. Kalau saja gadis itu tahu bahwa mereka telah dijodohkan, tentu tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu! Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu memandang sambil tersenyum. Mereka tahu bahwa puteri mereka memiliki watak keras, pemberani, dan polos sehingga ucapan yang dikeluarkan tadi hanya untuk menggoda Han Siong, tidak mempunyai makna lain.

“Ah, aku hanya bicara jujur, Sumoi. Kalau engkau bukan berjiwa pendekar tentu tak akan menentang gerombolan Lam-hai Giam-lo. Bahkan engkau berjasa besar sekali karena di tanganmulah Lam-hai Giam-lo tewas!"

"Ahh, benarkah?" Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu terkejut mendengar hal ini karena mereka berdua maklum akan kelihaian Lam-hai Giam-lo. Apa bila puteri mereka mampu membunuh iblis itu, tentu puteri mereka itu telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya!

"Wah, memang Suheng tukang memuji. Hemm, jangan-jangan Suheng sudah ketularan watak putera Si Tawon Merah itu!" Tiba-tiba saja Bi Lian termenung karena dia sekarang teringat pada seorang pemuda yang amat pandai merayu hati wanita, bahkan dia sendiri pernah terpikat oleh puji-pujian dan rayuan yang keluar dari mulut pemuda itu.

Pemuda itu bernama Tang Hay, seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat bukan main, bahkan pandai pula bermain sihir, seorang pemuda pendekar yang gagah perrkasa. Akan tetapi kemudian ketahuan bahwa pemuda perkasa itu adalah putera Ang-hong-cu atau Si Kumbang Merah yang terkenal sebagai penghisap kembang atau seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) perusak dan pemerkosa wanita yang amat keji!

"Sumoi, aku tidak memuji, namun bicara secara jujur,” kata Pek Han Siong yang merasa tidak enak mendengar disebutnya nama putera Ang-hong-cu itu.

"Akan tetapi benarkah engkau telah berhasil membunuh Lam-hai Giam-lo, Bi Lian?" tanya Toan Hui Cu heran.

"Ahh, ibu. Suheng ini bisa saja. Memang aku membunuhnya, akan tetapi bukan sendirian, melainkan mengeroyoknya bersama dua orang pendekar yang sakti. Kalau aku sendirian, kiranya tidak akan mampu mengalahkan dia."

"Lanjutkan ceritamu," kata Siangkoan Ci Kang.

"Selama belajar ilmu silat dari kedua orang suhu itu, aku diajak merantau tetapi aku tidak pernah mencampuri urusan suhu. Dan aku sendiri mempergunakan kepandaianku untuk menentang kejahatan di mana-mana sehingga aku dijuluki Thiat-sim Sian-li oleh kalangan kang-ouw. Kedua orang suhu lantas merantau ke daerah Yunan di mana aku menemukan jejak dua pasang suami isteri yang kuanggap sebagai musuh besarku karena merekalah yang menyebabkan terbasminya keluarga Cu yang kukira keluargaku sendiri. Dan dalam pengejaran terhadap dua pasang suami isteri itu kami bertiga kemudian bertemu dengan gerombolan Lam-hai Giam-lo! Suhu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi terbujuk oleh mereka dan meski pun aku tak senang, mereka tetap saja menjadi tamu kehormatan gerombolan pemberontak itu. Malah suhu Pak-kwi-ong kemudian hendak memaksaku agar menerima pinangan Kulana, seorang di antara pimpinan para pemberontak berasal dari Birma yang berilmu tinggi dan kaya raya. Aku tidak sudi, dan ketika suhu Pak-kwi-ong memaksa, suhu Tung-hek-kwi membelaku. Mereka kemudian saling serang hingga keduanya tewas! Pada waktu itulah bermunculan para pendekar dan aku lantas bergabung dengan mereka untuk membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo, Kulana serta banyak lagi tokoh sesat itu.” Bi Lian mengakhiri kisahnya.

Gadis dan ayah bundanya itu melepaskan kerinduan masing-masing. Selama beberapa hari mereka hanya bercakap-cakap saja, saling menceritakan pengalaman mereka lebih terperinci.

Beberapa hari kemudian, sehabis makan siang mereka berempat duduk di atas rumput tebal di luar pondok, di bawah pohon yang rindang. Mereka memang lebih suka bercakap-cakap sambil duduk di atas rumput ini dari pada di dalam pondok.

Tiba-tiba saja Toan Hui Cu bertanya kepada Han Siong, "Han Siong, sudahkah engkau menceritakan kepada sumoi-mu tentang pedang pusaka Kwan-im Pokiam Itu?"

Seketika wajah Han Siong berubah merah dan dia tak mampu menjawab, hanya meraba gagang pedang di pinggangnya. Melihat ini, Bi Lian yang menjawab sambil tersenyum.

"Suheng pernah bercerita bahwa selain menerima ilmu-ilmu yang hebat dari ayah dan ibu, dia juga menerima pemberian pedang pusaka Kwan-im Pokiam, ibu!"

"Bukan hanya sebagai pemberian, Bi Lian," kata Hui Cu dan dia segera menoleh kepada suaminya. Siangkoan Ci Kang mengangguk, agaknya setuju kalau isterinya menyinggung urusan itu.

"Bukan hanya sebagai pemberian, lalu sebagai apa, ibu? Hadiah karena Suheng seorang murid yang baik?" Bi Lian bertanya, mengerling kepada suheng-nya untuk menggodanya.

"Sebagai... ikatan, Bi Lian. Ikatan jodoh!"

Bi Lian terbelalak memandang kepada ibunya, lalu kepada ayahnya. "Ikatan jodoh? Apa yang ibu maksudkan?" Sementara itu Han Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Bi Lian, aku dan ayahmu telah mengambil keputusan, jauh sebelum engkau pulang, yaitu dua tahun lebih yang lampau, pada waktu suheng-mu berangkat untuk pergi mencarimu. Keputusan itu adalah bahwa kami berdua menjodohkan engkau dengan Pek Han Siong, dan pedang pusaka Kwan-im Pokiam itu kami berikan kepadanya sebagai tanda ikatan jodoh...” Toan Hui Cu tiba-tiba saja menghentikan kata-katanya dan memandang kepada puterinya dengan wajah khawatir.

Dia melihat perubahan pada wajah puterinya yang tadinya cerah dan riang itu. Wajah itu kini menjadi keras, sepasang matanya mencorong dan Bi Lian memandang ayah ibunya bergantian, lalu menoleh dan memandang kepada Han Siong yang masih menundukkan mukanya yang merah. Suasana menjadi amat sunyi, kesunyian yang menegangkan hati, terutama bagi Han Siong.

"Kami harap engkau akan menerimanya dengan hati terbuka, anakku," kata Siangkoan Ci Kang. "Kami melihat Han Siong sebagai seorang pemuda yang amat baik, juga keturunan pendekar, dan selama ini engkau sendiri tentu sudah mengenalnya dan dapat menilainya sendiri....”

"Justru itulah, Ayah! Selama ini aku menganggap dia sebagai seorang suheng, seorang kakak! Suheng, kenapa selama ini engkau diam saja tak pernah memberi tahu kepadaku tentang jodoh ini?" Dalam pertanyaan itu terkandung penyesalan dan teguran.

Han Siong mengangkat mukanya, sikapnya masih tetap tenang sungguh pun dia merasa gugup sekali. Sesudah beberapa kali menelan ludah untuk menenangkan batinnya yang terguncang, dia pun lalu menjawab, "Maafkan aku, Sumoi. Aku tidak tega, aku tidak ingin membuat engkau menjadi sungkan dan malu, maka aku diam saja, biar Suhu dan Subo sendiri yang memberi tahu akan hal itu."

"Tidak...! Tidak...! Bagaimana mungkin terjadi ikatan jodoh yang tiba-tiba ini? Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri! Ayah dan Ibu, sungguh aku tak bisa menerima keputusan yang begini tiba-tiba!"

Mendengar kata-kata ini, wajah Han Siong berubah pucat dan seperti tadi, dia pun hanya menundukkan mukanya.

"Bi Lian, engkau tak boleh menolak mentah-mentah hanya dengan alasan bahwa engkau menganggapnya seperti kakak sendiri! Memang benar dia kakak seperguruanmu, akan tetapi tidak ada hubungan darah sedikit pun antara keluarga kita dan keluarga Pek," kata Siangkoan Ci Kang sambil mengerutkan alisnya karena kecewa melihat sikap puterinya yang menolak ikatan jodoh itu.

"Tetapi, ayah! Bagaimana mungkin orang berjodoh dengan cara begitu saja? Selama ini aku memandang Suheng sebagai seorang kakak seperguruan, bagaimana tiba-tiba saja aku memandangnya sebagai tunangan, sebagai calon suami? Orang berjodoh harus ada perasaan cinta kasih!" bantah Bi Lian dengan polos, sesuai dengan wataknya. Bagaimana pun juga, dia mewarisi sikap kedua orang gurunya yang polos dan berandalan.

Toan Hui Cu juga merasa amat penasaran. Dia mengambil keputusan dalam menghadapi puterinya yang bicara secara terbuka ini dengan cara yang lebih jujur, karena itu dia pun berkata kepada Han Siong, "Han Siong, sekarang lebih baik engkau pun berbicara terus terang saja! Bagaimana perasaan hatimu ketika kami menyatakan bahwa engkau kami jodohkan dengan puteri kami yang pada waktu itu belum kau lihat? Engkau memang telah menerimanya dengan patuh, akan tetapi bagaimana perasaanmu pada saat itu?"

Mendengar pertanyaan ibunya, wajah Bi Lian menjadi berseri-seri. Ia memang lebih suka urusan secara terbuka begini dari pada harus menyimpan di dalam hati.

"Suheng, jawablah sejujurnya. Percayalah, aku tidak akan menyesal atau marah, bahkan aku akan merasa penasaran dan marah kalau engkau tidak bicara jujur!" katanya kepada Han Siong.

Pemuda ini merasa terhimpit sekali. Sejak kecil dia hidup di dalam kuil dan mempelajari segala macam kebudayaan dan sopan santun, kesusilaan, peraturan untuk menghormati orang tua, guru, wanita dan orang pandai. Kini dia diharuskan bicara secara terbuka tanpa tenggang rasa lagi, apa adanya!

Biar pun dia tidak merasa keberatan dengan cara seperti ini, membicarakan rahasia hati di hadapan orang lain secara terbuka, namun tentu saja dia harus berkorban perasaan. Sesudah menghela napas panjang beberapa kali, dia pun memandang kepada suhu dan subo-nya, lalu memberi hormat sambil berlutut.

"Suhu dan Subo, teecu sudah menerima budi besar dari ji-wi yang tak dapat teecu bayar dengan nyawa sekali pun dan teecu sama sekali tidak menghendaki untuk menyinggung perasaan atau menyakiti hati Suhu dan Subo. Akan tetapi karena Suhu, Subo dan juga Sumoi menghendaki jawaban yang sejujurnya dan terbuka, maka apa yang hendak teecu katakan merupakan suara hati teecu yang sebenarnya dan sama sekali tidak lagi ditutupi oleh perasaan sungkan."

"Bagus, Suheng! Begitulah seharusnya sikap orang gagah!" kata Bi Lian dan wajahnya kini berseri gembira lagi.

"Ketika Suhu dan Subo memberikan Kwan-im Pokiam ini kepada teecu dan mengatakan bahwa ji-wi menjodohkan teecu dengan puteri ji-wi, sebenarnya teecu juga merasa amat terkejut. Tentu saja tidak mungkin teecu dapat menyatakan suka atau tidak suka karena teecu belum pernah melihat Sumoi. Namun pada waktu itu teecu menerima sepenuhnya hanya karena terdorong keinginan teecu untuk membalas budi ji-wi serta menyenangkan hati ji-wi. Teecu merasa yakin bahwa ji-wi tentu telah memperhitungkannya secara masak dan tidak akan keliru mengambil keputusan. Oleh karena itulah teecu menerima dan mulai mencari sumoi."

Sepasang suami isteri itu mengangguk-angguk dan dapat menerima keterangan ini. Juga Bi Lian mengerti bahwa alasan suheng-nya itu memang tepat, akan tetapi tidak urung dia mencela.

"Suheng telah bersikap tidak wajar. Menerima secara membuta seperti itu sungguh bukan merupakan kebaktian yang benar. Kita harus mempertimbangkan baik-baik macam tugas yang diperintahkan, siapa pun yang menyuruh kita. Biar pun guru sendiri, atau orang tua sendiri, apa bila menyuruh kita melakukan hal yang berlawanan dengan suara hati, sudah sewajarnya jika ditolak. Mentaati karena ingin rnembalas budi itu namanya ketaatan yang ngawur dan nekat, dan yang akibatnya dapat membuat diri sendiri menyesal!"

Kembali suami isteri itu saling pandang. Puteri mereka itu ternyata sudah dewasa benar dan telah mempunyai kematangan pandangan, walau pun terlalu polos, terlalu jujur tanpa ditutup-tutupi sehingga mudah menyinggung perasaan orang dan terdengar kasar.

"Sekarang katakan, Han Siong. Setelah engkau bertemu dengan Sumoi-mu dan sesudah melihatnya, bicara bahkan bergaul dengannya, bagaimana pendapatmu? Mengaku saja terus terang, adakah cinta kasih di dalam hatimu terhadap anak kita Siangkoan Bi Lian?"

Mendengar pertanyaan ini kembali wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Dia memberi hormat sambil berlutut dan berkata lirih, "Duhai Suhu dan Subo, bagaimana teecu berani menjawab pertanyaan itu...?”

“Han Siong, tenangkan hatimu. Tadi Sumoi-mu menuntut agar kita semua bicara secara terbuka. Kalau dipikir, sikap ini memang benar. Segala macam persoalan bisa dipecahkan dengan cepat kalau kita bersikap terbuka. Jawablah sejujurnya, Han Siong."

"Suheng, apakah engkau bukan laki-laki yang jantan? Kita harus jujur, kepada diri sendiri, kepada orang lain! Manusia yang tidak memiliki kejujuran dan tidak berani mengakui apa yang berada di dalam hatinya, dia itu hanya seorang pengecut! Tapi aku yakin, suheng-ku yang gagah ini sama sekali bukan pengecut!"

Bukan main ucapan gadis itu. Lidahnya seperti pecut yang mencambuk-cambuk dengan tajamnya!

"Baiklah, Sumoi. Suhu dan Subo, kini teecu mengaku terus terang, begitu teecu bertemu dengan Sumoi, melihat wajahnya, berbicara dengannya, melihat sikapnya dan segalanya, teecu langsung jatuh cinta padanya!"

Suami isteri itu saling pandang dan tersenyum, akan. tetapi Bi Lian terbelalak keheranan memandang suheng-nya. "Waahhh! Benarkah itu, Suheng? Ataukah engkau hanya terikat oleh janji dan balas budi? Bagaimana mungkin begitu mendadak kau jatuh cinta, dan..... aku sama sekali tidak pernah melihat sikapmu yang mencinta itu, tidak pernah engkau mengatakan kepadaku bahwa engkau cinta padaku!"

"Mana aku berani, Sumoi?"

“Ahh, kenapa tidak berani? Dalam cinta mencinta, pertama-tama yang dibutuhkan adalah kejujuran pula!"

"Sudahlah, Bi Lian, kini suheng-mu sudah mengaku sejujurnya bahwa dia mencintamu. Sekarang, bagaimana dengan engkau? Setelah bertemu dan bergaul dengan suheng-mu, bagaimana pendapatmu? Tidakkah dia amat pantas menjadi calon suamimu? Katakanlah, apakah engkau dapat membalas cinta kasihnya?"

“Wah, aku masih bingung, Ibu. Aku memang suka sekali pada Suheng, suka dan kagum, dan terus terang saja, aku bangga mempunyai seorang Suheng seperti dia. Jarang pula ada pemuda sebaik Suheng! Akan tetapi cinta? Sama sekali hal itu tak pernah kupikirkan. Andai kata dia tidak memperkenalkan diri sebagai suheng-ku, mungkin saja hal itu akan kupikirkan karena selama ini aku pun belum pernah bergaul dengan seorang kawan pria seakrab dengan Suheng. Aku menganggap dia sebagai kakak, dan aku tidak tahu apakah aku dapat mencintanya sebagai seorang calon suami. Aku pun tidak yakin akan cintanya yang begitu tiba-tiba, apa lagi dilatar belakangi ketaatan serta hutang budi kepada Ayah dan Ibu!”

"Lalu bagaimana keputusanmu, Bi Lian? Maukah engkau menerima ikatan jodoh dengan suheng-mu?" tanya Siangkoan Ci Kang.

"Tidak, Ayah. Aku sama sekali belum memikirkan soal perjodohan."

"Bi Lian," kata ibunya. "Tahukah engkau berapa usiamu sekarang?"

"Kalau tidak salah dua puluh tuhun, ibu. Apa hubungannya usia dengan perjodohan?"

"Aihh, Bi Lian, usia dua puluh sudah terlalu terlambat bagi seorang gadis untuk berjodoh," kata ibunya.

Gadis itu tersenyum lebar. "Tidak, ibu. Bagiku perjodohan tidak ada hubungannya dengan usia. Yang ada hubungannya hanyalah cinta kasih. Dan terus terang saja, aku suka dan kagum kepada Suheng, akan tetapi aku tidak... atau belum mencintanya seperti seorang calon suami."

"Jadi jelasnya, engkau menolak, Bi Lian?" kata Siangkoan Ci Kang.

"Sebaiknya ikatan jodoh itu dibatalkan dahulu saja, Ayah. Jangan ada pengikatan. Kelak, bila aku yakin bahwa aku cinta kepada Suheng dan dia juga cinta kepadaku, mudah saja dilakukan ikatan kembali!"

"Bi Lian! Engkau mengecewakan hati ayah ibumu!" kata Siangkoan Ci Kang.

"Maafkan, Ayah dan Ibu. Apakah Ayah dan Ibu ingin memaksaku dan membikin hidupku selanjutnya kecewa dan merana? Senangkah Ayah dan Ibu jika aku menurut hanya untuk berbakti? Itu hanya akan menjadi pernikahan paksaan, Ayah dan Ibu. Suheng menikah karena ingin membalas budi, dan aku menikah hanya untuk berbakti. Pernikahan macam apa itu? Maukah Ayah dan Ibu begitu?"

Suami isteri itu saling pandang dan menghela napas panjang. Terus terang saja, mereka tidak menghendaki pernikahan anaknya seperti itu. "Lalu apa yang menjadi kehendakmu sekarang, Bi Lian? Apakah engkau sudah mempunyai seorang calon jodoh pilihan hatimu sendiri? Kalau benar demikian, katakanlah terus terang. Kami sudah ingin melihat engkau berumah tangga, mengingat usiamu sudah cukup dewasa," kata ibu gadis itu.

Sementara itu, sejak tadi Han Siong hanya menundukkan mukanya. Hatinya terasa perih dan perasaannya terpukul hebat oleh penolakan sumoi-nya. Dia dipaksa untuk berterus terang di hadapan suhu dan subo-nya, dan setelah dia berterus terang menyatakan cinta kasihnya dengan menekan rasa malunya, kini dengan terus terang pula Bi Lian menolak cintanya! Padahal dia sudah ditunangkan dengan sumoi-nya itu. Bagaimana pun juga dia adalah seorang laki-laki maka tentu saja dia merasa harga dirinya terbanting keras.

“Maaf, Suhu, Subo dan Sumoi. Teecu harap agar Suhu dan Subo tidak terlalu menekan Sumoi dan urusan perjodohan ini supaya dihabiskan sampai di sini saja. Sumoi memang benar. Perjodohan hanya dapat dilakukan kalau ada cinta kasih kedua pihak. Teecu yang tidak tahu diri, berani lancang mencinta Sumoi. Oleh karena itu, Suhu dan Subo, maafkan teecu dan sebaiknya jika Kwan-im Po-kiam ini teecu kembalikan kepada Suhu dan Subo, sebagai tanda bahwa tidak ada lagi ikatan perjodohan antara Sumoi dan teecu."

Dengan dua tangannya pemuda itu menyerahkan pedang pusaka itu kepada kedua orang gurunya. Siangkoan Ci Kang terpaksa menerima pedang itu dengan kedua tangan pula, menarik napas panjang lalu berkata kepada muridnya,

"Han Siong, engkaulah yang harus dapat memaafkan kami berdua. Mungkin kami terlalu terburu-buru mengikatkan tali perjodohan antara anak kami dan engkau, sama sekali tidak menyangka bahwa akan timbul penolakan dari pihak puteri kami. Engkau benar, memang sebaiknya kalau ikatan jodoh itu diputuskan. Apa bila Tuhan memang menghendaki kalian berjodoh, kelak tentu kalian akan dapat saling mencinta. Tetapi andai kata tidak, itu berarti bahwa memang Tuhan tidak menghendaki kalian menjadi suami isteri."

"Han Siong, keputusanmu ini bijaksana sekali dan engkau kembali sudah memperlihatkan kebaktianmu pada kami. Dengan kebijaksanaanmu ini maka engkau telah membebaskan guru-gurumu dari keadaan yang tidak enak. Terima kasih, muridku," kata subo-nya sambil tersenyum dengan hati terharu. Nyonya ini melihat betapa muridnya sangat budiman dan alangkah akan bahagia rasa hatinya kalau puterinya mau menjadi isteri Han Siong!

Bi Lian bertepuk tangan, wajahnya penuh senyum dan berseri gembira, kemudian dengan sikap manja dan lincah dia pun melangkah mendekati Han Siong lantas memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di dadanya.

"Bagus, bagus sekali! Aku pun sangat berterima kasih kepadamu, Suheng! Nah, kau lihat, keputusanmu ini membuat engkau menjadi pahlawan dalam keluarga kami! Ayah dan Ibu terbebas dari perasaan tidak enak dan aku pun merasa bebas dari ikatan kebaktian yang kulanggar. Kini aku bisa menghadapi dan memandangmu dengan wajar sebagai seorang sumoi terhadap suheng-nya yang baik hati! Terima kasih, Suheng."

Biar pun wajah pemuda itu tidak memperlihatkan sesuatu, namun sesungguhnya hatinya bagai diremas-remas. Dia tidak menyalahkan suhu dan subo-nya, juga tidak menyalahkan sumoi-nya, melainkan menyesali diri sendiri. Memang nasib dirinya yang selalu buruk dan sial, sejak dia dilahirkan.

Tapi betapa pun juga, dalam hal ini dia merasa bahwa dia yang bersalah karena lemah. Mengapa dia begitu mudah jatuh cinta? Andai kata dia tidak jatuh cinta kepada Bi Lian, maka pembatalan ikatan jodoh ini tentu tidak terlampau menyakitkan hatinya.

Cinta kita bergelimang nafsu, karena itu selalu mendatangkan suka duka, puas kecewa, nikmat sengsara. Cinta kita menimbulkan ikatan, menciptakan belenggu. Cinta kita mirip jual beli di pasar. Kita membeli dengan pengorbanan diri, kesetiaan, penyerahan, untuk memperoleh yang lebih menguntungkan dan lebih menyenangkan, yaitu pengorbanannya, kesetiaannya, penyerahan dirinya, serta kesenangan-kesenangan lain yang kita nikmati darinya. Kalau semua itu tidak terdapat oleh kita sebagai ‘imbalan’, maka cinta kita pun menguap ke udara dan tidak berbekas lagi, bahkan kadang kala berubah menjadi benci.

Cinta kita selalu menyembunyikan pamrih demi kesenangan diri sendiri. Adakah cinta tanpa pamrih? Adakah cinta yang tidak mengandung pengajaran kepentingan diri sendiri? Adakah cinta yang tidak menimbulkan ikatan, yang memberi kebebasan? Dapatkah kita manusia memiliki cinta kasih seperti itu?


Han Siong menderita akibat dari pada cinta seperti itu. Dia mencinta, tentu saja dengan pamrih agar yang dicintanya itu pun membalas cintanya, menjadi miliknya. Ketika ternyata bahwa gadis yang dicintanya itu tidak membalas cintanya dan tak mau menjadi miliknya, maka hatinya pun kecewa, malu dan timbullah duka.

"Sumoi, harap jangan terlampau memujiku. Aku telah membuat Suhu, Subo, dan Sumoi rmerasa tidak enak saja. Semua salahku sendiri karena sesungguhnya akulah yang tidak tahu diri."

"Han Siong, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Engkau hanya mentaati permintaan kami saja, dan kamilah yang sesungguhnya bersalah," kata Siangkoan Ci Kang.

"Jangan putus asa, Han Siong. Bagaimana pun juga Bi Lian hanya terkejut karena berita yang mendadak itu. Biarlah dia berpikir dan mempertimbangkan. Apa bila kalian memang berjodoh, kelak ikatan ini tentu akan dapat disambung kembali," kata Toan Hui Cu yang juga merasa kasihan sekali kepada murid tersayang itu.

"Sudahlah, Ayah dan Ibu, jangan mengulurkan harapan baru bagi Suheng agar kelak dia tidak akan menderita kekecewaan lagi. Suheng, kurasa sekarang ini belum waktunya bagi kita berdua untuk memikirkan soal perjodohan! Masih banyak tugas menunggu di depan. Lupakah Suheng akan nasib adik kandung Suheng itu? Apakah Suheng akan membiarkan saja si jahanam Ang-hong-cu itu?"

Mendengar ini Han Siong mengerutkan kedua alisnya, wajahnya berubah merah dan dia termenung. Terbayanglah segala peristiwa yang terjadi ketika dia bersama para pendekar lainnya menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo.

Di dalam perjuangan para pendekar ketika menghadapi para pemberontak yang dipimpin persekutuan itu, muncul seorang tokoh yang juga membantu gerakan para pendekar, tapi tokoh itu ternyata adalah seorang tokoh hitam yang namanya sudah amat terkenal, yaitu Ang-hong-cu, si Kumbang Merah yang senang menghisap kembang. Seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang terkenal suka memperkosa serta merayu banyak wanita. Celakanya, di antara banyak wanita yang diperkosanya itu termasuk pula Pek Eng, adik kandungnya!

Pek Eng diperkosa orang. Tadinya semua tuduhan ditimpakan kepada Tang Hay, seorang pendekar muda yang selain sakti, pandai ilmu silat, juga amat kuat ilmu sihirnya. Bahkan terjadi bentrok antara dia dan Tang Hay dan kesalah pahaman ini tentu akan berlarut-larut kalau saja kemudian tidak diketahui bahwa pemerkosa Pek Eng itu sama sekali bukanlah Tang Hay, melainkan Ang-hong-cu, penjahat cabul yang namanya sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu.

Akan tetapi dia tidak segera mencari penjahat itu untuk membalaskan penghinaan yang menimpa diri adik kandungnya, melainkan menyibukkan diri untuk mengantarkan sumoi-nya kepada suhu dan subo-nya, tentu saja dengan pamrih tersembunyi bahwa dia akan dijodohkan dengan gadis yang menarik hatinya itu. Wajahnya seketika berseri ketika dia diingatkan oleh sumoi-nya tentang hal itu, dan dadanya penuh dengan getaran semangat.

"Engkau benar sekali, Sumoi! Aku harus mencari manusia jahat itu supaya dia tidak dapat merajalela dan mendatangkan bencana bagi banyak orang yang tidak berdosa." Dia lalu berlutut memberi hormat kepada suhu dan subo-nya.

”Suhu dan Subo, sesudah teecu berhasil membawa pulang Sumoi dan mengantarkannya kepada Suhu dan Subo, maka selesailah tugas teecu dan teecu mohon diperkenankan untuk pergi, melaksanakan tugas lain, tugas keluarga teecu sendiri."

Suami isteri itu merasa tidak enak sekali terhadap murid mereka, namun kepergian murid mereka itu justru akan dapat menghilangkan rasa tidak enak itu, maka keduanya memberi persetujuan tanpa banyak cakap lagi. Pemuda itu berpamit, memberi hormat lantas pergi meninggalkan kedua gurunya dan juga sumoi-nya, gadis yang dicintanya.

Setelah pemuda itu pergi, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu mendengar lebih banyak dari puteri mereka tentang Ang-hong-cu Si Kumbang Merah, dan tentang adik kandung Han Siong yang menjadi salah satu di antara para wanita yang menjadi korban kejahatan jai-hwa-cat itu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner