SI BANGAU MERAH : JILID-16


“Akan tetapi, kami sangat membutuhkan bantuan Jiwi. Permainan ini terlalu berbahaya. Keselamatan nyawa para pangeran terancam dan menurut keterangan Jiwi sendiri tadi, Ang-I Moli yang akan bertindak sebagai kepala pelayan itu yang akan meracuni cawan arak para pangeran. Oleh karena itu, sebaiknya kalau Jiwi yang membantu kami untuk melindungi para pangeran dan mencegah perbuatan Ang-I Moli itu. Demi kepentingan negara, kami mohon Jiwi tidak menolak dan jangan kepalang membantu kami dalam menyelamatkan para pangeran dan mencegah terjadinya perbuatan yang amat keji dan jahat.”

Suami isteri itu saling pandang. Memang tidak semestinya kalau mereka membantu setengah-setengah. Apa lagi mereka tahu bahwa bantuan mereka bukan berarti mereka berpihak kepada Kerajaan Mancu semata, tetapi terutama sekali menentang golongan sesat yang hendak melakukan kejahatan besar.

“Baiklah, Tai-ciangkun,” kata Sin Hong dan isterinya juga mengangguk setuju. “Kami akan membantumu, akan tetapi karena kami datang ke kota Heng-tai bersama puteri kami yang sekarang masih berada di kamar rumah penginapan itu, maka kami akan menjemputnya lebih dahulu dan kalau kami membantu Ciangkun, kami ingin menitipkan anak kami di rumah Ciangkun agar keselamatannya terjamin.”

“Ah, kenapa tidak Jiwi bawa sekalian sejak tadi? Baiklah, saya tunggu kedatangan Jiwi bersama puteri Jiwi.”

Sin Hong dan Hong Li segera berpamit untuk kembali ke Heng-tai yang jauhnya belasan li dari benteng pasukan di mana Liu Ciangkun tinggal di gedungnya itu. Panglima itu lalu mengantar mereka sampai di pintu gerbang dan ketika melihat betapa panglima itu amat menghormati mereka, para prajurit penjaga juga memberi hormat secara militer seolah suami isteri itu merupakan dua orang yang berpangkat tinggi.

Malam telah berganti pagi ketika Sin Hong dan Hong Li tiba kembali di kota Heng-tai. Mereka langsung saja menuju ke rumah penginapan yang kini nampak sudah sunyi walau pun masih ada prajurit pengawal yang menjaga. Agaknya rapat itu sudah selesai dan kini para tokoh sesat itu entah bersembunyi di mana.

Sin Hong dan Hong Li segera menyelinap dan bersembunyi ketika tiba di belakang hotel itu dan dapat melihat kesibukan di antara para prajurit pengawal. Kiranya Ouw Ciangkun sudah bersiap-siap meninggalkan rumah penginapan itu.

Ketika Sin Hong dan Hong Li kembali ke kamar mereka, suami isteri ini mendapatkan pintu kamar itu tidak terkunci. Mereka mendorong daun pintu kamar terbuka dan tidak melihat puteri mereka di dalam kamar! Mereka mencari-cari di sekitar kamar, namun tak nampak bayangan Sian Li! Mulailah mereka merasa khawatir, apa lagi ketika mereka meneliti tempat tidur anak itu dan mendapat kenyataan bahwa tempat tidur itu masih rapi, tidak ada bekas ditiduri anak mereka.

Mereka cepat-cepat memanggil pelayan yang kemarin memberi kamar kepada mereka. Dengan sinar mata penuh ancaman, Hong Li mendorong pelayan itu masuk kamar dan mencengkeram pundaknya.

“Hayo katakan di mana anak perempuan kami!”

Pelayan itu meringis kesakitan dan kedua lututnya menggigil. “Saya... saya tidak tahu..., apa... apa yang telah terjadi maka Jiwi marah kepada saya?”

“Malam tadi kami meninggalkan anak kami seorang diri di kamar ini, tetapi sekarang ia tidak ada. Apakah engkau melihatnya semalam? Hayo katakan, kalau engkau tidak mau mengaku atau berbohong, kami akan membunuhmu!” Sin Hong yang biasanya tenang dan lembut itu, kini terpaksa menghardik dan mengancam karena dia pun mulai gelisah sekali.

“Sungguh mati Taihiap dan Lihiap, sungguh mati saya tidak tahu. Semalam kami semua sibuk sekali melayani semua perintah Ouw Ciangkun sehingga kami sama sekali tidak sempat mengurus hal-hal lainnya. Kami semua tidak pernah melihat puteri Jiwi... tidak nampak Siocia keluar kamar. Sungguh mati saya tidak tahu...”

Suami isteri itu saling pandang.

“Sudahlah,” akhirnya Sin Hong berkata. “Kalau engkau benar tidak tahu, tidak mengapa dan pergilah. Akan tetapi awas, kalau engkau berbohong, kelak masih belum terlambat bagi kami untuk menghukummu!”

“Terima kasih, Taihiap, terima kasih, Lihiap... nanti kalau saya melihat atau mendengar tentang Siocia, tentu akan segera saya laporkan kepada Jiwi...”

Hong Li mengangguk dan pelayan yang sudah menggigil ketakutan dengan muka pucat itu, kini bagaikan seekor tikus yang baru saja lolos dari cengkeraman kucing, dia berlari keluar.

“Heran, ke mana Sian Li pergi?” Sin Hong berkata lirih.

“Tentu ada hal yang tidak beres! Akan kuserbu saja ke dalam dan akan paksa mereka mengaku di mana anak kita!” kata Hong Li.

Akan tetapi Sin Hong memegang lengannya. “Sssttt, perlahan dulu. Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan. Kita berhadapan dengan perwira yang mempunyai pasukan! Tidak bisa kita menuduh mereka begitu saja tanpa bukti. Sebaiknya kita mengamati kepergian mereka. Kalau jelas Sian Li berada dengan mereka, baru kita turun tangan menyelamatkan puteri kita. Kalau tidak ada, kita harus mencari jalan lain.”

Hong Li menurut, akan tetapi ia nampak agak pucat dan gelisah. “Kalau Ang-I Moli yang melakukan penculikan terhadap Sian Li, kali ini aku akan mengadu nyawa dengannya!”

“Yang penting, kita harus dapat menemukan dulu di mana adanya Sian Li, dan melihat anak kita itu dalam keadaan selamat,” kata Sin Hong.

“Tidak ada kemungkinan lainnya,” berkata Hong Li. “Lenyapnya anak kita itu pasti ada hubungannya dengan komplotan pemberontak yang semalam mengadakan rapat di sini. Tentu orang-orang Pek-lian-kauw, Thian-li-pang dan para pemberontak itu yang harus bertanggung jawab.”

“Karena itu, kita amati saja mereka. Dan kita pun akan menghadapi mereka di istana. Di sana kita lebih banyak mendapat kesempatan untuk menangkap Ang-I Moli, kemudian memaksanya mengaku untuk mengembalikan anak kita.”

Setelah mencari-cari tanpa hasil, kemudian mengintai keberangkatan Ouw Ciangkun dan pasukannya dan tidak melihat adanya Sian Li di sana bersama pasukan itu, juga mereka berdua tidak melihat adanya Ang-I Moli beserta para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, terpaksa, meski dengan hati berat, Sin Hong dan Hong Li segera berlari ke benteng Liu Tai-ciangkun.

Panglima itu terkejut bukan main mendengar bahwa puteri sepasang pendekar itu telah lenyap dari kamar rumah penginapan. “Jangan khawatir, Taihiap dan Lihiap, kami akan menyebar penyelidik untuk mencari keterangan tentang puteri Jiwi (Kalian) itu.”

Dan seketika itu juga panglima Liu menyebar anak buahnya yang ahli untuk melakukan penyelidikan ke kota Heng-tai dan sekitarnya, mencari jejak nona Tan Sian Li, gadis cilik berusia dua belas tahun itu.

Ada pun suami isteri itu sendiri oleh Liu Tai-ciangkun kemudian diselundupkan ke dalam istana. Mereka menyamar sebagai pengawal-pengawal yang tergabung dalam pasukan pengawal istana bagian luar.

Dengan memegang tanda perintah khusus dari Liu Tai-ciangkun dan seorang perwira pasukan pengawal yang menjadi sahabat panglima itu, Sin Hong serta Hong Li dapat bergerak bebas dalam istana itu tanpa dicurigai orang. Tetapi, sepasang suami isteri ini hanya menyembunyikan diri sambil menanti datangnya saat yang ditentukan, yaitu pada malam bulan purnama di taman besar, di mana Siang Hong-houw hendak mengadakan pesta ulang tahunnya, dan dihadiri oleh semua pangeran.....

********************

Penanggalan Imlek dibuat menurut peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh karena itu, setiap tanggal lima belas dapat dipastikan bahwa bulan purnama sebulat-bulatnya dan seterang-terangnya.

Malam itu bulan purnama amat cerahnya karena di langit tidak ada awan menghalang. Dan kemulusan bulan ini menambah meriahnya pesta di taman istana yang amat indah. Lampu-lampu gantung beraneka bentuk dan warna menambah indah suasana, seolah-olah menggantikan bintang-bintang yang tidak nampak di langit karena sinarnya ditelan cahaya bulan purnama. Bunga-bunga di taman itu sedang mekar semerbak, menambah keindahan malam itu.

Siang Hong-houw sudah berusia empat puluh tahun lebih. Akan tetapi, permaisuri ini masih nampak anggun dan jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya. Sanggulnya tinggi dan dihias emas permata, pakaiannya juga gemerlapan dan semua itu ditambah kecantikannya dan senyumnya yang tidak pernah meninggalkan bibirnya, membuat dia nampak cantik jelita dan menarik sekali. Para pangeran yang hadir adalah putera-putera tirinya, dan semua pangeran menyayang Siang Hong-houw yang selalu bersikap manis terhadap mereka.

Pesta berjalan dengan meriah. Delapan orang pangeran dan enam belas orang puteri hadir. Mereka semua adalah saudara-saudara seayah berlainan ibu. Kaisar sendiri tidak hadir, juga tidak ada selir lainnya yang hadir. Hal ini memang dikehendaki Siang Hong-houw yang ingin berpesta dengan anak-anak tirinya saja untuk menghibur hatinya.

Untuk membuat pesta bertambah meriah, serombongan besar pemusik, penyanyi dan penari menyajikan hiburan-hiburan yang bermutu. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Hong dan Hong Li, tentu saja atas usaha Liu Tai-ciangkun, untuk berbaur dengan rombongan seniman dan seniwati itu agar mereka dapat hadir lebih dekat dengan para pangeran. Kalau mereka menyamar menjadi pengawal, maka kehadiran mereka tentu dalam jarak yang jauh dan sukar bagi mereka untuk melindungi para pangeran.

Taman itu sendiri dijaga oleh tiga puluh lebih orang pengawal yang merupakan pasukan istimewa dan yang dipimpin oleh Ouw-ciangkun.

Biar pun mereka berada di antara para seniman, Sin Hong dan Hong Li selalu waspada mengamati keadaan di sekeliling. Terutama sekali mereka memperhatikan para prajurit yang berjaga di situ karena mereka tahu bahwa di antara para prajurit itu tentu terdapat para tokoh sesat yang menyelundup. Mereka melihat betapa Ouw-ciangkun sendiri turun tangan melakukan perondaan di dalam taman itu, seakan-akan hendak menjaga dan melindungi semua orang yang sedang berpesta di dalam taman.

Tempat pesta itu sendiri berada di tengah taman, di mana terdapat sebuah kolam ikan yang dikelilingi petak rumput yang luas. Di atas petak rumput inilah dipasangi kursi-kursi dan meja yang mengelilingi kolam ikan. Suasana sungguh meriah dan gembira, walau pun yang sedang berpesta tidak terlalu banyak.

Ketika Sin Hong dan Hong Li melayangkan pandang mata mereka ke arah mereka yang sedang berpesta, kedua orang suami isteri ini terkejut bukan main. Terkejut, heran dan juga amat girang karena mereka melihat seorang kakek yang gagah, yang mereka kenal karena kakek itu bukan lain adalah Suma Ciang Bun!

Dan di dekat kakek itu duduk seorang wanita setengah tua yang nampak asing, namun wanita ini masih nampak cantik dan juga sikapnya gagah sekali. Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal wanita itu, akan tetapi kehadiran Suma Ciang Bun di tempat itu sungguh membuat mereka heran akan tetapi juga girang.

Bagaimana Suma Ciang Bun dapat berada di taman itu dan menjadi seorang di antara mereka yang ikut berpesta? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun dan nenek Gangga Dewi melakukan perjalanan bersama untuk mencari Yo Han yang diculik Ang-I Moli. Mereka terus membayangi Ang-I Moli selama bertahun-tahun, namun akhirnya mereka kehilangan jejak iblis betina itu.

Setelah mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka berdua terpaksa menghentikan usaha mereka mencari Yo Han. Mereka telah bergaul dengan akrab dan mudah bagi mereka untuk menyadari bahwa api yang puluhan tahun lalu membakar hati mereka ternyata masih belum padam. Mereka masih saling mencinta!

Dan pada suatu hari yang baik, Gangga Dewi yang lebih tegas dan berani dibandingkan Suma Ciang Bun, menyatakan perasaannya itu kepada Suma Ciang Bun. Pendekar ini menyambutnya dengan terharu dan gembira sampai tak tertahan lagi Suma Ciang Bun menangis!

Akhirnya, Suma Ciang Bun mengajak Gangga Dewi untuk berkunjung ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang sahabatnya, seorang pendeta Agama To. Tosu itulah yang mengatur upacara pernikahan antara Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, tanpa dihadiri seorang pun tamu, hanya disaksikan oleh delapan orang tosu lainnya. Namun, secara hukum agama pernikahan itu sudah sah dan sejak saat itu, Suma Ciang Bun hidup bersama Gangga Dewi sebagai suami isteri!

Dalam perjalanan mereka melakukan perantauan, keduanya hidup dengan rukun saling mencinta dan saling menghormat. Dalam banyak hal, Gangga Dewi bersikap kejantanan dan menjadi pemimpin, sedangkan Suma Ciang Bun lebih kewanitaan dan lebih banyak menyetujui apa yang diputuskan oleh isterinya.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi mengunjungi keluarga pendekar itu. Mereka sudah berkunjung ke rumah Kao Cin Liong dan Suma Hui kakak perempuannya, juga sudah mengunjungi rumah Suma Ceng Liong. Dua orang saudaranya ini menerima mereka dengan gembira sekali. Mereka itu semua menyatakan perasaan sukur bahwa akhirnya Suma Ciang Bun menemukan jodohnya, walau pun sudah agak terlambat. Apa lagi yang dipilihnya adalah bekas kekasihnya dahulu, dan puteri dari mendiang Wan Tek Hoat pula. Masih ada hubungan yang tidak jauh!

Demikianlah, pada saat mereka berdua merantau sampai ke kota raja, Gangga Dewi teringat kepada Siang Hong-houw yang sudah dikenalnya sebelum menjadi selir Kaisar, ketika masih tinggal di barat dahulu. Karena pengawal istana melaporkan kepada Siang Hong-houw bahwa ada seorang wanita yang bernama Gangga Dewi dari Bhutan datang berkunjung bersama suaminya, permaisuri itu menjadi gembira bukan main. Cepat dia menyambut dan ketika bertemu, kedua orang wanita itu saling rangkul dengan akrab sekali.

Demikian girangnya hati Siang Hong-houw bisa bertemu dengan sahabat lamanya yang mendatangkan kenangan lama sebelum dia menjadi selir Kaisar, sehingga dia menahan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun supaya tinggal di istana sebagai tamunya, tamu kehormatan dan agar dapat turut menghadiri pesta ulang tahunnya yang diadakan pada tanggal lima belas.

Gangga Dewi yang berpengalaman itu dapat melihat betapa sesungguhnya sahabatnya itu menderita tekanan batin walau pun hidup di dalam gemerlapnya kemewahan dan kemuliaan, maka ia merasa amat kasihan kepada sahabatnya itu. Dibandingkan dengan sahabatnya yang hidup sebagai seorang permaisuri yang mulia, ia merasa berbahagia sekali dan merasa jauh lebih beruntung biar pun ia bersama suaminya hidup sederhana, bahkan selama ini hidup sebagai perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Oleh karena itu, ia membujuk suaminya untuk memenuhi permintaan Siang Hong-houw dan tinggal di istana sampai tiba saatnya pesta ulang tahun itu.

Ketika akhirnya pesta pada malam hari itu tiba, diam-diam mereka pun merasa heran mengapa Siang Hong-houw merayakan ulang tahunnya secara demikian sederhana, tidak dihadiri Kaisar, tidak pula dihadiri oleh para selir lain atau pejabat tinggi, melainkan dihadiri oleh semua pangeran dan puteri, anak-anak tiri Siang Hong-houw.

Suma Ciang Bun sama sekali tidak pernah menduga bahwa di antara para seniman dan seniwati yang menghibur di pesta itu, terdapat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li! Tentu saja Suma Ciang Bun tidak mengenal kedua orang itu karena Sin Hong dan Hong Li mengenakan bedak yang tebal dan mengubah corak wajah mereka.

Sementara itu Ang-I Moli berpakaian sebagai pelayan kepala. Dia pun memakai riasan penyamaran supaya jangan dikenal orang. Ketika Ouw Ciangkun menyarankan kepada Siang Hong-houw agar Ang-I Moli bisa diterima sebagai kepala pelayan, dengan alasan bahwa keamanan di situ harus dijaga ketat, Siang Hong-houw yang tidak menyangka buruk menerimanya begitu saja. Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Ang-I Moli ketika ia mengenal Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Sungguh tidak dinyana sama sekali bahwa dua orang yang amat lihai itu berada pula di situ sebagai tamu! Tentu saja Ang-I Moli menjadi bingung. Apakah artinya itu? Apakah Siang Hong-houw sudah menduga akan sesuatu dan sengaja mendatangkan dua orang lihai itu untuk menjamin keamanan di situ?

Beberapa kali Ang-I Moli mencari-cari Ouw Ciangkun dengan pandang matanya. Akan tetapi ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk berunding dengan perwira itu. Munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi demikian mendadak dan tidak tersangka-sangka sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk berunding dengan sekutunya lagi. Bagaimana pun juga, rencana semula harus dilanjutkan!

Ang-I Moli sama sekali tidak tahu bahwa kejutan baginya bukan hanya munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Ia tidak tahu bahwa di antara para seniman itu terdapat pula dua orang yang ditakutinya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li. Ia tidak dapat mengenal mereka, akan tetapi suami isteri itu dapat segera mengenalnya.

Hal ini bukan karena penyamarannya kurang baik. Sama sekali tidak. Andai kata suami isteri itu belum tahu bahwa dia akan menyamar sebagai kepala pelayan dan bertugas memberi racun pada cawan arak para pangeran, agaknya belum tentu suami isteri pendekar itu akan mengenalnya.

Akan tetapi, di luar tahunya, Sin Hong dan Hong Li segera dapat mengenali kepala pelayan setengah tua yang cantik dan lembut itu, dan mereka sudah siap siaga dan mengamati gerak-gerik Ang-I Moli dengan seksama. Suami isteri pendekar ini maklum bahwa pada saat itu, Liu Tai-ciangkun tentu juga sudah mengerahkan pasukan untuk mengepung taman itu dan memblokir semua jalan keluar dari dalam istana.

Sejak tadi, nampak Ang-I Moli mengatur para pelayan, gadis-gadis manis yang cekatan, untuk mengeluarkan hidangan dan keadaan berjalan lancar tanpa ada sesuatu hal yang mencurigakan. Kemudian, tibalah saat menegangkan yang dinanti-nanti oleh Sin Hong dan Hong Li.

Permaisuri itu memberi isyarat pada pelayan pribadinya yang datang membawa sebuah guci arak yang bentuknya asing dan indah, yang terbuat dari emas murni. Dengan sikap lembut dan ramah, Siang Hong-houw mengangkat guci itu ke atas, memperlihatkannya kepada anak-anak tirinya, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, kemudian berkata,

“Aku masih menyimpan seguci anggur buatan bangsaku Uighur yang amat baik, sudah puluhan tahun umurnya. Selain amat manis dan lezat, juga kasiatnya dapat membuat badan sehat dan semangat tinggi.”

Para pangeran bersorak gembira, sedangkan para puteri tersenyum-senyum. Gangga Dewi menyentuh lengan suaminya. “Anggur Uighur yang sudah puluhan tahun umurnya memang amat hebat.”

Ang-I Moli menghampiri Siang Hong-houw, kemudian dia berkata dengan penuh hormat dan halus, “Perkenankan hamba sendiri yang mewakili Paduka menuangkan anggur ke dalam cawan para tamu yang mulia.”

Oleh karena sejak pertama kali Ang-I Moli bersikap halus, ramah dan sopan sehingga menyenangkan hati Siang Hong-houw, maka dia pun mengangguk dan menyerahkan guci anggur itu kepada kepala pelayan baru yang cekatan itu.

Ang-I Moli dengan sikapnya yang menarik dan lembut, segera menuangkan anggur dari guci itu ke dalam cawan di depan Siang Hong-houw, kemudian ke dalam cawan arak di depan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun yang sama sekali tidak mencurigai sesuatu. Kemudian, dengan teliti dan tahu peraturan, kepala pelayan itu menuangkan anggur ke dalam cawan para pangeran, mulai dari yang paling tua sampai yang paling muda, baru menuangkan anggur ke dalam cawan para puteri.

Semua hal itu dilakukan dengan tepat dan cermat, tidak ada setetes pun anggur yang menetes keluar sehingga semua orang merasa senang. Juga tidak ada yang menduga bahwa ketika menuangkan anggur untuk para pangeran, kecuali untuk Pangeran Kian Ban Kok, kuku jari telunjuk kiri wanita itu sempat menjentik keluar bubuk racun yang sebelumnya sudah dipersiapkan, menempel di ujung lengan baju sehingga di setiap cawan arak itu terpecik bubuk racun halus yang tidak kelihatan orang lain.

Sin Hong dan Hong Li sendiri akan sukar dapat mengetahui gerakan ini, akan tetapi sebelumnya mereka sudah tahu, tentu saja perhatian mereka tercurah ke arah tangan wanita itu dan mereka tahu bahwa bubuk racun telah disebar dan dibagi. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sendiri, yang lihai dan berpengalaman, tidak tahu akan hal itu karena mereka tidak menyangka buruk.

Ketika semua cawan telah terisi dan Siang Hong-houw mendahului mengangkat cawan dan mempersilakan semua orang minum, dan semua orang telah mengangkat cawan masing-masing dengan wajah amat gembira penuh senyum, tiba-tiba terdengar seruan nyaring.

“Tahan semua cawan! Harap Paduka sekalian jangan minum anggur itu!”

Tentu saja semua orang, termasuk Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, terkejut dan heran mendengar teriakan itu dan semua orang memandang ketika Kao Hong Li keluar dari rombongan seniman seniwati yang sejak tadi menghibur para tamu dengan musik, nyanyian dan tarian mereka.

Karena tidak ingin gagal, Hong Li cepat menyambung teriakannya tadi sambil memberi hormat kepada semua orang yang merupakan keluarga agung Kaisar. “Harap Paduka semua jangan minum anggur itu karena semua cawan sudah diracuni, kecuali cawan para puteri dan Pangeran Kian Ban Kok. Semua cawan pangeran lain telah diracuni dan siapa yang minum anggur itu akan tewas!”

Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ini dan otomatis semua orang meletakkan cawan masing-masing di atas meja dan memandang cawan itu dengan hati ngeri.

Melihat ini, Pangeran Kian Ban Kok bangkit berdiri dengan muka merah karena marah. Tadi wanita itu mengatakan bahwa semua pangeran diberi racun, kecuali dia. Ini sama saja dengan menuduh bahwa kalau benar ada yang meracuni para pangeran, maka pelaku itu bersekongkol dengan dia karena dia sendiri tidak diracuni.

“Perempuan rendah! Engkau hanya seorang wanita penghibur! Sungguh lancang sekali mulutmu menuduh Ibu Permaisuri hendak meracuni para pangeran! Engkau berbohong dan akan kubuktikan.”

Pangeran Kian Ban Kok yang sungguh tidak tahu bahwa diam-diam dia dipilih oleh para pemberontak untuk menjadi pangeran tunggal karena ibunya ialah seorang wanita Han, cepat menyambar cawan anggur di depan pangeran yang duduk di sebelah kanannya, kemudian sekali tuang, isi cawan itu memasuki tenggorokannya.

“Nah, aku sudah minum dari cawan seorang pangeran lain! Apa engkau masih berani mengatakan bahwa cawan semua pangeran, kecuali aku, sudah diberi racun?!” bentak Pangeran Kian Ban Kok.

Akan tetapi semua orang terbelalak memandang pangeran ini karena melihat betapa wajah pangeran ini berubah kehijauan, lalu menghitam dan tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking dan terjungkal roboh. Dia tewas seketika! Terdengar jeritan-jeritan para puteri dan teriakan para pangeran yang menjadi panik.

Melihat keadaan yang kacau ini, Ang-I Moli terkejut bukan main. Ia lantas tahu bahwa rahasianya diketahui wanita anggota rombongan pemusik itu dan akibatnya sungguh hebat. Pangeran Kian Ban Kok yang seharusnya menjadi satu-satunya pangeran yang tidak terbunuh, kini malah keracunan dan tewas. Maklum bahwa keadaannya di situ berbahaya, ia pun menjadi bingung.

Tiba-tiba terdengar bunyi suitan. Itu merupakan tanda dan teringatlah Ang-I Moli bahwa menurut rencana mereka, kalau sampai usaha mereka meracuni para pangeran itu gagal, maka jalan satu-satunya hanyalah mempergunakan kekerasan membunuhi para pangeran! Maka, tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan ia sudah memegang pedang yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya.

Akan tetapi, tiba-tiba wanita anggota pemusik yang tadi berteriak, sudah meloncat ke depannya dan wanita itu berseru, “Ang-I Moli, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!”

Wanita itu sudah menggosok mukanya yang tertutup bedak tebal, kemudian menoleh ke arah Suma Ciang Bun dan berteriak, “Paman Suma Ciang Bun, aku Kao Hong Li. Cepat lindungi para pangeran! Ada komplotan pombunuh!”

Pada saat itu pula, Ang-I Moli yang terkejut ketika mendengar pengakuan Kao Hong Li, telah menyerangnya dengan tusukan pedang. Tapi Kao Hong Li sudah cepat mengelak dan membalas dengan tamparan tangan kiri yang mengandung hawa beracun karena ia menggunakan ilmu pukulan Ban-tok-ciang.

Sementara itu, Sin Hong sudah pula meloncat dari rombongan pemusik dan pada saat itu, dua orang prajurit pengawal yang memegang pedang terhunus sudah berloncatan untuk menyerang para pangeran. Dengan hantaman tangan dan tendangan kaki, dia membuat dua orang anggota Thian-li-pang yang menyamar sebagai prajurit pengawal itu terjengkang dan terpelanting.

“Paman Suma Ciang Bun, cepat selamatkan para pangeran!” teriak pula Sin Hong.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sudah berloncatan ke depan. Mereka tadinya amat bingung, akan tetapi begitu tadi mendengar suara Kao Hong Li, Ciang Bun terkejut dan juga girang. Apa lagi ketika melihat munculnya Sin Hong. Mendengar seruan Sin Hong, dia lalu menyambar lengan isterinya.

“Mari kita lindungi mereka!”

Suami isteri ini berloncatan melindungi para pangeran yang terlihat sangat bingung dan ketakutan. Ketika ada prajurit-prajurit pengawal dengan senjata di tangan menyerbu ke arah para pangeran. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menggerakkan tangan kaki dan robohlah empat orang penyerbu.

Sementara itu, wajah Siang Hong-houw menjadi pucat sekali pada waktu tadi ia melihat betapa Pangeran Kian Ban Kok roboh dan tewas begitu minum arak dari cawan seorang pangeran lain. Permaisuri Kaisar ini sama sekali tak tahu tentang rencana pembunuhan keji terhadap para pangeran itu dan begitu kini telah jatuh korban, tentu saja ia menjadi terkejut dan gelisah.

Apa lagi saat para prajurit pengawal yang seharusnya bertugas melindungi keselamatan keluarga Kaisar, kini berbalik malah hendak membunuh para pangeran. Dan dia sudah melibatkan diri dengan pembunuh-pembunuh itu!

Kalau ia mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, hal itu ia kerjakan karena ia melihat Thian-li-pang sebagai pejuang untuk mengusir penjajah Mancu. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa sekutu itu akan bertindak demikian nekatnya, meracuni dan hendak membunuh para pangeran. Padahal, sebelumnya ia sudah mendapatkan janji mereka bahwa mereka tidak akan menggunakan kekerasan di dalam istana.

Ia merasa telah ditipu dan dibohongi, dan tahu bahwa ia ikut bertanggung jawab karena dialah yang menerima masuknya orang-orang Thian-li-pang seperti Ouw Cun Ki yang dijadikan panglima pasukan pengawal, bahkan baru saja ia menerima pula wanita cantik sebagai kepala pelayan dalam pesta itu!

Melihat munculnya seorang wanita beserta seorang pria dari rombongan pemusik yang menentang usaha pembunuhan para pangeran, bahkan ketika melihat dua orang tamu agungnya, yaitu Gangga Dewi dan suaminya juga sudah berloncatan melindungi para pangeran, Siang Hong-houw cepat bertindak.

“Mari cepat menyingkir ke dalam!” katanya.

Ia bersama para pangeran dan puteri meninggalkan tempat yang kini menjadi medan pertempuran itu, kembali ke istana, dikawal oleh Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Setelah semua pangeran dan puteri memasuki istana bersama Siang Hong-houw, dan jenazah Pangeran Kian Ban Kok diangkut masuk pula, barulah suami isteri itu kembali ke taman dan ikut membantu pasukan menghadapi anak buah gerombolan yang terdiri dari tokoh-tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw itu.

Pasukan pengawal yang dipimpin Ouw Ciangkun yang bukan lain adalah Ouw Cun Ki putera Ketua Thian-li-pang sendiri, yaitu Ouw Ban, bukan semua anggota Thian-li-pang. Anggota Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang diselundupkan oleh Ouw Cun Ki menjadi prajurit pasukan pengawal hanya ada dua puluh orang lebih. Selebihnya adalah prajurit pengawal asli.

Oleh karena itu, ketika para prajurit asli melihat bahwa pasukan mereka dikepung oleh pasukan besar pimpinan Panglima Liu, mereka terkejut dan heran. Akan tetapi, melihat adegan di taman itu, dan mendengar betapa pemimpin mereka ternyata adalah seorang pemberontak yang hendak membunuh para pangeran, tentu saja sikap mereka segera membalik dan turut menyerang orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw, biar pun rata-rata pandai ilmu silat, dikeroyok banyak sekali lawan.

Melihat betapa keadaan amat tidak menguntungkannya, Ouw Cun Ki melompat hendak melarikan diri. Akan tetapi, nampaklah bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pria gagah dengan pakaian serba putih telah berdiri tepat di depannya. Orang ini bukan lain adalah Tan Sin Hong yang sudah menanggalkan jubahnya sebagai pemain musik dan kini mengenakan pakaian putihnya yang ringkas.

“Ouw Cun Ki, engkau hendak lari ke mana? Engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!” kata Sin Hong.

“Penjilat busuk, anjing penjajah Mancu!” teriak Ouw Cun Ki. Dia sudah mempergunakan pedangnya untuk menusuk ke arah dada Sin Hong.

Muka Sin Hong berubah merah ketika menerima makian ini, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan orang jahat dan sudah bersekongkol dengan Pek-lian-kauw yang berkedok perjuangan namun diam-diam menyembunyikan pamrih yang mementingkan diri sendiri, maka dia tahu bahwa dia bukan berhadapan dengan para pahlawan pejuang, melainkan dengan para penjahat.

“Jahanam, orang macam engkau ini yang mengotorkan perjuangan!” bentaknya sambil mengelak dan membalas dengan tendangan yang biar pun dapat dihindarkan Ouw Cun Ki, namun tetap saja membuat putera Ketua Thian-li-pang itu terhuyung.

Ouw Cun Ki putera Ouw Ban Ketua Thian-li-pang ini baru berusia dua puluh tiga tahun, tampan gagah dan telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya. Tentu saja dia lihai sekali dan termasuk seorang tokoh Thian-li-pang yang berkedudukan penting.

Akan tetapi, kali ini dia berhadapan dengan Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sudah menggunakan ilmu andalannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih). Maka, walau pun pemuda itu memegang pedang dan menyerang dengan nekat, dalam beberapa gebrakan saja dia sudah terdesak oleh pukulan, totokan dan tendangan Sin Hong yang membuat dia terus mundur dan kadang terhuyung.

Sementara itu, pertandingan antara Kao Hong Li melawan Ang-I Moli berlangsung seru. Kepandaian kedua orang wanita ini lebih seimbang dibandingkan kepandaian antara Sin Hong dan Ouw Cun Ki.

Ang-I Moli kini telah menguasai ilmu barunya, yaitu Toat-beng Tok-hiat (Darah beracun Pencabut Nyawa) yang amat hebat. Ilmu ini dilatih secara menyeramkan karena telah puluhan orang anak laki-laki dikorbankan untuk mematangkannya. Dan kini Ang-I Moli telah menguasai ilmu itu, bahkan telah dapat membuat obat penawar pukulan beracun itu yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong.

Melihat betapa lihainya Kao Hong Li, Ang-I Moli yang menggunakan pedang di tangan kanan itu, lalu menyelingi serangannya dengan dorongan tangan kiri yang mengandung pukulan beracun yang amat jahat itu.

Ketika pertama kali Ang-I Moli menyerang dengan dorongan telapak tangan kiri yang mengeluarkan semacam uap putih dan yang juga membawa bau yang busuk seperti bau mayat, Hong Li maklum bahwa dia menghadapi pukulan beracun yang berbahaya. Maka, ia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dari ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa) yang juga merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Biar pun tidak sejahat Toat-beng Tok-hiat, akan tetapi juga tidak kalah ampuhnya.

“Plakkk!”

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, tubuh kedua orang wanita itu terdorong ke belakang. Keduanya terkejut, akan tetapi yang merasa lebih penasaran adalah Ang-I Moli. Setelah berhasil menguasai Toat-beng-tok-hiat, ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada ilmu pukulan yang dapat menandingi ilmunya itu!

Sebelum kedua orang wanita ini kembali saling terjang, mendadak nampak bayangan berkelebat dan Gangga Dewi telah berhadapan dengan Ang-I Moli.

“Iblis betina Ang-I Moli, sekarang aku mengenalmu! Di mana kau sembunyikan Yo Han? Hayo cepat beri tahu atau terpaksa aku akan menyiksamu untuk mengaku!” bentakan Gangga Dewi ini selain sangat mengejutkan hati Ang-I Moli, juga membuat Kao Hong Li memandang heran. Ia tidak mengenal wanita cantik yang tadi dia lihat duduk di sebelah pamannya, Suma Ciang Bun. Dan sekarang wanita ini mengenal Ang-I Moli, bahkan menyebut-nyebut nama Yo Han!

Ang-I Moli sudah pernah bertemu dan bertanding dengan Gangga Dewi dan dia tahu akan kelihaian wanita Bhutan itu. Tak disangkanya bahwa wanita itu dapat mengenal ia yang sudah menyamar.

“Mampuslah!” bentaknya dan ia pun menggerakkan pedangnya menusuk.

Gangga Dewi memiliki ginkang yang hebat dan dia mampu bergerak cepat bukan main. Serangan pedang itu dapat dielakkannya dengan amat mudah dan begitu tangan kirinya bergerak, nampaklah gulungan sinar putih mengkilat yang panjang seperti seekor ular menyambar. Kiranya Gangga Dewi telah membalas pula dengan serangan sabuk sutera putihnya. Sabµk itu meluncur kaku bagaikan berubah menjadi tongkat menotok ke arah dada Ang-I Moli.

Ang-I Moli menangkis dengan pedangnya, dan tangan kirinya mendorong dengan ilmu yang diandalkannya, yaitu Toat-beng Tok-hiat. Serangkum uap putih yang berbau busuk menyambar dan Gangga Dewi cepat meloncat ke belakang, maklum bahwa lawannya itu menggunakan pukulan beracun yang amat jahat.

“Bibi, biar aku yang menghalau iblis betina ini!” Kao Hong Li membentak.

Hong Li menerjang maju, sekali ini menggunakan jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat dari Istana Gurun Pasir. Demikian hebatnya daya serang ilmu ini sehingga Ang-I Moli yang memegang pedang itu tidak berani menyambut dan terhuyung ke belakang.

Gangga Dewi sudah mendapat bisikan dari suaminya siapa adanya Kao Hong Li, yaitu keponakan suaminya, puteri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, maka ia pun memutar sabuk suteranya dan berseru.

“Kao Hong Li, aku adalah isteri pamanmu Suma Ciang Bun. Namaku Gangga Dewi dari Bhutan.”

Mendengar ini, Hong Li merasa heran akan tetapi juga gembira. Ia pernah mendengar akan keadaan pamannya, Suma Ciang Bun yang mempunyai kelainan, tidak menyukai wanita karenanya tidak mau menikah. Dan kini tahu-tahu dia mempunyai seorang isteri yang cantik, seorang wanita Bhutan. Dan ia pun teringat bahwa ayah dan ibunya pernah bercerita tentang seorang puteri Bhutan bernama Syanti Dewi yang menikah dengan pendekar Wan Tek hoat, saudara tiri dari neneknya, yaitu mendiang nenek, Wan Ceng!

“Apakah engkau puteri dari kakek Wan Tek Hoat, Bibi?” katanya sambil mengelak dari sambaran pedang Ang-I Moli yang sudah membalas serangannya.

“Benar! Mari kita tundukkan iblis ini, Hong Li!”

Kao Hong Li semakin gembira dan kedua orang wanita ini mendesak Ang-I Moli yang menjadi sibuk sekali. Menghadapi seorang di antara mereka saja, amat sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan. Kini mereka maju bersama mengeroyoknya. Tentu saja ia kewalahan dan terus mundur.

“Singgg...!”

Dengan nekat Ang-I Moli membacokkan pedang ke arah kepala Gangga Dewi. Wanita Bhutan ini mengelebatkan sabuknya yang kini menjadi lemas dan sabuk itu menyambut pedang, terus melibatnya dengan kuat.

Ang-I Moli terkejut dan berusaha menarik lepas pedangnya, namun sia-sia saja karena sabuk sutera putih itu sudah melibat pedang dengan amat kuatnya. Ketika dia sedang bersitegang dan menarik-narik pedangnya supaya terlepas, Hong Li sudah meloncat ke depan. Sekali jari tangannya meluncur dan menotok, Ang-I Moli roboh terkulai dengan lemas.

Hong Li menginjak perut Ang-I Moli. Melihat ini, Gangga Dewi berseru, “Jangan bunuh dulu!”

Hong Li memandang wanita Bhutan itu sambil tersenyum. “Bibi, tentu aku tidak ingin membunuhnya. Akan kuserahkan kepada Liu Tai-ciangkun. Akan tetapi, dia harus lebih dahulu mengatakan di mana dia menyembunyikan puteriku. Hayo, Moli, tiada gunanya engkau melawan lagi. Aku dapat membunuhmu, menyiksamu. Katakan di mana engkau menyembunyikan puteriku, dan aku tidak akan menyiksamu, melainkan menyerahkan engkau kepada Liu Ciangkun.”

“Aku tidak tahu, aku tak pernah melihat puterimu,” jawab Ang-I Moli dengan sikap acuh. Ia tahu bahwa ia telah kalah dan tertawan, akan tetapi wanita sesat yang lihai dan cerdik ini tidak merasa gentar. Selama dia masih hidup, ia tidak akan pernah putus asa dan menyerah.

“Bohong! Puteriku yang kami tinggalkan di rumah penginapan itu telah hilang. Siapa lagi kalau bukan engkau dan kawan-kawanmu yang sudah manculiknya? Hayo katakan, di mana dia!”

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu. Terserah engkau mau percaya atau tidak,” jawab Ang-I Moli acuh.

“Iblis busuk, engkau benar-benar patut dihajar!” Hong Li yang sangat mengkhawatirkan puterinya, mengangkat tangan hendak memukul. Akan tetapi Gangga Dewi menyentuh pundaknya.

“Nanti dulu, Hong Li. Ia harus memberi tahu dulu di mana adanya Yo Han. Ang-I Moli, engkau dan dua orang tosu itu melarikan Yo Han. Beberapa tahun yang lalu aku pernah mengejarmu dan mencarimu, tetapi gagal. Nah, katakan di mana Yo Han sekarang?”

Ang-I Moli tersenyum mengejek. “Yo Han sudah menjadi murid pimpinan Thian-li-pang dan dia sudah menjadi orang Thian-li-pang. Kalau engkau hendak mencarinya, carilah di Thian-li-pang.”

Karena dapat menduga bahwa dalam keadaan seperti itu, Ang-I Moli kiranya tidak ada perlunya lagi membohong. Hong Li tidak mendesaknya lagi melainkan menyerahkan wanita itu kepada seorang perwira untuk dibelenggu dan dijadikan tawanan.

“Bibi, kita tangkap yang lain dan paksa mereka mengaku di mana anakku Sian Li dan di mana pula adanya Yo Han,” kata Hong Li dan kedua orang wanita ini lalu terjun lagi ke dalam pertempuran.

Sementara itu, Sin Hong yang juga sudah berhasil menundukkan dan merobohkan Ouw Cun Ki tanpa membunuhnya. Bekas perwira pasukan pengawal hasil selundupan orang Thian-li-pang ini dibelenggu dan menjadi tawanan. Melihat betapa isterinya dan wanita Bhutan itu mengamuk, membantu Suma Ciang Bun, Sin Hong juga membantu mereka dan keadaan para tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw semakin terdesak. Akhirnya belasan orang dapat ditawan dan beberapa orang tewas.

Kaisar Kian Liong marah sekali mendengar bahwa Ouw Cun Ki yang dipercaya dan diberi anugerah pangkat tinggi itu ternyata ialah mata-mata pemberontak Thian-li-pang yang diselundupkan ke istana. Dia memerintahkan para panglimanya untuk menghukum berat kepada para pemberontak itu, yaitu hukuman buang dan hukum mati bagi para pemimpinnya.

Meski tiada bukti bahwa Siang Hong-houw terlibat langsung dengan para pemberontak, namun permaisuri itulah yang memberi angin dan yang memperkenalkan Ouw Cun Ki kepada Kaisar. Akan tetapi ketika Kaisar yang merasa tidak enak hati dan tidak senang mengunjungi permaisurinya, dia mendapatkan bahwa Siang Hong-houw sedang rebah dan dalam keadaan sakit keras.

Melihat keadaan Siang Hong-houw, Kaisar tidak tega lagi untuk menegur atau bertanya. Dan memang penyakit permaisuri itu cukup payah, bahkan pertolongan para tabib tidak mampu mengurangi penderitaannya. Permaisuri ini merasa amat berduka dan kecewa karena telah dibohongi untuk kedua kalinya oleh orang-orang Thian-li-pang.

Hampir saja semua pangeran tewas keracunan, dan kalau hal itu sampai terjadi, maka ialah yang bertanggung jawab. Bahkan kematian Pangeran Kian Ban Kok juga membuat ia merasa bersalah besar. Ia merasa bahwa kematian itu tidak akan terjadi kalau saja ia tidak memasukkan Ouw Cun Ki ke dalam istana! Hal itu berarti bahwa ialah pembunuh pangeran itu dan perasaan ini membuat ia berduka dan menyesal bukan main.

Ia memang amat mendendam terhadap pemerintah Mancu yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Akan tetapi, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Liong amat menyayangnya dan bersikap amat baik kepadanya sehingga kalau ia sebagai seorang isteri yang dicinta sampai melakukan kejahatan terhadap Kaisar dan keluarganya, maka ialah yang berdosa besar.

Perasaan bersalah ini mendatangkan penyesalan yang membuat Siang Hong-houw lalu jatuh sakit parah. Demikian parah sakitnya sehingga beberapa bulan kemudian, Siang Hong-houw atau Permaisuri Harum ini meninggal dunia karena sakitnya.

Setelah merobohkan banyak orang tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, Sin Hong, Hong Li, dibantu Suma Ciang Bun serta Gangga Dewi, mencoba mencari keterangan tentang Sian Li dan Yo Han kepada mereka. Akan tetapi, ternyata tak ada seorang pun di antara mereka tahu mengenai dua orang itu. Akhirnya, setelah menyerahkan semua tawanan kepada Liu Ciangkun, empat orang itu meninggalkan istana tanpa mengharap balas jasa sama sekali.

Mereka berempat keluar dari istana kemudian saling menceritakan pengalaman masing-masing. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Yo Han yang diculik dan dilarikan Ang-I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw.

“Menurut pengakuan Ang-I Moli tadi, Yo Han diserahkan kepada pimpinan Thian-li-pang dan menjadi murid mereka. Aku harus pergi mencarinya di sarang Thian-li-pang!” kata Gangga Dewi.

“Hemm, kukira tidak mudah untuk menentang Thian-li-pang. Perkumpulan pemberontak itu selain mempunyai anak buah yang ribuan orang banyaknya, juga bersekutu dengan Pek-lian-kauw sehingga mereka itu kuat sekali. Kita harus berhati-hati dalam melakukan penyelidikan.”

“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Paman Suma Ciang Bun,” berkata Tan Sin Hong. “Pasukan pemerintah pun sulit sekali membasmi perkumpulan Thian-li-pang yang selalu merahasiakan tempat yang menjadi sarang mereka. Di mana-mana mereka mempunyai cabang, bahkan banyak orang gagah yang membantu mereka karena mereka itu selalu melakukan gerakan menentang pemerintah Mancu.”

“Bagi kami, yang paling penting adalah mencari anak kami. Sian Li lenyap dari rumah penginapan di mana orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw mengadakan rapat,” kata Hong Li dengan nada suara mengandung kegelisahan.

“Hemm, memang amat mencurigakan,” kata Suma Ciang Bun. “Siapa lagi kalau bukan mereka yang menculik anakmu? Akan tetapi, tiada seorang pun di antara mereka yang kita robohkan mengakui melihat anak itu. Sebaiknya kalau kita mencari keterangan di rumah penginapan itu lagi.”

Mereka berempat lalu pergi ke rumah penginapan itu dan melakukan penyelidikan lagi. Akhirnya, dari seorang tukang masak di rumah penginapan itu, mereka mendengar bahwa pada saat lenyapnya Sian Li, seperti biasanya di depan dapur berkumpul banyak pengemis dan di antaranya terdapat seorang pengemis tua yang asing.

Ketika Sian Li melihat para pengemis meminta makanan sisa, tukang masak itu melihat betapa pengemis asing itu menghampiri Sian Li dan minta sumbangan dari nona kecil itu. Oleh Sian Li, pengemis itu diberi sepotong uang perak dan pengemis itu pun pergi, tidak jadi minta makanan sisa.

Keterangan itu sebenarnya tidak begitu berarti, namun cukup menjadi bahan pemikiran Sin Hong dan isterinya, juga Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

“Dalam keadaan seperti itu, setiap kemungkinan dapat saja terjadi, dan tiap orang asing patut dicurigai,” kata Gangga Dewi. Mereka kemudian minta pada tukang masak untuk menggambarkan keadaan pengemis itu.

“Dia sudah berusia enam puluh tahun, tinggi kurus dengan punggung bongkok seperti udang. Dia memegang tongkat butut dan suaranya seperti orang dari daerah selatan. Matanya juling.” Demikian keterangan yang mereka peroleh.

Empat orang pendekar itu lalu berpencar, mencari pengemis-pengemis di kota Heng-tai. Kepada setiap pengemis, mereka memberi hadiah dan bertanya mengenai pengemis seperti yang digambarkan tukang masak tadi.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner