SI BANGAU MERAH : JILID-02


"Teecu tidak dapat, Suhu. Sama sekali teecu tidak ingat lagi, karena ketika tangan teecu bergerak, teecu sama sekali tak memperhatikan dan tahu-tahu ular itu telah tertangkap oleh tangan teecu."

"Hemmm...!" Sin Hong mengamati wajah muridnya dengan pandangan mata tajam dan menyelidik. Namun muridnya itu tidak berbohong!

"Pernahkah engkau mengalami hal-hal sepertl itu? Ada gerakan yang tidak kau sadari dan yang membantumu?"

Di luar dugaan Sin Hong, anak itu mengangguk! Tentu saja Sin Hong menjadi tertarik sekali. "Ehhh? Apa saja? Coba kau ceritakan kepadaku, Yo Han."

"Sering kali teecu merasa terbimbing, tahu-tahu sudah bisa saja. Misalnya kalau teecu membaca kitab, menghafal dan sebagainya. Kalau teecu merasa kesukaran kemudian menghentikan semua usaha, bahkan tertidur, begitu bangun teecu sudah bisa! Padahal sebelumnya teecu mengalami kesulitan besar."

"Kau merasa seperti... seperti ada sesuatu yang membimbingmu, melindungimu?"

Ragu-ragu Yo Han mengangguk perlahan, alisnya berkerut karena dia sendiri tidak tahu dengan jelas. "Kurang lebih begitulah, Suhu. Teecu hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan."

Sin Hong mengerutkan alisnya, pikirannya diputar. Kalau anak ini memiliki sinkang, yaitu hawa murni yang membangkitkan tenaga sakti, dia tidak merasa heran karena tenaga sakti itu juga melindungi tubuh, walau pun perlindungan itu hanya dapat bangkit kalau dikehendaki. Tetapi tenaga mukjijat yang melindungi Yo Han ini lain lagi. Lebih dahsyat, lebih hebat karena bergerak atau bekerja justru kalau tidak ada kehendak!

Semacam nalurikah? Atau kekuasaan Tuhan yang ada pada setiap apa saja di dunia ini, terutama di dalam diri manusia, dan pada diri Yo Han kekuasaan itu bekerja dengan sepenuhnya? Dia tidak tahu, juga Yo Han tidak tahu! Bagaimana pun juga, dia tahu bahwa muridnya ini mendapatkan berkah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diam-diam dia memandang muridnya dengan hati penuh kagum dan juga segan.

Seorang manusia, meski pun masih bocah, yang telah menerima anugerah sedemikian besarnya dari Tuhan patut dikagumi dan disegani. Pantas saja kadang-kadang anak ini mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya terlampau tinggi bagi seorang kanak-kanak. Kiranya bila sedang demikian itu, yang bekerja di dalam dirinya bukan lagi hati dan akal pikirannya yang dikemudikan nafsu badan, melainkan badan, hati dan akal pikiran yang digerakkan oleh kekuasaan Tuhan!

Ada pula pikiran lain menyelinap dalam benak Sin Hong. Apakah bimbingan gaib yang dirasakan oleh Yo Han itu datang dari... roh ayah dan ibunya? Dia tak dapat menjawab. Apa pun dapat saja terjadi pada seorang anak yang telah bisa mencapai tingkat seperti itu, kebersihan batin dari kekerasan!

Sin Hong tidak mau mengganggu muridnya membentuk boneka yang sedang dibuatnya. Di sini pun dia dibuat tertegun. Pernah dia melihat ahli-ahli pembuat patung di kota raja, baik ahli-ahli memahat patung, maupun juga ahli pembuat patung dari tanah liat. Mereka adalah orang-orang yang sudah belajar kesenian itu selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan guru-guru yang ahli. Keahlian mereka setidaknya masih terpengaruh oleh ilmu pengetahuan, oleh latihan dan belajar.

Akan tetapi, Yo Han tidak pernah mempelajari seni membuat patung. Dan lihat! Jari-jari tangan itu demikian trampil, demikian cekatan dan pembentukan patung itu seolah-olah tanpa disengaja. Akan tetapi pada patung boneka tanah liat itu dia mulai melihat bentuk muka puterinya, Sian Li! Diam-diam dia bergidik. Bocah macam apakah muridnya ini? Sungguh tidak wajar, tidak umum! Dia pun meninggalkan muridnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada kagum, ada heran, ada pula ngeri!

Setibanya di rumah, dia menceritakan apa yang didengarnya dari jawaban Yo Han, juga tentang pembuatan patung boneka, kepada isterinya yang mendengarkan dengan alis berkerut. Akan tetapi Kao Hong Li diam saja, walau pun hatinya merasa gelisah pula. Gelisah mengingat akan puterinya, karena hubungan puterinya dengan Yo Han amat dekatnya. Puterinya amat sayang kepada Yo Han, dan ibu ini khawatir kalau-kalau kelak anaknya akan meniru segala kelakuan Yo Han yang aneh-aneh dan tidak wajar.

Ketika hari ulang tahun ke empat dari Tan Sian Li tiba, ulang tahun itu dirayakan dengan sederhana. Hanya keluarga dari empat orang itu, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, murid dan puteri mereka Yo Han dan Tan Sian Li, ditambah dengan tiga orang pembantu rumah tangga yang merayakan pesta kecil yang mereka adakan.

Pada waktu Yo Han menyerahkan hadiahnya yang dibungkus rapi, Tan Sian Li bersorak gembira. Apa lagi ketika bungkusan itu dibuka dan isinya sebuah patung tanah liat yang indah, anak kecil itu tertawa-tawa gembira. Ia tidak tahu betapa ayah ibunya, juga tiga orang pembantu rumah tangga itu, menjadi bengong melihat sebuah patung tanah liat yang berupa seorang anak perempuan kecil dengan wajah persis Tan Sian Li! Demikian halus buatan patung itu sehingga nampak seperti hidup saja!

Suami isteri itu saling pandang dan kembali Kao Hong Li merasa tak enak sekali. Makin jelas buktinya bahwa Yo Han bukan orang biasa, bukan anak biasa. Mana mungkin ada anak berusia dua belas tahun yang tidak pernah mempelajari seni membuat patung dapat membuat patung sedemikian indahnya, dan mirip sekali dengan wajah Sian Li? Diam-diam dia bergidik ngeri, seperti juga suaminya. Akan tetapi tiga orang pembantu rumah tangga itu memuji-muji penuh kagum.

Selain patung kanak-kanak itu, yang membuat Sian Li gembira sekali adalah pakaian yang dipakainya, hadiah dari ibunya. Pakaian berwarna serba merah! Dasarnya merah muda, kembang-kembangnya merah tua. Indah sekali. Memberi pakaian serba merah kepada anak yang dirayakan ulang tahunnya, merupakan hal yang wajar dan lajim.

Namun, tidak demikian halnya dengan Sian Li. Semenjak ia menerima hadiah pakaian serba merah itu, sejak dipakainya pakaian merah itu, ia tidak membiarkan lagi pakaian itu dilepas! Ia tidak mau memakai pakaian lain yang tidak berwarna merah! Dan ketika dipaksa, ia menangis terus, dan tangisnya baru terhenti jika Yo Han menggendongnya, akan tetapi ia masih merengek.

"Baju merah... huuu, baju merah...!"

Tan Sin Hong dan Kao Hong Li menjadi bingung. Anak mereka itu memang agak manja dan kalau sudah menangis sukar dihentikan, kecuali oleh Yo Han. Kini, biar pun tidak menangis setelah dipondong Yo Han, tetap saja merengek minta pakaian merah!

"Suhu dan Subo, kasihanilah Adik Sian Li. Beri ia pakaian merah, karena warna itulah yang menjadi warna pilihan dan kesukaannya. Dalam pakaian merah, baru akan merasa tenang, tenteram dan senang! Tadi ketika Subo memberinya pakaian serba merah, dan ketika ia memakainya, ia merasakan kesenangan yang luar biasa, maka kini ia tidak mau lagi diberi pakaian yang tidak berwarna merah."

Suami isteri itu saling pandang. Karena mereka tahu bahwa ucapan Yo Han itu bukan ucapan anak-anak begitu saja, mempunyai makna yang lebih mendalam, maka mereka lalu terpaksa membelikan pakaian-pakaian serba merah untuk Sian Li. Dan benar saja. Begitu ia memakai pakaian merah, ia nampak gembira dan bahagia sekali! Dan sejak hari itu, Sian Li tidak pernah lagi memakai pakaian yang tidak berwarna merah.....

********************

Malam itu kembali hujan lebat. Hawa udara amat dinginnya. Sian Li sudah tidur nyenyak dan suasana sunyi bukan main. Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, masih belum tidur. Lilin di atas meja di dalam kamar mereka masih menyala karena mereka masih bercakap-cakap. Hong Li duduk di atas pembaringan dan suaminya duduk di atas kursi dalam kamar itu.

Mereka biasanya bersikap hati-hati, apa lagi malam itu mereka membicarakan tentang murid mereka, Yo Han. Akan tetapi, karena murid mereka sudah masuk kamar, biar pun andai kata belum pulas juga tidak mungkin dapat mendengarkan percakapan mereka. Hujan di luar kamar amat derasnya. Takkan ada orang lain yang dapat mendengarkan percakapan mereka dari luar kamar.

"Bagaimana pun juga, aku merasa tidak enak sekali," kata Hong Li setelah beberapa lamanya mereka berdiam diri. "Sian Li begitu dekat dengannya. Sulit untuk mencegah anak kita itu tidak mengikuti jejak Yo Han. Tidak mungkin pula kita menjauhkan anak kita dari Yo Han karena Sian Li sudah menjadi manja sekali dan paling suka kalau bermain-main dengan Yo Han. Bagaimana jadinya kalau anak kita itu kelak tidak mau belajar ilmu silat, dan mengikuti jejak Yo Han menjadi anak... aneh, anak ajaib tidak seperti manusia! Ih, aku merasa ngeri membayangkan anak kita kelak menjadi seperti Yo Han!"

"Hemm, tentu saja aku pun menginginkan anak kita menjadi seorang manusia biasa, dan terutama menjadi seorang pendekar wanita seperti engkau, ibunya. Akan tetapi bagaimana caranya untuk menjauhkannya dari Yo Han?" kata Sin Hong.

"Tidak ada cara lain kecuali memisahkan mereka!” kata Hong Li.

“Memisahkan?" Sin Hong berkata dengan suara mengandung kekagetan. "Akan tetapi, bagaimana? Yo Han adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga lagi, dan dia juga murid kita!"

“Soalnya hanya ini. Kita lebih sayang Sian Li ataukah lebih sayang Yo Han. Keduanya memang kita sayang, akan tetapi mana yang lebih berat bagi kita?"

Sin Hong menarik napas panjang. Isterinya mengajukan pertanyaan yang jawabannya hanya satu. "Tentu saja kita lebih memberatkan Sian Li. Bagaimana pun juga, ia adalah anak kita, darah daging kita. Akan tetapi aku pun tidak ingin melihat Yo Han terlantar, aku tidak mau menyia-nyiakan anak yang tidak mempunyai kesalahan apa pun itu."

"Tentu saja! Kita bukannya orang-orang jahat dan kejam yang demi kepentingan anak sendiri lalu membikin sengsara orang lain. Sama sekali tidak. Maksudku, bagaimana jika kita mencarikan tempat baru untuk Yo Han? Memberi dia kesempatan untuk mendapat guru yang baru, atau melihat bakatnya, bagaimana kalau kita menitipkan dia di kuil, di mana terdapat orang-orang pandai dan saleh? Tentu saja kita dapat membayar biaya pendidikannya setiap bulan atau setiap tahun."

Sin Hong mengangguk-angguk. Dia pun tahu bahwa isterinya cukup bijaksana. Isterinya adalah seorang pendekar wanita tulen, cucu dari Naga Sakti Gurun Pasir! Ayahnya putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan ibunya cucu Pendekar Super Sakti! Ia pun setuju dengan usul isterinya itu.

Memang, jalan terbaik ialah memisahkan Yo Han dari Sian Li, dan cara pemisahan yang sebaiknya adalah menyingkirkan Yo Han dari rumah mereka dengan memberi jaminan terhadap kehidupan Yo Han selanjutnya. Paling baik jika dititipkan di kuil agar dia dapat belajar lebih lanjut. Siapa tahu dibawah pimpinan para pendeta kuil, ketidak wajarannya itu akan berubah dan Yo Han akan menjadi seorang anak yang biasa. Kalau sudah begitu tentu tidak ada halangannya bagi Yo Han untuk kembali kepada mereka.

"Ahhh, aku teringat sekarang! Bagaimana kalau kita minta tolong kepada Thian Sun Totiang?" dia berkata.

"Maksudmu, kepala kuil di lereng Pegunungan Heng-san itu? Bukankah Thian Sun Tosu itu seorang tokoh Kun-lun-pai?" kata Hong Li mengingat-ingat.

"Benar sekali. Selain ilmu silatnya tinggi juga beliau adalah seorang pendeta yang hidup saleh. Tentu dia dapat membimbing Yo Han dalam ilmu kerohanian. Juga beliau adalah sahabatku. Tentu saja kita dapat memberi sumbangan untuk kuilnya sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan untuk keperluan Yo Han."

"Bagus, aku pun setuju sekali!" kata Hong Li. Keduanya merasa lega dengan keputusan itu dan Sin Hong meniup padam lilln di atas meja, tanda bahwa keduanya akan tidur.

Di dalam hujan yang lebat, dalam udara yang amat dingin itu. Yo Han keluar dari dalam kamarnya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia keluar dari dalam kamarnya. Akan tetapi dia tidak peduli dan hanya menyerah kepada dorongan yang membuat kakinya berjalan keluar dari dalam kamar, keluar melalui pintu belakang ke dalam hujan! Tentu saja rambut dan pakaiannya basah kuyup, namun dia tidak peduli karena kakinya terus melangkah. Bahkan hawa dingin itu tidak dirasakannya sama sekali, kalau pun ada perasaan di tubuhnya, maka yang ada bahkan perasaan sejuk segar dan nikmat!

Seperti dituntun, kedua kakinya menuju ke jendela kamar suhu-nya! Jejak kakinya tentu akan terdengar oleh suhu dan subo-nya kalau saja malam itu tidak ada hujan. Suara hujan jatuh ke atas genteng dan tanah, juga ke atas daun-daun pohon, jauh lebih berisik dari pada jejak kakinya, maka walau pun andai kata suami isteri pendekar itu memiliki ketajaman pendengaran sepuluh kali lipat, belum tentu akan mampu mengetahui bahwa ada orang melangkah di luar jendela kamar mereka.

Yo Han mendengar semua percakapan mengenai dirinya itu! Ia memejamkan matanya, dan setelah lilin dalam kamar itu tertiup padam, dia pun kembali ke kamarnya dengan tubuh terasa lemas. Dia mendengar percakapan suhu dan subo-nya. Dia tidak sengaja ingin mendengarkan percakapan mereka.

Entah bagaimana kedua kakinya bergerak membawa dia ke dalam hujan dan mendekati kamar mereka sehingga dia mendengar percakapan mereka. Suhu dan subo-nya tidak menghendaki dia untuk tinggal lebih lama di rumah mereka! Mereka ingin memisahkan dia dari Sian Li! Dia akan dititipkan di sebuah kuil!

Setelah memasuki kamarnya, dia duduk di atas kursi bagaikan patung. Pakaian dan rambutnya yang basah kuyup tidak dipedulikannya. Dia merasa sedih bukan main. Dia harus meninggalkan mereka yang dia kasihi. Harus meninggalkan Sian Li!

Tanpa terasa, dua titik air mata turun ke atas pipinya, mencair dan menjadi satu dengan kebasahan air hujan. Tidak, dia tidak boleh menangis! Menangis tiada gunanya, bahkan hanya membuat hatinya menjadi semakin sedih! Pada waktu mendengar kematian ayah bundanya dulu, lima tahun yang lalu, dia pun mengeraskan hatinya, tidak membiarkan diri menangis berlarut-larut.

Pada keesokan harinya, dengan muka agak pucat dan rambut agak kusut, pagi-pagi sekali Yo Han sudah memondong Sian Li yang sudah dimandikan ibunya.

"Subo, teecu hendak mengajak adik Sian Li bermain di kebun," kata Yo Han kepada subo-nya yang sudah keluar dari dalam kamar bersama suhu-nya.

Kedua orang suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa tidak tega untuk sepagi itu menyatakan keinginan mereka menitipkan Yo Han ke kuil. Biarkan anak itu bermain-main dulu dengan Sian Li.

"Ajaklah ia bermain-main, akan tetapi nanti kalau waktu sarapan pagi, ajak ia pulang," kata Hong Li dan Sin Hong mengangguk setuju.

“Baik, Subo,” kata Yo Han.

Dia menurunkan Sian Li, menggandeng tangan anak itu dan keduanya lalu berlari-lari meninggalkan rumah, menuju ke belakang rumah. Melihat betapa gembiranya Sian Li diajak bermain-main oleh Yo Han, suami isteri itu saling pandang lagi dan keduanya menghela napas panjang. Mereka maklum betapa mereka semua, terutama sekali Sian Li, akan merasa kehilangan Yo Han kalau anak itu pergi meninggalkan rumah mereka. Akan tetapi apa boleh buat. Demi kebaikan Sian Li, mereka harus melegakan hati, Yo Han harus dipisahkan dari anak mereka!

Biasanya, pagi-pagi sekali Yo Han sudah rajin bekerja. Bekerja pagi-pagi saat matahari belum terbit menjadi kesukaannya. Bekerja apa saja, menyapu halaman, membersihkan jendela-jendela rumah dari luar. Bekerja apa saja asal berada di luar rumah karena yang dinikmatinya bukan hanya pekerjaan itu, melainkan terutama sekali adalah suasana di pagi hari.

Baginya pagi hari merupakan saat yang paling indah. Munculnya matahari seolah-olah membangkitkan semangat, gairah dan tenaga kepada segala makluk di permukaan bumi. Akan tetapi, pagi hari itu dia ingin sekali mengajak Sian Li bermain-main. Dia sudah mengambil keputusan untuk pergi, seperti yang dikehendaki suhu dan subo-nya. Dia mengerti betapa beratnya bagi mereka untuk menyuruh dia pergi. Maka dia harus membantu mereka. Dialah yang akan berpamit sehingga tak memberatkan hati mereka.

Pula, dia tidak mau kalau dititipkan di kuil mana pun juga. Kalau dia harus berpisah dari suhu dan subo-nya, juga dari Sian Li yang dikasihinya, lebih baik dia berkelana dengan bebas dari pada harus berdiam di dalam kuil seperti seekor burung dalam sangkar. Dan sebelum pergi, dia ingin sekali mengajak Sian Li bermain-main, ingin menyenangkan hati adiknya itu untuk yang terakhir kalinya.

Dia mengajak Sian Li ke tepi sungai, tempat yang paling disenanginya karena tempat itu memang indah sekali. Sunyi dan tenang. Mendengarkan burung berkicau dan air sungai berdendang dengan riak kecil, sungguh amat merdu dan menyejukkan hati. Duduk di atas rumput di tepi sungai, menatap langit yang sangat indah, langit di timur yang mulai kemerahan, serta mutiara-mutiara embun di setiap ujung daun. Tak dapat digambarkan indahnya.

Dia duduk dan memangku Sian Li yang memandang ke arah air di sungai dengan wajah berseri. Dia menunduk, mencium kepala anak itu. Betapa dia amat menyayang adiknya. Dicium kepalanya, Sian Li memandang dan merangkulkan kedua lengannya yang kecil di leher Yo Han. Semenjak kecil ia diajar menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Yo Han. Melihat kakaknya itu memandang kepadanya dengan sepasang mata penuh kasih sayang, anak itu tersenyum.

“Aku sayang suheng...,” katanya lucu.

Yo Han mencium pipinya. “Aku pun sayang kepadamu, adikku...”

Hatinya terharu sekali karena dia dapat merasakan kasih sayang di antara mereka yang menggetarkan hatinya. Dia harus berpisah dari anak ini! Bahkan karena adiknya inilah dia harus meninggalkan rumah suhu-nya! Suhu dan subo-nya tidak ingin kelak Sian Li mencontoh sikap dan wataknya! Begitu burukkah sikap dan wataknya?

Dia mengerti bahwa guru dan subo-nya amat kecewa karena dia tidak suka berlatih silat. Dan membayangkan betapa adik yang bersih ini kelak menjadi seorang gadis yang perkasa, seperti ibunya dulu, hidupnya penuh bahaya dan acaman musuh, hidup selalu waspada, membunuh atau dibunuh, ingin dia menangis.

Adiknya ini akan menjadi pembunuh! Akan memenggal leher orang dengan pedangnya, atau menusukkan pedang menembus dada dan jantung orang. Atau sebaliknya, disiksa dan dibunuh orang!

“Ihhh, Suheng... menangis?” anak itu memandang ketika dua titik air mata turun ke atas pipi kakaknya, dan tangannya menyentuh air mata di pipi itu sehingga runtuh. Sentuhan lembut yang menggetarkan hati Yo Han.

“Sian Li...” Dia merangkul, menyembunyikan mukanya di atas kepala anak itu.

“Suheng, Ayah dan Ibu melarang kita menangis...,” kata anak itu lagi. “Apakah Suheng menangis?” Suaranya masih belum jelas dan terdengar lucu, tapi justru mengharukan sekali.

Yo Han mengeraskan hatinya dan diam-diam dia mengusap air matanya, kemudian dia membiarkan adiknya dapat memandang mukanya yang tadi disembunyikan di rambut kepala Sian Li. Dia menggeleng.

“Aku tidak menangis, sayang.”

Anak itu tertawa dan alangkah manis dan lucunya kalau ia tertawa.

“Hore… Suheng tidak menangis. Suheng gagah perkasa!”

Yo Han merasa jantungnya seperti ditusuk. Anak sekecil ini sudah menghargai kegagah perkasaan! Anak sekecil ini telah menjadi calon pendekar wanita, seorang calon hamba kekerasan! Sudah terbayang olehnya kelak Sian Li menjadi seorang gadis yang selalu membawa pedang di belakang punggungnya.

Ia cepat dapat menguasai kesedihan dan keharuannya, dan teringat bahwa ia mengajak adiknya pagi ini ke tepi sungai untuk bermain-main dan menyenangkan hati adiknya.

“Sian Li, sekarang katakan, engkau ingin apa? Katakan apa yang kau inginkan dan aku pasti akan mengambilnya untukmu. Katakan, adikku sayang.” Yo Han membelai rambut kepala adiknya.

Sian Li berloncatan girang dan bertepuk tangan.

“Betul, Suheng? Engkau mau mengambilkan yang kuingini? Aku ingin itu, Suheng...” Ia menunjuk ke arah pohon yang tumbuh dekat situ.

“Itu apa?” Yo Han memandang ke arah pohon itu. Pohon itu tidak berbunga. Apa yang diminta oleh Sian Li? Daun?

“Itu yang merah ekornya...”

“Hee? Merah ekornya? Apa...?”

“Burung itu, Suheng. Cepat, nanti dia terbang lagi. Aku ingin memiliki burung itu...”

Yo Han menggaruk-garuk kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa menangkap burung yang berada di pohon? Sebelum ditangkap, burung itu akan terbang.

“Aku tidak bisa, Sian Li. Burung itu punya sayap, pandai terbang, sedangkan aku... lihat, aku tak bersayap!” Yo Han melucu sambil berdiri dan mengembangkan dua lengannya, seperti hendak terbang.

“Uhhh! Kalau Ayah atau Ibu, mudah saja menangkap burung di pohon. Suheng kan muridnya, masa tidak bisa?”

Yo Han merangkul adiknya. “Sian Li, terang saja aku tidak bisa, dan juga, untuk apa burung ditangkap? Biarkan dia terbang bebas. Kasihan kalau ditangkap lalu dimasukkan sangkar. Itu menyiksa namanya, kejam. Kita tidak boleh menyiksa mahluk lain, adikku sayang...”

“Uuuuh... Suheng...! Kalau begitu, ambilkan saja itu yang mudah. Itu tuh, yang kuning dan biru...”

Yo Han mengerutkan alisnya melihat adiknya menunjuk ke arah serumpun bunga yang berwarna merah. Yang diminta, yang berwarna kuning dan biru. Itu bukan warna bunga, tetapi warna beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan di sekeliling rumpun bunga itu. Adiknya minta dia menangkapkan seekor kupu kuning dan seekor kupu biru!

Memang mudah, akan tetapi dia pun tidak suka melakukan itu. Dia tidak suka menyiksa manusia mau pun binatang, apa lagi kupu-kupu, binatang yang demikian indah dan tak pernah melakukan kesalahan apa pun. Akan tetapi, untuk menolak lagi permintaan Sian Li, dia pun tidak tega. Maka dia pun pura-pura mengejar kupu-kupu yang beterbangan dengan panik, pura-pura mencoba untuk menangkap dengan kedua tangannya namun tidak berhasil, dan sebagai gantinya, dia memetik beberapa tangkai bunga merah dan memberikan itu kepada adiknya.

“Wah, kupu-kupunya terbang. Ini saja gantinya, Sian Li. Kembang ini indah sekali. Kalau dipasang di rambutmu, engkau akan bertambah manis.”

“Tidak mau...! Aku tidak mau kembang. Aku ingin burung dan kupu-kupu. Aihh... Suheng nakal. Aku mau kupu-kupu dan burung...” Sian Li lalu membanting-banting kaki dengan manja dan mulai menangis.

Yo Han menjatuhkan diri berlutut dan merangkul adiknya. “Dengarlah baik-baik, adikku sayang. Apakah engkau mau dikurung dalam kurungan, dan apakah engkau mau kalau kaki tanganmu dibuntungi?”

Mendengar ini, Sian Li terheran. Dengan pipi basah air mata ia memandang kakaknya, tidak mengerti.

“Kau tentu tidak mau bukan?”

Sian Li menggelengkan kepala, masih terheran-heran kenapa kakaknya yang biasanya sangat sayang kepadanya dan memanjakannya, kini hendak mengurung dan bahkan membuntungi kaki tangannya!

“Bagus kalau engkau tidak mau! Nah, sama saja, adikku sayang. Engkau tidak mau ditangkap dan dikurung, burung itu pun akan susah sekali kalau kau tangkap dan kau masukkan sangkar, dikurung dan tidak boleh terbang bermain-main dengan teman-temannya. Engkau tidak mau dibuntungi kaki tanganmu, juga kupu-kupu itu tidak suka dan merasa kesakitan dan susah kalau sayapnya dipatahkan, kakinya dibuntungi. Kita tidak boleh menyiksa binatang yang tidak bersalah apa-apa, adikku sayang. Kubikinkan boneka tanah liat saja, ya?”

Akan tetapi Sian Li yang manja masih membanting-banting kaki dan mulutnya cemberut, walau pun tidak menangis lagi. “Suheng, katanya engkau mau... mau memenuhi semua permintaanku, ternyata semua permintaanku kau tolak...”

Pada saat itulah nampak berkelebat bayangan merah, dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang wanita yang pakaiannya serba merah! Pakaian berwarna merah ini segera menarik perhatian Yo Han karena adiknya pun sejak hari ulang tahun ke empat itu setiap hari juga memakai pakaian merah! Jadi di situ sekarang berada seorang anak perempuan empat tahun yang pakaiannya serba merah, beserta seorang wanita cantik yang juga pakaiannya berwarna merah. Yo Han memandang penuh perhatian.

Ia seorang wanita yang berwajah cantik. Tubuhnya tinggi semampai, dengan pinggang yang kecil dan pinggul besar seperti tubuh seekor kumbang. Usianya kurang lebih tiga puluh tahun kalau melihat wajah dan bentuk badannya, pada hal sesungguhnya dia sudah berusia empat puluh tahun!

Wajahnya bundar dan putih dilapisi bedak, pemerah bibir dan pipi, juga penghitam alis. Rambutnya digelung ke atas model gelung para puteri bangsawan. Pakaiannya yang serba merah itu terbuat dari sutera yang mahal dan halus dan selain pesolek, wanita itu pun rapi dan bersih, bahkan sepatunya yang terbuat dari kulit merah itu pun mengkilap. Di punggungnya nampak sebatang pedang dengan sarung berukir indah dengan ronce-ronce biru yang menyolok karena warna pakaiannya yang merah.

“Heii, anak baju merah, engkau manis sekali!” Wanita itu berseru dan suaranya merdu. “Engkau minta burung dan kupu-kupu? Mudah sekali, aku akan menangkapkan burung dan kupu-kupu untukmu. Lihat!”

Wanita itu melihat ke atas. Ada beberapa ekor burung terbang meninggalkan pohon besar dan ada yang lewat di atas kepalanya. Wanita itu menggerakkan tangan kiri ke arah burung yang terbang lewat, seperti menggapai dan... burung itu mengeluarkan teriakan lalu jatuh seperti sebuah batu ke bawah, disambut oleh tangan kiri wanita itu.

“Nah, ini burung yang kau inginkan, bukan?” Ia memberikan burung berekor merah yang kecil itu kepada Sian Li yang menerimanya dengan gembira sekali.

Yo Han mengerutkan alisnya ketika mendekat dan ikut melihat burung kecil yang berada di tangan adiknya. Kini burung itu tidak dapat terbang lagi, dan ketika mencoba untuk menggerak-gerakkan kedua sayap kecilnya, kedua sayap itu seperti lumpuh dan ada sedikit darah. Tahulah dia bahwa sayap burung itu terluka entah oleh apa.

Kini dia menoleh dan melihat wanita itu menggerakkan kedua tangannya ke arah dua ekor kupu-kupu yang beterbangan. Ada angin menyambar dari kedua telapak tangan itu dan dua ekor kupu-kupu itu bagai disedot dan ditangkap oleh dua tangan itu, kemudian diberikan pula kepada Sian Li.

“Nah, ini dua ekor kupu-kupu yang kau inginkan, bukan?”

Sian Li girang sekali. “Kupu-kupu indah! Burung cantik...!” Ia sudah sibuk dengan seekor burung dan dua ekor kupu-kupu yang dipegangnya.

“Adik Sian Li, mari kita pergi dari sini!” kata Yo Han tak senang.

Dia hendak menggandeng lengan adiknya. Akan tetapi, mendadak tubuh Sian Li seperti terbang ke atas dan tahu-tahu sudah berada di dalam pondongan wanita itu. Sian Li terpekik gembira ketika tubuhnya melayang ke atas.

“Suheng, aku dapat terbang...!” teriaknya gembira.

Wanita berpakaian merah itu tersenyum dan wajahnya nampak semakin muda ketika ia tersenyum. “Ya, engkau ikut saja dengan aku, anak manis, dan aku akan mengajarmu terbang, juga menangkap banyak burung dan kupu-kupu. Engkau suka, bukan?”

“Aku suka! Aku senang...!”

“Sian Li, turun dan mari kita pulang,” Yo Han berkata lagi.

“Tidak, aku ingin ikut bibi ini, menangkap burung dan kupu-kupu, juga belajar terbang!”

“Sian Li...”

Wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Anak yang baik, jadi namamu Sian Li (Dewi)? Nah, mari kita terbang seperti bidadari-bidadari baju merah, hi-hi-hik!”

Yang nampak oleh Yo Han hanyalah bayangan merah berkelebat, dan yang tertinggal hanya suara ketawa merdu wanita itu yang bergema dan kemudian lenyap pula. Wanita berpakaian merah itu bersama Sian Li telah lenyap dari depannya, seolah-olah mereka benar-benar telah terbang melayang, atau menghilang dengan amat cepatnya.

“Sian Li...! Bibi baju merah, kembalikan Sian Li kepadaku!”

Yo Han berlari ke sana-sini, berteriak-teriak, akan tetapi adiknya tetap tak kembali, juga wanita yang melarikannya itu tak kembali. Terpaksa Yo Han lalu cepat berlari kencang, sekuat tenaga, pulang ke rumah gurunya.

Sin Hong dan Hong Li terkejut melihat murid mereka itu berlari-lari pulang tanpa Sian Li dan dari wajahnya, nampak betapa murid mereka itu dalam keadaan amat tegang dan napasnya terengah-engah karena dia telah berlari-lari secepatnya.

“Yo Han, ada apakah?” Sin Hong menagur muridnya.

“Yo Han, di mana Sian Li?” Hong Li bertanya dengan mata dibuka lebar, mata seorang ibu yang gelisah mengkhawatirkan anaknya.

“Suhu, Subo... adik Sian Li... ia dilarikan seorang wanita berpakaian merah...,” kata Yo Han dengan napas masih terengah-engah.

Suami isteri itu sekali bergerak sudah meloncat dan memegang lengan Yo Han dari kanan kiri.

“Apa? Apa yang terjadi? Ceritakan, cepat!” bentak Sin Hong.

“Teecu sedang bermain-main dengan adik Sian Li di tepi sungai ketika tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian merah. Ia menangkapkan burung dan kupu-kupu untuk Sian Li, kemudian ia memondong adik Sian Li dan menghilang begitu saja.”

“Seperti apa wajah wanita itu? Berapa usianya?” tanya Hong Li, wajahnya berubah dan matanya menyinarkan kemarahan.

“Ia berusia kurang lebih tiga puluh tahun, Subo. Semua pakaiannya berwarna merah, sampai sepatunya. Wajahnya cantik pesolek, di punggungnya nampak pedang dengan ronce biru...”

“Ke mana larinya?” tanya Sin Hong.

“Teecu tidak tahu, Suhu. Setelah memondong adik Sian Li, dia lalu menghilang begitu saja, teecu tidak tahu ke arah mana dia lari...”

“Inilah jadinya kalau punya murid tolol!” Tiba-tiba Hong Li berteriak marah. “Lima tahun menjadi murid, sedikit pun tidak ada gunanya. Kalau engkau berlatih silat dengan baik, sedikitnya engkau tentu akan dapat melindungi Sian Li dan anakku tidak diculik orang. Anak bodoh, sombong...!”

”Suhu dan Subo, teecu pasti bertanggung jawab! Teecu akan mencari adik Sian Li dan membawanya pulang. Teecu tidak akan kembali sebelum berhasil menemukan dan membawa pulang adik Sian Li!” Yo Han berseru, menahan air matanya dan mengepal kedua tangannya.

Akan tetapi Sin Hong sudah berseru kepada isterinya, “Tidak perlu ribut, mari kita cepat pergi mengejar penculik itu!” Seruan ini disusul berkelebatnya dua orang suami isteri pendekar itu dan dalam sekejap mata saja mereka lenyap dari depan Yo Han.

Yo Han tertegun sejenak, kemudian sambil menahan isaknya, dia pun lari keluar dari rumah. Dia tidak tahu harus mengejar ke mana, akan tetapi dia tidak peduli dan dia membiarkan kedua kakinya yang berlari cepat itu membawa dirinya pergi keluar kota Ta-tung, entah ke mana!

Sin Hong dan Hong Li berlari cepat menuju ke tepi sungai, kemudian mereka mencari-cari, menyusuri sungai. Namun, usaha mereka tak berhasil. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak! Tentu saja mereka merasa gelisah sekali.

“Bocah sial itu harus diajak ke sini agar dia menunjukkan ke mana larinya penculik itu dan di mana peristiwa itu terjadi. Kau mencari dulu di sini, aku mau mengajak Yo Han ke sini!” kata Hong Li dan ia pun sudah meninggalkan suaminya, pulang ke rumah untuk mengajak Yo Han ke tepi sungai.

Akan tetapi setelah tiba di rumah, ia tidak lagi melihat Yo Han! Dicari dan dipanggilnya murid itu, namun Yo Han tidak ada dan nyonya muda ini pun teringat akan teriakan Yo Han yang akan bertanggung jawab dan akan mencari Sian Li sampai dapat! Terpaksa Hong Li kembali lagi ke tepi sungai.

“Dia... dia tidak ada di rumah...!” katanya.

Sin Hong mengangguk-angguk. “Sudah kuduga. Tentu dia sudah pergi untuk memenuhi janjinya tadi. Dan dia pasti tidak akan pernah datang kembali sebelum menemukan dan mengajak Sian Li pulang.”

“Uhh, dia mau bisa apa?” Hong Li berseru, marah dan gelisah. “Bagaimana dia akan mampu mengejar penculik yang berilmu tinggi, apa lagi merampas kembali anak kita?” Wanita itu mengeluh dan hampir menangis. “Sian Li... ahhh, di mana kau...?”

“Mari kita cari lagi!” kata Sin Hong, tidak mau membiarkan isterinya dilanda kegelisahan dan kedukaan.

Mereka lalu mencari-cari di sekitar daerah itu, mencari jejak, namun sia-sia belaka. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak dan semua orang yang mereka jumpai dan mereka tanyai, tidak ada seorang pun yang melihat anak mereka atau wanita berpakaian serba merah seperti yang diceritakan Yo Han tadi.

Setelah hari larut malam mereka terpaksa pulang. Sampai di rumah Hong Li menangis, dan suaminya hanya dapat menghiburnya.

“Tenangkan hatimu. Kurasa penculik itu tidak berniat mengganggu anak kita. Kalau wanita penculik itu musuh kita dan ingin membalas dendam, tentu ia sudah membunuh anak kita di waktu itu juga. Akan tetapi, ia membawanya pergi dan menurut keterangan Yo Han, ia bahkan bersikap baik, menangkapkan burung dan kupu-kupu untuk Sian Li.”

Dihibur demikian, Hong Li menyusut air matanya dan memandang kepada suaminya. “Kau kira siapakah wanita berpakaian merah itu?”

Sin Hong menggeleng kepalanya. “Sudah kupikirkan dan kuingat-ingat, tetapi rasanya belum pernah aku mempunyai musuh seorang wanita berpakaian serba merah. Apa lagi usianya baru sekitar tiga puluh tahun. Engkau tahu sendiri, tokoh wanita sesat di dunia kang-ouw yang pernah menjadi musuhku, bahkan yang tewas di tanganku, hanyalah Sin-kiam Mo-li. Tentu ia seorang tokoh baru dalam dunia kang-ouw, bahkan kita tidak tahu apakah dia termasuk tokoh sesat ataukah seorang pendekar yang merasa suka kepada anak kita.”

“Tak mungkin seorang pendekar wanita menculik anak orang!” Hong Li berkata. “Hemm, terkutuk orang itu. Kalau sampai kutemukan dia, akan kuhancurkan kepalanya! Ehhh, jangan-jangan bekas isterimu yang melakukan itu...“

Sin Hong memandang isterinya. Dia tahu bahwa pertanyaan itu bukan terdorong oleh cemburu, tetapi oleh kegelisahan yang membuat jalan pikiran isterinya menjadi kacau. Dia menikah dengan Hong Li sebagai seorang duda, akan tetapi juga Hong Li seorang janda. Mereka telah mengetahui keadaan masing-masing, dan mereka pun sudah saling menceritakan riwayat mereka dan nasib buruk mereka dalam pernikahan pertama itu.

“Tidak mungkin Bhe Siang Cun yang melakukannya,” kata Sin Hong sambil menggeleng kepala. “Usianya sekarang baru kurang lebih dua puluh empat tahun, dan juga ia tidak berpakaian merah. Pula, ia tidak akan berani melakukan hal itu. Ia bukan penjahat dan tidak ada alasan baginya untuk mengganggu kita. Tidak, dugaan itu menyimpang jauh. Coba kau ingat baik-baik, mungkin pernah engkau dahulu bermusuhan dengan seorang tokoh sesat yang berpakaian merah?”

Hong Li mengingat-ingat. Bekas suaminya jelas tak dapat dicurigai. Bekas suaminya itu, Thio Hui Kong, adalah putera seorang jaksa yang adil dan jujur. Juga tiada alasan bagi Thio Hui Kong untuk mengganggunya. Mereka telah bercerai.

Tokoh jahat berpakaian merah? Rasanya ia belum pernah menemui wanita berpakaian merah dalam semua pengalamannya ketika masih sebagai seorang pendekar wanita. Pakaian merah?

Tiba-tiba ia meloncat berdiri. “Ahh...!” Ia teringat.

“Engkau ingat sesuatu?” Suaminya bertanya.

“Memang ada tokoh sesat berpakaian merah, akan tetapi bukan wanita. Kau ingat Ang-I Mo-pang (Perkumpulan Iblis Baju Merah)? Tokoh yang terakhir, Ang-I Siauw-mo (Iblis Kecil Baju Merah) tewas di tanganku!”

Sin Hong mengerutkan alisnya. “Hemmm... Ang-I Mo-pang? Bukankah dulu sarangnya berada di luar kota Kunming, di Propinsi Hu-nan? Tapi, Ang-I Mo-pang sudah hancur dan rasanya tidak ada tokohnya yang wanita dan yang lihai...”

“Betapa pun juga, itu sudah merupakan suatu petunjuk. Dari pada kita meraba-raba di dalam gelap. Aku akan pergi ke Kunming, menyelidiki mereka. Siapa tahu penculik itu datang dari sana. Ang-I Mo-pang memang beralasan cukup kuat untuk memusuhiku dan mendendam kepadaku. Aku akan berangkat besok pagi-pagi!”

“Nanti dulu, Li-moi. Jangan tergesa-gesa. Kemungkinannya kecil saja, walau pun aku juga setuju kalau kita menyelidik ke sana. Akan tetapi kita tunggu dulu beberapa hari. Kita menanti kembalinya Yo Han. Siapa tahu dia berhasil...“

“Bocah sombong itu? Mana mungkin? Kalau kita berdua tidak berhasil, bagaimana anak tolol itu akan berhasil? Dialah biang keladinya sehingga anak kita diculik orang!”

“Li-moi, tenanglah dan di mana kebijaksanaanmu? Bagaimana pun juga, kita tidak dapat menyalahkan Yo Han. Andai kata dia telah menguasai ilmu silat, kepandaiannya itu pun belum matang. Apa artinya seorang anak berusia dua belas tahun menghadapi seorang penculik yang lihai? Andai kata Yo Han pernah latihan ilmu silat, tetap saja dia tidak akan mampu melindungi Sian Li.”

“Akan tetapi, apa perlunya kita menunggu beberapa hari? Dia tidak akan berhasil, dan penculik itu akan semakin jauh...”

“Kita lihat saja, Li-moi. Lupakah engkau betapa banyak hal-hal aneh dilakukan Yo Han? Kita tunggu sampai tiga hari. Kalau dia belum pulang maka kita akan segera berangkat ke Kunming, menyelidiki ke sana. Bahkan kalau di sana pun kita gagal, kita terus akan melakukan pelacakan. Akan kutanyakan pada semua tokoh kang-ouw tentang seorang wanita yang berpakaian merah seperti yang digambarkan Yo Han tadi.”

Akhirnya, dengan air mata berlinang di kedua matanya, Hong Li menyetujui keinginan suaminya. Akan tetapi, jelas bahwa semalaman itu mereka tidak mampu tidur pulas.....

********************

“Tidak mau! Aku ingin pulang... aku ingin Ayah dan Ibu, aku ingin pulang...!” Anak itu merengek-rengek dan suara rengekannya keluar dari dalam kuil tua di lereng bukit yang sunyi itu.

Wanita berpakaian merah itu mengelus kepala Sian Li. “Sian Li, engkau bidadari kecil berpakaian merah yang manis, tidak patut kalau engkau menangis...”

“Aku tidak menangis!” Anak itu membantah. Dan memang tidak ada air mata keluar dari matanya. Ia hanya merengek, membanting kaki dan cemberut. “Aku ingin pulang, aku ingin tidur di kamarku sendiri, tidak di tempat jelek ini. Baunya tidak enak!”

“Bukankah engkau senang ikut denganku, Sian Li? Tadi engkau gembira sekali! Kenapa sekarang minta pulang?” Wanita itu mencoba untuk membujuk.

“Aku ingin ikut sebentar saja, bukan sampai malam. Aku ingin dekat Ayah dan Ibu. Mari antarkan aku pulang, Bibi.”

“Hemm, baiklah. Nanti kuantar, sini duduk di pangkuan Bibi, sayang. Engkau anak baik, engkau anak manis, engkau bidadari kecil merah...“

Ketika wanita itu meraih Sian Li dan dipangkunya, jari tangannya menekan tengkuk dan anak itu pun terkulai, seketika pingsan atau tertidur. Wanita itu lalu merebahkan Sian Li di atas lantai yang bertilamkan daun-daun kering dan memandang wajah anak itu yang tertimpa sinar api unggun yang dibuatnya. Dia pun tersenyum.

“Anak manis... ahh, pantas sekali menjadi anakku atau muridku... aku berbahagia sekali mendapatkanmu, sayang...”

Siapakah wanita berpakaian merah ini? Di daerah Propinsi Hu-nan, namanya sudah dikenal oleh seluruh dunia kang-ouw, terutama golongan sesatnya. Selama beberapa tahun ini, ia merupakan seorang tokoh kang-ouw yang baru muncul, namun namanya segera tersohor karena kelihaiannya.

Orang-orang di dunia persilatan mengenal nama julukannya saja, yaitu Ang-I Moli (Iblis Wanita Baju Merah). Namanya yang tak pernah dikenal orang adalah Tee Kui Cu dan ia tidaklah semuda nampaknya. Usianya sudah empat puluh tahun!

Ia memang cantik manis, ditambah pesolek dengan riasan muka yang tebal, maka ia nampak berusia tiga puluh tahun. Wajahnya selalu putih karena bedak, bibir dan pipinya merah karena yan-ci, dan alis mata, juga bulu mata, hitam karena penghitam rambut.

Dugaan Kao Hong Li tentang Ang-I Mo-pang yang hanya merupakan dugaan raba-raba itu memang tepat. Ada hubungan dekat sekali antara Ang-I Moli Tee Kui Cu dengan Ang-I Mo-pang, perkumpulan yang pernah dibasmi oleh Kao Hong Li dan para pendekar itu. Wanita berpakaian serba merah ini adalah adik dari mendiang Tee Kok, yang dulu pernah menjadi ketua Ang-I Mo-pang.

Ketika Ang-I Mo-pang terbasmi oleh para pendekar, Tee Kui Cu dapat lolos dan ia pun mencari guru-guru yang pandai. Ia berhasil menyusup dan menjadi tokoh Pek-lian-kauw di mana ia mempelajari banyak macam ilmu silat, ilmu tentang racun dan obat, juga mempelajari ilmu sihir yang dikuasai oleh para tokoh Pek-lian-kauw. Setelah merasa dirinya memperoleh ilmu yang cukup tinggi, ia meninggalkan Pek-lian-kauw dan ia pun kembali ke Kunming, mengumpulkan para bekas anggota Ang-I Mo-pang yang masih hidup, Ia lalu membangun tempat perkumpulan itu, dia mengangkat diri sendiri menjadi ketua!

Demikianlah riwayat singkat Ang-I Moli Tee Kui Cu. Ia terkenal sebagai seorang ketua yang pandai menyenangkan hati para anak buahnya, memimpin kurang lebih lima puluh orang anggota Ang-I Mo-pang, dan hidup sebagai seorang ketua yang kaya.

Dia pun gemar sekali merantau, meninggalkan perkumpulan dalam pengurusan para pembantunya, dan ia sendiri berkelana sampai jauh, bukan hanya mencari pengalaman, melainkan juga untuk bertualang, mencari harta, mencari pria karena dia merupakan seorang wanita yang selalu haus oleh nafsu-nafsunya.

Dan pada pagi hari itu, tanpa disengaja dia melihat Sian Li. Melihat anak perempuan berusia empat tahun yang mungil dan manis itu, dan terutama sekali melihat anak itu mengenakan pakaian serba merah, yaitu warna kesukaannya dan bahkan warna yang menjadi lambang dari perkumpulannya, hatinya tertarik dan suka sekali. Ia lalu menculik Sian Li dengan niat mengambil anak perempuan itu sebagai anaknya, sekaligus juga muridnya.

Dengan sikap menyayang ia mengeluarkan selimut dan menyelimuti tubuh Sian Li yang sudah pulas atau pingsan oleh tekanan jarinya, pada jalan darah di tengkuk anak itu. Kemudian ia menambahkan kayu bakar pada api unggun yang dibuatnya di dalam kuil tua kosong itu, api unggun yang perlu sekali untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Mendadak, pendengarannya yang tajam terlatih menangkap sesuatu. Ia pun melompat bangun. Sebagai seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, ia tabah sekali dan tidak tergesa mengeluarkan pedangnya sebelum diketahui benar siapa yang datang memasuki kuil pada waktu itu.

Sesosok bayangan muncul, memasuki ruang kuil di mana Ang-I Moli berada. Bayangan itu tidak berindap-indap, melainkan langsung saja melangkah dengan langkah kaki berat menghampiri ruangan. Ketika bayangan itu muncul, ternyata dia adalah Yo Han yang memasuki ruangan dengan langkah gontai agak terhuyung karena kelelahan!

“Ahh, kiranya engkau...!” Ang-I Moli berkata dengan hati lega.

Akan tetapi ia juga memandang heran. Bagaimana anak laki-laki ini bisa menyusulnya? Bagaimana dapat membayanginya dan tahu bahwa ia berada di kuil tua itu? Hayo.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner