SI BANGAU MERAH : JILID-19


“Mereka sudah terluka, akan tetapi setidaknya, jangan mereka itu tewas selagi mengadu tenaga. Sute, tolonglah, pisahkan mereka, biar pun mereka sudah terluka.”

Yo Han menarik napas panjang. Dia sudah melihat betapa keadaan dua orang kakek itu sudah payah sekali, dan jika dia memisahkan mereka, dia harus menggunakan sinkang untuk mematahkan dua tenaga yang sudah saling lekat itu. Bukan pekerjaan mudah, bahkan berbahaya baginya, akan tetapi dia pun tidak dapat menolak karena dia tidak dapat membiarkan mereka itu mengadu tenaga sampai seorang di antara mereka mati di tempat.

“Jiwi Supek, maafkan saya!” katanya dan dia pun meloncat mendekati dua orang kakek itu.

Kedua tangannya bergerak-gerak membentuk lingkaran dan tiba-tiba, dengan bentakan nyaring sehingga terdengar suara melengking, dia mendorongkan kedua tangannya ke tengah-tengah antara dua pasang tangan yang sedang melekat itu.

Dua orang kakek itu mengeluarkan suara keras, kemudian tubuh mereka terdorong ke belakang. Ban-tok Mo-ko roboh terguling dan Thian-te Tok-ong terhuyung-huyung, lalu dia cepat duduk bersila sambil memejamkan mata. Ban-tok Mo-ko juga bangkit duduk dengan susah payah, kemudian bersila pula. Wajah keduanya pucat dan napas mereka terengah-engah.

Yo Han memeriksa dengan menempelkan tangan di punggung mereka, dan diam-diam dia pun terkejut. Kiranya, kedua orang kakek itu menderita luka dalam yang jauh lebih parah dari pada yang disangkanya. Ban-tok Mo-ko yang kalah kuat oleh suheng-nya, telah menderita parah sekali dan sukar diselamatkan.

Akan tetapi ketika Yo Han memeriksa keadaan Thian-te Tok-ong, dia pun amat terkejut. Kakek ini memang memiliki tenaga yang lebih kuat, akan tetapi agaknya usianya yang sudah delapan puluh delapan tahun itu membuat tubuhnya lemah dan karena itu, ia pun menderita luka hebat!

Ban-tok Mo-ko yang membuka mata lebih dulu, mata yang sayu dan ia pun memandang kepada Thian-te Tok-ong yang masih duduk bersila dan terdengar suaranya yang lemah gemetar.

“Suheng, aku girang dapat mati di tanganmu...” kemudian dia memandang ke angkasa, terbatuk dan gumpalan darah keluar lebih banyak lagi dari dalam mulutnya. “Sute, aku telah siap menerima pembalasanmu...” Kakek itu memejamkan kembali kedua matanya dan kepalanya menunduk.

Thian-te Tok-ong membuka matanya dan dari kedua matanya itu mengalir air mata. “Aku telah membunuh Sute Ciu Lam Hok, dan aku pula yang membunuh Sute Ban-tok Mo-ko. Kedua adikku, tunggulah aku...!” Dan dia pun memejamkan kedua matanya dan menundukkan kepala. Dua orang kakek itu tak bergerak lagi.

Yo Han berbisik kepada Lauw Kang Hui. “Lauw-suheng, kedua orang Supek kini telah tewas...!”

“Haaa...?!”

Lauw Kang Hui cepat menghampiri gurunya dan menyentuh pundak gurunya. Disentuh sedikit saja, tubuh yang tadinya duduk bersila itu terguling roboh. Demikian pula tubuh kakek Thian-te Tok-ong…..

********************

Lauw Kang Hui menangis di depan makam gurunya dan supek-nya, juga para murid tingkat tinggi Thian-li-pang menangisi kematian dua orang tua yang menjadi sesepuh Thian-li-pang itu.

Yo Han ikut pula dalam upacara sembahyangan dan dalam kesempatan itu dia berkata kepada Lauw Kang Hui dan para murid lainnya.

“Karena saya telah menjadi murid mendiang Suhu Ciu Lam Hok, bahkan juga pernah berguru pada Supek Thian-te Tok-ong, maka sedikit banyak saya mengenal hubungan dekat dengan Thian-li-pang. Saya harap peristiwa ini dapat menjadi cermin bagi kita semua. Tiga orang sesepuh Thian-li-pang itu dahulu yang mendirikan Thian-li-pang, dan sejak berdiri, Thian-li-pang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot. Namun, sayang sekali, agaknya mendiang Supek Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong terseret oleh arus duniawi yang membuat mereka melakukan penyelewengan. Apa lagi pada saat Thian-li-pang dipimpin mendiang Suheng Ouw Ban, hubungan baik dengan Pek-lian-kauw membuat banyak murid yang ikut melakukan perbuatan yang tak sesuai dengan jiwa perkumpulan kita. Hendaknya kita semua selalu ingat bahwa musuh yang paling besar, paling berbahaya dan paling tangguh adalah dirinya sendiri. Sekali kita mampu menundukkan napsu sendiri, maka batin kita menjadi kokoh kuat dan tidak mudah terseret ke dalam kesesatan. Seperti berlayar di tengah samudera, yang paling penting adalah memiliki perahu yang kokoh kuat sehingga tidak khawatir menghadapi badai dan taufan. Kepandaian tinggi bahkan dapat mencelakakan kalau tidak disertai batin yang kuat dan bersih, karena kepandaian itu bahkan dapat kita pergunakan untuk melakukan kejahatan.”

Lauw Kang Hui memandang kepada pemuda itu. “Yo Sute, terima kasih atas nasehatmu itu. Kami sudah mengalami cukup banyak kepahitan sebagai akibat dari penyelewengan yang sudah kami lakukan. Aku berjanji akan mengembalikan Thian-li-pang ke jalan yang benar, akan bertindak disiplin dan tegas sehingga Thian-li-pang akan kembali menjadi perkumpulan pendekar yang bukan saja memusuhi penjajah tanah air, akan tetapi juga memusuhi perbuatan jahat yang dapat mencelakai orang lain demi kesenangan diri dan pemuasan nafsu sendiri.”

“Bagus, aku girang sekali mendengar ini, Lauw-suheng. Aku hanya akan menjadi saksi bahwa pesan terakhir Suhu Ciu Lam Hok akan terlaksana dengan baik.”

Yo Han lalu berpamit dari semua murid Thian-li-pang, meninggalkan tempat itu dengan hati lapang. Satu di antara pesan suhu-nya telah dapat dia laksanakan dengan baik. Kini dia akan melaksanakan tugas kedua yaitu mencari keluarga mendiang suhu-nya, yaitu adik suhu-nya yang bernama Ciu Ceng atau keluarganya karena tentu adik suhu-nya itu sudah menjadi seorang nenek yang sudah tua sekali.

Dia pun meninggalkan Thian-li-pang dan menuju ke kota raja.....

********************

Mendiang kakek Ciu Lam Hok memang mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ciu Ceng. Ketika dia sendiri pergi meninggalkan kota raja, adiknya itu masih seorang gadis yang cantik dan tinggal bersama ibunya di lingkungan istana.

Kemudian, Ciu Ceng menikah dengan seorang panglima muda she Gan. Pernikahan ini membuahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Gan Seng. Panglima Gan sendiri gugur ketika memimpin pasukan membasmi gerombolan pemberontak. Gan Seng yang mendapatkan pendidikan tinggi, telah mendapat pangkat yang lumayan, yaitu sebagai pejabat yang mengelola gedung pusaka istana. Jabatan ini penting sekali karena hanya orang yang dipercaya sepenuhnya oleh Kaisar saja yang dapat menduduki pangkat ini.

Gan Seng, putera Ciu Ceng itu, kini telah berusia lima puluh tahun dan dia hidup serba kecukupan dengan isterinya dan puteri tunggalnya yang bernama Gan Bi Kim dan yang pada waktu itu berusia tujuh belas tahun. Juga nenek Ciu Ceng yang sudah tua tinggal bersama puteranya dan keluarga ini hidup cukup berbahagia.

Tak begitu sulit bagi Yo Han untuk menyelidiki dan mendengar tentang nenek Ciu Ceng ini. Girang hatinya ketika dia mendapat keterangan bahwa nenek itu tinggal bersama puteranya yang menjadi kepala gedung pusaka istana, dan keluarga Gan itu tinggal di luar istana, walau pun Gan Seng bertugas di lingkungan istana, yaitu di gedung pusaka.

Maka, pada hari itu, pagi-pagi dia meninggalkan rumah penginapan dan mendatangi rumah gedung tempat tinggal Gan Seng. Untuk memenuhi pesan mendiang suhu-nya, dia harus berkunjung dan menceritakan mengenai meninggalnya kakek Ciu Lam Hok kepada nenek Ciu Ceng dan memastikan bahwa keluarga itu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Baru kemudian dia akan melaksanakan tugas ke tiga, tugas yang paling sukar, yaitu mencari dan merampas kembali mustika mutiara hitam di daerah barat.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia tiba di rumah gedung itu. Dia melihat suasana yang amat sunyi dan ketika seorang pelayan keluar untuk menyapanya, pelayan tua itu nampak seperti orang yang berduka sekali.

“Saya kira Kongcu datang berkunjung pada saat yang kurang tepat,” kata pelayan itu. “Gan-taijin sekeluarga sedang dalam keadaan prihatin dan tidak akan suka menerima tamu, bahkan memesan kepada saya untuk menolak setiap orang tamu yang datang berkunjung.”

Tentu saja Yo Han merasa heran bukan main. Gurunya berpesan agar dia mengunjungi nenek Ciu Ceng dan membela nenek itu sekeluarganya, kalau perlu dengan taruhan nyawa, karena dirinya ingin membuktikan rasa sayangnya kepada adiknya itu melalui muridnya.

“Paman yang baik, tolong sampaikan bahwa aku datang mohon menghadap Nyonya Besar Ciu Ceng, ibu dari Gan-taijin. Katakan bahwa aku membawa kabar yang penting sekali dari kakak nyonya besar yang bernama Ciu Lam Hok. Kalau laporanmu itu tidak mendapat tanggapan, aku tidak akan mendesak lagi.”

“Tapi... tapi... Nyonya Besar Tua sedang menderita sakit...”

“Ahh...!” Yo Han terkejut. “Kalau begitu, lebih penting lagi berita itu. Mungkin laporanmu tentang kakaknya akan dapat menyembuhkan sakitnya dan engkau akan berjasa besar, Paman.”

“Benarkah?” Pelayan itu meragu, kemudian berkata, “Baik, engkau tunggulah sebentar, Kongcu (Tuan Muda), aku akan melapor ke dalam.”

Yo Han menunggu dengan sabar, akan tetapi hatinya gelisah juga mendengar bahwa orang yang dicarinya itu, adik mendiang gurunya yang bernama Ciu Ceng, sedang menderita sakit. Karena panyakitnya itukah maka keluarga Gan dalam keadaan prihatin seperti yang dikatakan pelayan tadi?

Tentu saja akan mudah baginya untuk melakukan penyelidikan sendiri pada malam hari. Namun dia menghormati adik mendiang suhu-nya dan tidak mau menggunakan cara seperti seorang pencuri untuk menyelidiki keadaan nenek itu, kecuali bila dia tidak dapat menghadap secara berterang.

Tidak lama kemudian, pelayan itu sudah datang lagi dan sekali ini wajahnya berseri. “Kongcu, dugaanmu tadi amat tepat! Aku memberanikan diri untuk menghadap Nyonya Besar Tua dan begitu ia mendengar bahwa Kongcu datang membawa berita tentang kakaknya, ia seketika bangkit dan wajahnya gembira, bahkan ia minta kepada Kongcu untuk segera menghadap ke dalam kamarnya!”

Bukan main girangnya hati Yo Han mendengar ini. Dia pun segera mengikuti pelayan itu memasuki rumah, gedung yang besar. Setelah melalui beberapa ruangan besar serta lorong berliku-liku, pelayan itu lalu mengantarnya masuk ke dalam sebuah kamar yang besar. Dua orang pelayan wanita muda segera mundur ketika melihat ada tamu pria yang masuk.

Ketika memasuki kamar itu, Yo Han memandang ke arah pembaringan di mana rebah seorang nenek yang sudah tua. Nenek itu rebah telentang dan nampak kurus dan pucat. Ketika Yo Han masuk, ia menoleh dan memandang kepada pemuda itu, lalu terdengar suaranya lemah.

“Orang muda, siapakah engkau dan berita apa yang kau bawa mengenai kakakku Ciu Lam Hok?”

Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut menghadap ke arah nenek yang masih rebah di atas pembaringan itu. “Saya bernama Yo Han dan saya muridnya.”

Nenek itu mengeluarkan seruan girang dan dia pun bangkit duduk. Dua orang pelayan wanita cepat-cepat menghampiri dan membantunya duduk. Setelah duduk, nenek itu memandang kepada pemuda yang masih berlutut.

“Bangkitlah dan duduklah, Yo Han. Lekas ambilkan kursi untuk pemuda itu,” perintahnya kepada pelayan yang segera mengambilkan sebuah kursi dan Yo Han lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan nenek Ciu Ceng yang wajahnya nampak berseri.

“Engkau ini muridnya? Ahhh, bagaimana dengan kakakku? Dan mengapa engkau yang datang ke sini, bukan dia sendiri? Betapa rinduku kepada kakakku itu!”

Yo Han melihat bahwa nenek yang sudah tua itu dalam keadaan sakit dan lemah, maka dia pun tidak berani mengabarkan tentang kematian gurunya.

“Saya datang untuk memenuhi pesan dari Suhu Ciu Lam Hok. Saya disuruh mencari adiknya yang bernama Ciu Ceng, dan saya disuruh menyelidiki keadaan keluarganya dan diharuskan membantu kalau keluarga itu membutuhkan bantuan.”

“Aihh, kalau saja kakakku sendiri berada di sini, tentu dia akan dapat menolong kami. Akan tetapi engkau muridnya, engkau hanya seorang yang masih muda begini, bagai mana akan mampu menolong kami? Kami sedang dilanda mala petaka.”

“Harap suka memberi tahukan kepada saya, dan saya akan membantu sekuat tenaga, walau pun dengan taruhan nyawa, demi memenuhi perintah Suhu!” kata Yo Han dengan sikap tenang dan suara bersungguh-sungguh.

“Benarkah itu?” Nenek itu berseru dan suaranya mengandung harapan.

Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang memasuki kamarnya. Mereka itu ternyata adalah puteranya, Gan Seng, menantunya, dan cucu perempuannya, Gan Bi Kim yang cantik.

Melihat betapa ibunya yang sedang sakit itu duduk di atas pembaringan dan bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing, tentu saja Gan Seng menjadi heran sekali. Tadi dia menerima laporan dari seorang pelayan bahwa ibunya kedatangan seorang tamu, maka dia bersama isteri dan puterinya yang merasa khawatir akan kesehatan ibunya, segera pergi ke kamar ibunya. Kini tahu-tahu ibunya sudah duduk dan bercakap-cakap dengan seorang pemuda.

“Siapakah pemuda ini?” tanya Gan Seng dengan alis berkerut karena dia menganggap pemuda itu mengganggu ibunya yang perlu beristirahat.

Akan tetapi, melihat keluarganya memasuki kamarnya, nenek itu lalu memperkenalkan dengan wajah berseri, “Anakku, pemuda ini adalah Yo Han, dia murid pamanmu Ciu Lam Hok yang sering kuceritakan kepada kalian.”

“Ah, begitukah?” Gan Seng tertegun dan merasa heran mengapa pamannya yang tentu sudah tua sekali, mempunyai murid yang masih begini muda.

Yo Han sendiri cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Gan Seng, isterinya, dan juga kepada gadis cantik itu. Nenek Ciu Ceng segera memperkenalkan mereka kepadanya.

“Yo Han, ini adalah puteraku Gan Seng, ini mantuku, dan itu cucuku Gan Bi Kim!”

Sambil memberi hormat, Yo Han berkata kepada Gan Seng. ”Mohon maaf sebanyaknya kepada Taijin bahwa saya telah berani lancang mengganggu. Saya hanya memenuhi perintah Suhu, untuk mencari adik Suhu...”

Gan Seng menggelengkan kepala. “Tidak mengapa, tidak mengapa, hanya...”

Dia mengerutkan alisnya karena memang pada waktu itu dia sedang menghadapi hal yang amat memusingkan, bahkan ibunya sampai jatuh sakit karena mala petaka yang menimpa dirinya itu.

“Seng-ji (Anak Seng), Yo Han ini diutus oleh gurunya untuk datang berkunjung dan dia mewakili gurunya untuk menolong kita dari kesukaran! Siapa tahu, dia akan mampu mengangkat kita keluar dari kesulitan ini!”

“Ibu, mana mungkin...?” kata Gan Seng meragu.

Melihat sikap mereka, Yo Han kembali memberi hormat. “Harap Taijin suka memberi tahu pada saya, kesulitan apa yang dihadapi keluarga Taijin. Saya telah berjanji kepada Suhu untuk membantu keluarga adik Suhu kalau menghadapi kesulitan, dan saya akan mentaati perintah Suhu, membantu keluarga Taijin, kalau perlu dengan taruhan nyawa.”

“Ceritakanlah kepadanya, Seng-ji. Siapa tahu justru pemuda inilah yang akan mampu membebaskan kita dari kesulitan ini,” bujuk nenek tua itu.

“Baiklah, Ibu. Sekarang Ibu beristirahatlah, dan mari Yo Han, kita bicara di ruangan dalam,” kata Gan Seng.

Yo Han menoleh kepada nenek Ciu Ceng. “Harap Paduka beristirahat dan saya ingin menyampaikan pesan Guru saya bahwa Suhu mengutus saya membantu keluarga Paduka untuk membuktikan bahwa Suhu sayang kepada Paduka.”

Mendengar ini, nenek Ciu Ceng menangis dan merebahkan dirinya. Tetapi suaranya terdengar gembira bercampur haru ketika ia berkata, “Ahhh, Hok-koko (Kakak Hok), ternyata engkau masih teringat kepada adikmu ini! Kakakku yang baik, aku pun selalu terkenang kepadamu dan aku sayang kepadamu...” Ia menangis dan tertawa sekaligus dan berita yang diucapkan Yo Han ini merupakan obat yang mujarab bagi nenek itu.

Dengan hati lega Gan Seng lalu menggandeng tangan Yo Han, diajaknya keluar dari kamar itu, diikuti oleh isterinya dan oleh Gan Bi Kim.

Setelah mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja besar, Gan Seng yang masih meragu dan belum yakin benar bahwa pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tahun, bersikap sederhana itu akan mampu menolong keluarganya dari mala petaka yang menimpa, segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya.

“Sebelum kami menceritakan persoalan yang menyulitkan keluarga kami, terlebih dulu kami ingin mendengar keteranganmu tentang Paman Tuaku itu dan bagaimana engkau yang masih muda ini akan mampu menolong kami. Nah, ceritakan di mana adanya Paman Tuaku itu.”

Kalau terhadap nenek Ciu Ceng yang sedang sakit Yo Han belum berani berterus terang tentang kematian suhu-nya, terhadap keluarga ini dia merasa lebih baik untuk berterus terang. “Taijin...”

“Nanti dulu, Yo Han. Kalau engkau benar murid pamanku, tidak semestinya engkau menyebut aku taijin (orang besar). Usiamu masih amat muda. Kau pantas menjadi keponakanku, maka sebut saja paman kepadaku, agar lebih enak kita bicara. Namaku Gan Seng dan engkau boleh menyebut aku paman, dan menyebut isteriku bibi. Nah, lanjutkan ceritamu.”

Wajah Yo Han berubah merah. Tentu saja dia merasa canggung sekali. Yang dia hadapi adalah seorang yang berkedudukan tinggi, bagaimana dia dapat menyebut mereka demikian akrab? Akan tetapi, dia pun tidak berani membantah.

“Terima kasih atas keramahan Paman dan Bibi. Sesungguhnya di depan Nyonya Besar Gan...”

“Ahhh, kalau engkau menyebut aku paman, maka engkau sebut saja nenek kepada Ibuku.” Pembesar itu memotong.

Diam-diam Yo Han kagum. Keluarga suhu-nya ini memang orang-orang bijaksana. Biar pun berkedudukan tinggi namun tidak angkuh. “Begini, Paman. Di depan Nenek, saya tidak berani berterus terang karena melihat beliau sedang sakit. Sebetulnya, Suhu Ciu Lam Hok telah meninggal dunia...”

“Hemm, bagaimana meninggalnya?” Gan Seng bertanya.

Yo Han merasa tidak ada perlunya menceritakan apa adanya. Kalau dia menceritakan bagaimana suhu-nya disiksa oleh dua orang suheng dari suhu-nya yang juga sudah tewas, maka ceritanya yang terus terang itu hanya akan mendatangkan penyesalan dan sakit hati. Tidak ada perlu dan gunanya.

“Suhu meninggal dunia dengan baik, karena sudah tua. Dan sebelum meninggal, Suhu meninggalkan pesan kepada saya supaya saya mencari adik Suhu yang bernama Ciu Ceng, dan supaya saya membantu keluarga adik Suhu itu dengan segala kemampuan saya. Karena itulah maka saya datang menghadap dan menawarkan bantuan. Apa lagi kalau Paman sedang menghadapi kesulitan. Katakan apa kesulitan itu, Paman, dan saya, demi pesan Suhu, akan membantu sekuat tenagaku.”

“Akan tetapi, kesulitan kami ini amat hebat dan sukar diatasi. Bagaimana seorang muda seperti engkau akan mampu menolong kami? Bahkan pasukan penyelidik yang sudah kami kerahkan juga tidak berhasil menolong kami, apa lagi engkau? Apa yang telah kau pelajari dari mendiang Paman Tua?”

“Mendiang Suhu sudah mewariskan ilmu-ilmu silatnya kepada saya, Paman, dan saya akan mengerahkan segala kemampuan saya untuk membantu Paman, tentu saja kalau Paman percaya kepada saya dan suka menceritakan kesulitan yang Paman hadapi itu kepada saya.”

“Sebaiknya ceritakan saja kepada Yo Han,” desak isteri pembesar itu kepada suaminya. “Biar pun para komandan yang bersahabat telah mengerahkan pasukan mereka untuk melakukan penyelidikan, tidak ada salahnya kalau Yo Han mencoba untuk menyelidiki pula. Semakin banyak yang menyelidiki dan mencari-cari pusaka yang hilang, semakin baik pula.”

Gan Seng menarik napas panjang, lalu mengangguk-angguk. “Dengarkan baik-baik, Yo Han, siapa tahu, Tuhan mengutusmu datang ke sini untuk mengangkat kami dari mala petaka ini.” Pembesar itu lalu bercerita.

Dia menjadi pembesar yang bertanggung jawab akan semua pusaka milik istana, dan dia diserahi mengurus gudang pusaka. Selama bertahun-tahun dia bertugas, dibantu pasukan penjaga yang kuat, tidak pernah terjadi sesuatu.

Akan tetapi, dua minggu yang lalu, dua buah pusaka lenyap dari dalam gudang pusaka itu. Dua buah pusaka yang amat penting, yaitu sebuah cap kebesaran Kaisar Kang Hsi, kakek dari Kaisar Kian Liong yang sekarang, dan sebuah bendera lambang kekuasaan Kaisar pertama Kerajaan Mancu, telah hilang!

Gegerlah istana karena kedua benda itu merupakan pusaka yang amat penting sekali, sebagai tanda kebesaran Kerajaan Ceng-tiauw. Dan sebagai penanggung jawab, tentu saja Gan Seng segera dihadapkan Kaisar untuk mempertanggung jawabkan kehilangan itu.

Gan Seng menjadi sibuk sekali karena Kaisar memberi waktu sebulan kepadanya untuk menemukan kembali dua buah pusaka yang hilang. Gan Seng sudah memerintahkan para komandan jaga untuk melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, namun setelah lewat dua minggu, hasilnya tetap sia-sia belaka. Pencuri itu memasuki gudang tanpa merusak kunci atau jendela, bahkan tidak ada genteng yang pecah. Dua buah pusaka itu lenyap secara aneh sekali, tidak meninggalkan bekas!

Gan Seng tahu bahwa mala petaka akan menimpa keluarganya kalau dua buah benda itu tidak diketemukan. Dia akan dihukum berat, bahkan keluarganya mungkin akan turut tersangkut.

“Demikianlah mala petaka yang menimpa kami, Yo Han. Semua usaha sudah kami lakukan, akan tetapi sampai hari ini tidak ada hasilnya. Padahal, waktu yang diberikan Kaisar tinggal dua minggu lagi! Ibuku jatuh sakit karena memikirkan keadaan kami. Nah, bagaimana engkau akan dapat menolong kami, Yo Han? Pasukan keamanan sudah dikerahkan tanpa hasil,” kata pembesar itu dengan nada kesal dan putus asa menutup ceritanya.

Yo Han mengerutkan alisnya. Memang tidak mudah mencari pusaka yang hilang dari dalam gudang pusaka, tanpa diketahui siapa yang mengambilnya! Jika para komandan pasukan, yang lebih hafal akan keadaan di kota raja tidak mampu menemukan dua buah pusaka itu, apa lagi dia yang sama sekali asing dengan keadaan di situ!

Akan tetapi, dia akan mencoba, dia tidak putus asa. Dia yakin bahwa Tuhan pasti akan menolongnya, seperti yang sudah-sudah. Ia akan menyerahkan segalanya pada Tuhan, dan dengan penyerahan secara total, maka semua tindakannya tentu akan dibimbing oleh kekuasaanNya.

Bila Tuhan menghendaki, apa sih sukarnya menemukan kembali dua buah benda yang hilang? Tetapi jika tidak dikehendaki Tuhan, apa pun yang dilakukan, benda-benda itu tidak akan dapat ditemukan kembali. Tuhan Maha Kuasa. Segala kehendak Tuhan pun jadilah! Demikian bisik hatinya.

“Maaf, Paman dan Bibi, apakah sama sekali tidak ditemukan jejak ke mana lenyapnya dua buah benda pusaka itu?”

Gan Taijin menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.

“Apakah tidak ada orang yang dapat dicurigai? Misalnya, adakah orang-orang yang memusuhi Paman selama ini? Siapa tahu, perbuatan itu merupakan perbuatan yang disengaja untuk menghancurkan keluarga Paman.”

Suami isteri itu saling pandang, dan tiba-tiba saja isteri pejabat itu berkata, “Sebaiknya kuceritakan saja kepadanya!”

Suaminya mengangguk dan wanita itu lalu berkata kepada Yo Han. “Memang ada orang yang merasa tidak senang kepada kami dan bukan tidak mungkin bahwa dia melakukan perbuatan itu untuk mencelakakan kami. Akan tetapi karena tidak ada bukti-bukti, bagai mana kami dapat menuduh dia?”

“Maaf, Bibi. Sedikit keterangan saja akan sangat berarti dan penting bagi saya untuk melakukan penyelidikan. Saya pun tidak akan sembarangan saja menuduh orang, akan tetapi setidaknya, saya dapat melakukan penyelidikan.”

Gan Seng menarik napas panjang. “Memang ada yang kami curigai, akan tetapi tidak ada bukti, dan dia seorang yang berkedudukan tinggi sehingga tidak ada orang yang akan berani menyelidikinya.”

Yo Han memandang dengan wajah berseri. “Ahh, siapakah dia orangnya, Paman? Dan mengapa Paman mencurigai dia?”

“Dia seorang panglima yang dipercaya oleh Kaisar, seorang jagoan istana she Coan. Coan Ciangkun ini terkenal lihai dan berkedudukan tinggi. Bagaimana kita akan dapat membuktikan bahwa dia yang melakukan perbuatan itu? Tiada yang berani menyelidik ke sana. Rumahnya saja dijaga oleh pasukan keamanan yang kuat!”

“Hemm, mengapa Paman mencurigai dia? Apakah alasan Paman dan Bibi mencurigai panglima itu?”

“Coan Ciangkun pernah melamar puteri kami, Bi Kim,” kata ibu gadis itu.

Yo Han memandang kepada Bi Kim dan gadis itu menundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi bibir gadis itu bergerak dan berkata lirih, “Manusia tak tahu malu itu!”

“Tentu saja kami menolak pinangan yang merendahkan kami itu,” kata pula Gan Seng. “Bayangkan saja, panglima yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu sekarang sudah mempunyai sedikitnya lima selir, dan dia masih menghendaki anak kami untuk dijadikan selir! Menghina sekali!”

Yo Han mengangguk-angguk. Alasan itu memang cukup kuat. Mungkin saja akibat sakit hati karena lamarannya ditolak, panglima itu lalu melakukan pencurian pusaka untuk mencelakakan keluarga Gan. Akan tetapi, alasan ini pun tidak begitu meyakinkan. Kalau hanya ditolak lamarannya, bagaimana panglima itu sampai melakukan perbuatan yang juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri itu? Dan apa manfaat dan keuntungannya bagi dia?

“Maaf, Paman dan Bibi. Apakah tidak ada alasan lain yang lebih kuat dari itu sehingga Paman dan Bibi mencurigai Coan Ciangkun?”

“Ada... ada...,” berkata Gan Seng. “Semenjak dua buah pusaka itu lenyap, beberapa kali sudah ia menghubungiku dan mengatakan bahwa jika aku suka menerima lamarannya, dia akan membantu sampai dua buah benda pusaka itu ditemukan kembali. Nah, aku hampir yakin bahwa setidaknya dia tahu siapa yang mencuri benda pusaka itu.”

“Ah, terima kasih, Paman. Sekarang, tolong beri tahukan di mana adanya tempat tinggal Panglima Coan itu, saya akan melakukan penyelidikan ke sana.”

“Akan tetapi, itu berbahaya sekali, Yo Han!” kata Gan Seng.

Yo Han tersenyum. “Harap Paman dan Bibi jangan terlalu khawatir. Mendiang Suhu telah mengajarkan banyak ilmu kepada saya, dan dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Sakti, saya kira saya akan berhasil menyelidiki dan mendapat tahu apakah panglima itu benar yang melakukan pencurian itu ataukah bukan. Semoga kecurigaan Paman dan Bibi benar sehingga tidak akan sukar lagi untuk mengatasi urusan ini.”

“Akan tetapi, para panglima saja yang dimintai bantuan Ayah tidak sanggup menyelidiki orang itu, apakah kau tidak hanya akan mengantar nyawa ke sana?” tiba-tiba Bi Kim berkata dengan nada suara khawatir.

Yo Han memandang gadis itu dan tersenyum. “Harap engkau tidak merasa khawatir, Nona. Saya akan menjaga diri baik-baik.”

Setelah mendapatkan keterangan jelas dari Gan Seng mengenai tempat tinggal Coan Ciangkun, Yo Han lalu berpamit. Tuan rumah sekeluarga mencoba untuk menahannya dan menghidangkan makan minum, akan tetapi Yo Han menolak dengan halus.

“Masih banyak waktu bagi kita untuk bercakap-cakap dan makan bersama, yaitu setelah tugas ini selesai dengan baik. Nah, selamat tinggal, Paman, Bibi dan... Nona.”

“Adik, bukan nona!” Bi Kim memotong.

“Baiklah, Adik Bi Kim. Saya pergi dahulu dan mudah-mudahan kalau datang lagi saya akan membawa kabar baik untuk Paman sekeluarga.”

Untuk bisa meyakinkan hati mereka, Yo Han sengaja berkelebat dan lenyap dari depan mereka. Tentu saja ayah, ibu dan anak itu terkejut dan sejenak tertegun. Pemuda itu dapat menghilang begitu saja dari depan mata mereka! Setelah Yo Han pergi, tiada hentinya mereka bertiga membicarakan pemuda itu dan timbul harapan di hati mereka bahwa pemuda yang luar biasa itu akan berhasil menolong mereka.....

********************

Memang benar sekali apa yang telah dikemukakan Gan Seng, isterinya dan puterinya. Sungguh tak mudah, bahkan berbahaya sekali untuk melakukan penyelidikan ke dalam gedung tempat tinggal Panglima Coan itu.

Gedung itu besar dan dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti sebuah benteng kecil. Memang pantas menjadi tempat tinggal seorang panglima tinggi yang memimpin pasukan besar. Di pintu gerbang terdapat sebuah gubuk penjagaan di mana berkumpul belasan orang prajurit penjaga, dan masih ada lagi pengawal yang selalu meronda di sekaliling pagar tembok itu.

Yo Han maklum bahwa di waktu siang hari, tak mungkin menyelundup masuk ke dalam gedung itu. Andai kata dia dapat mengelabui para penjaga di luar dan dapat masuk ke dalam, masih ada bahaya ketahuan di bagian dalam gedung yang tentu dijaga ketat.

Siang hari itu dia tidak berani masuk, hanya mengelilingi bangunan itu di luar pagar tembok dan melihat-lihat keadaan. Ketika dia melihat sebuah pohon yang tumbuh di bagian belakang, agak jauh dari bangunan, dia dapat menduga, bahwa pohon itu tentu tumbuh di kebun belakang, dekat dengan pagar tembok dan dia pun memilih tempat ini untuk menyelinap masuk malam nanti kalau sudah gelap.

Siang itu dia kembali ke rumah penginapan, menanti datangnya malam. Setelah malam tiba, dia menanti sampai gelap benar barulah meninggalkan rumah penginapan secara sembunyi, melalui jendela dan meloncat ke atas genteng agar kepergiannya dari situ tidak ketahuan orang lain.

Tidak lama kemudian, dia sudah tiba di luar pagar tembok sebelah belakang di mana siang tadi dia melihat ada pohon di sebelah dalam pagar. Dia menanti sampai peronda lewat, lalu dia melompat ke atas pagar tembok. Benar dugaannya, pohon itu tumbuh di kebun belakang dan dia pun melompat ke pohon itu, menanti sambil meneliti keadaan.

Dari atas pohon dia dapat melihat beberapa orang penjaga di kanan kiri rumah dan di sebelah belakang rumah. Di luar pintu belakang terdapat lagi dua orang penjaga tengah bercakap-cakap. Di atas mereka terdapat sebuah lampu minyak gantung yang cukup terang.

Bukan main, pikir Yo Han. Agaknya panglima itu telah melakukan penjagaan diri dengan sangat ketat. Hal ini saja sudah mencurigakan. Hanya orang yang menjaga diri terhadap penyerbuan dari luar saja yang menyuruh pasukan pengawal menjaga rumah demikian ketatnya. Tentu ada sesuatu yang perlu dijaga!

Makin tebal dugaannya bahwa Panglima Coan inilah yang sengaja mencuri pusaka itu untuk memaksa Gan Seng menyerahkan anak gadisnya! Bagi seorang panglima yang mengepalai pasukan, kiranya tidak begitu sulit untuk melakukan pencurian itu. Seorang atau dua orang penjaga keamanan gudang pusaka itu tentu telah dapat dipengaruhinya, untuk mencurikan pusaka itu untuknya! Pusaka yang sangat penting bagi istana, yang kehilangannya akan mendatangkan dosa besar bagi Gan Taijin, akan tetapi yang tidak ada gunanya bagi Si Pencuri!

Setelah melihat suasana semakin sunyi dan yang menghalanginya masuk ke gedung besar itu hanya dua orang penjaga di luar pintu belakang, Yo Han meloncat turun dari atas pohon, kemudian berindap-indap mendekati dua orang penjaga yang masih duduk berhadapan di bangku, kini tidak lagi bercakap-cakap melainkan sedang bermain catur.

Yo Han mengambil dua buah kerikil dan setelah membidik dengan hati-hati, dua kali tangannya bergerak. Dua buah batu kerikil melayang dan dengan beruntun, dua orang pemain catur itu terpelanting dari tempat duduk mereka dalam keadaan lemas tanpa mampu bergerak akibat jalan darah mereka sudah tertotok oleh kerikil yang disambitkan tadi.

Dengan cepat Yo Han meloncat mendekati mereka, lalu menotok pangkal leher mereka sehingga sekarang mereka juga tak mampu bersuara. Dia menyeret tubuh mereka dan menyembunyikan tubuh mereka di bagian yang gelap, kemudian dengan hati-hati dia membuka daun pintu belakang. Dia tiba di taman bunga belakang gedung yang amat indah.

Tak lama kemudian, Yo Han sudah mengintai sebuah ruangan di tengah gedung itu. Ada kesibukan di sana dan ketika dia mengintai, dia melihat seorang panglima, hal ini dapat ia ketahui dari pakaiannya, sedang dihadapi oleh tiga orang kakek berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun yang berpakaian preman, akan tetapi nampaknya kuat.

Dia menduga bahwa tiga orang itu tentulah jagoan-jagoan dan mungkin sekali panglima itu yang bernama Coan. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar bermuka hitam dengan bopeng bekas cacar. Seorang pria yang wajahnya kasar dan buruk sekali. Tak mengherankan bila Bi Kim dan ayah ibunya menolak pinangannya. Sudah memiliki banyak selir mukanya buruk pula! Padahal Bi Kim demikian cantik jelita dan masih amat muda.

Empat orang itu bercakap-cakap dan Yo Han mengerahkan kepekaan telinganya untuk menangkap percakapan mereka.

“Akan tetapi, bagaimana kalau dia menolak, Ciangkun?” tanya salah seorang di antara tiga jagoan yang mukanya kuning dan matanya sipit.

“Hemmm, kalau dia menolak, dia akan dijatuhi hukuman berat, juga keluarganya. Dia pasti tidak akan menolak uluran tanganku untuk menyelamatkan keluarganya,” berkata pembesar itu sambil menyeringai sehingga nampaklah giginya yang besar-besar. Makin buruk orang itu kalau menyeringai, pikir Yo Han.

“Kalau begitu, semua jerih payah kita tidak akan ada gunanya, Ciangkun!” kata orang ke dua yang perutnya gendut sehingga kancing bajunya bagian bawah terlepas semua dan nampak kulit perut yang buncit itu.

“Benar, kalau begitu, apa artinya semua jerih payah ini? Terbasminya keluarga itu sama sekali tidak membawa keuntungan, Ciangkun,” kata orang ke tiga yang tinggi kurus dan hidungnya seperti hidung burung kakatua yang melengkung panjang ke bawah hingga matanya nampak agak juling.

Panglima itu terbahak. “Ha-ha-ha, apa kalian kira aku begitu bodoh untuk membuang tenaga sia-sia belaka? Kalau mereka itu bersikeras tidak mau menerimaku, aku akan menghadap Sri Baginda. Aku akan mencarikan pusaka itu sampai dapat, tentu dengan imbalan anugerah, yaitu supaya gadis jelita itu diserahkan kepadaku. Kalau Kaisar yang memerintahkan, mustahil orang she Gan itu berani membantah lagi. Ha-ha-ha!”

Tiga orang itu pun tertawa gembira dan memuji kecerdikan majikan mereka. Yo Han yang mengintai tidak ragu-ragu lagi. Sudah pasti panglima inilah yang bernama Coan Ciangkun dan tiga orang itu tentu anak buahnya, atau jagoan-jagoannya.

Inilah kesempatan terbaik, pikirnya. Kalau dia harus mencari pusaka-pusaka itu, tentu akan sukar sekali karena panglima itu tentu menyembunyikannya. Amat sukar mencari pusaka yang disembunyikan di gedung sebesar itu, apa lagi yang dipenuhi penjagaan ketat.

Sekali dorong saja, jendela yang terkunci dari dalam itu terbuka dan kuncinya jebol. Sebelum empat orang itu hilang kaget mereka, mendadak mereka melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda.

“Engkaukah yang disebut Coan Ciangkun?” tanya Yo Han dengan suara tenang sambil memandang panglima itu.

Setelah hilang kagetnya dan melihat bahwa yang masuk secara lancang itu hanyalah seorang pemuda yang tidak memegang senjata dan hanya berpakaian sederhana saja, bangkitlah kemarahan Coon Ciangkun.

“Sudah tahu aku Coan Ciangkun dan engkau berani masuk seperti maling? Apakah nyawamu sudah rangkap lima? Tangkap dia!” bentak panglima itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Yo Han.

Mendengar ini, Si Perut Gendut tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, cacing tanah, berani sekali engkau lancang masuk ke sini! Hendak mencuri apakah? Hayo cepat berlutut, atau akan kupatah-patahkan tulang kedua kakimu supaya engkau berlutut dan minta ampun kepada Coan Ciangkun!”

Yo Han bersikap tenang dan matanya masih terus memandang kepada panglima itu. “Aku tidak ingin mencuri apa-apa, bahkan hendak menangkap pencuri dua buah benda pusaka dari gedung pusaka istana!”

Tentu saja ucapannya ini mengejutkan empat orang itu.

“Tong Gu, cepat kau tangkap dia!” bentak panglima itu kepada Si Gendut yang bernama Tong Gu.

“Haiiiittt...!”

Tong Gu menerjang ke depan, gerakannya seperti sebuah bola menggelundung menuju ke arah Yo Han dan agaknya dia benar-benar hendak mematahkan kedua tulang kaki Yo Han karena begitu menerjang, dia sudah membuat gerakan menyapu dengan kaki kanannya yang pendek namun besar. Biar pun berperut gendut, gerakannya gesit sekali dan kaki kanannya sudah menyambar ke arah kedua kaki Yo Han.

Namun, Yo Han sama sekali tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan berdiri tegak dan masih memandang kepada Coan Ciangkun. Karena itu, tanpa dapat dicegah lagi, kaki kanan Tong Gu menyambar kedua kakinya dengan amat kuatnya.

“Bresss...!”

Bukan tulang kedua kaki Yo Han yang patah-patah, melainkan justru Si Gendut yang berteriak-teriak kesakitan, meloncat-loncat dengan tumpuan kaki kiri sambil mencoba untuk memegangi kaki kanan dengan kedua tangannya. Tetapi karena kedua lengannya pendek, sedangkan kaki kanan itu pun pendek, maka sulit baginya agar bisa memegang kaki itu.

Dan dia pun berjingkrak menari-nari dengan sebelah kaki. Matanya terbelalak, mulutnya ngos-ngosan seperti orang makan merica saking nyerinya, karena kakinya terasa kiut miut seperti pecah-pecah tulangnya. Akan tetapi, dua orang kawannya menjadi marah dan mereka pun siap untuk menerjang.

Yo Han tidak mempedulikan mereka. Dia melihat panglima itu pun terkejut dan bangkit dari tempat duduknya, siap hendak melarikan diri. Sekali tubuhnya berkelebat, Yo Han sudah meloncat ke dekat panglima itu dan jari tangannya menotok. Tubuh panglima itu menjadi lemas dan dia pun jatuh terduduk kembali ke atas kursinya. Dia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak karena Yo Han sudah menghampiri ketiga orang tukang pukul itu dengan sikap tenang.

Kini Tong Gu Si Gendut sudah mencabut golok besarnya. Tulang kakinya tidak patah, akan tetapi membengkak dan kebiruan, nyeri sekali. Si Muka Kuning bermata sipit yang bernama Cong Kak juga sudah mencabut sepasang pedangnya, sedangkan Si Hidung Kakatua mencabut rantai baja. Mereka bertiga mengepung Yo Han, namun pemuda ini bersikap tenang.

Dia tidak suka berkelahi, tidak suka menggunakan kekerasan, akan tetapi sekarang dia bisa melihat kebenaran pendapat mendiang gurunya. Kepandaian silat memang penting sekali, untuk menghadapi orang-orang yang sewenang-wenang seperti ini! Bukan untuk berkelahi, bukan untuk menggunakan kekerasan, melainkan untuk menundukkan yang jahat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan!

“Lebih baik kalian membujuk majikan kalian untuk menyerahkan dua benda curian itu kepadaku. Jika kalian menggunakan kekerasan, maka kalian sendiri yang akan menjadi korban kekerasan kalian itu!” Yo Han masih coba menasehati, karena kalau dapat, dia hendak menyelesaikan masalah itu tanpa harus melawan tiga orang ini.

Tentu saja nasehatnya itu menggelikan bagi orang-orang yang biasa menggunakan kekerasan itu. Mereka sudah marah sekali dan tanpa dikomando lagi, ketiganya sudah memutar-mutar senjata dan menggerakkan senjata mereka dengan kuat dan cepat, menerjang ke arah Yo Han.

Pemuda ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang sangat tinggi, akan tetapi belum pernah dia menggunakannya dalam perkelahian. Meski demikian, melihat gerakan tiga orang yang bagi orang lain nampak cepat itu, baginya kelihatan lamban sekali dan dia dapat melihat jelas ke arah mana senjata mereka itu menyambar. Dengan kelincahan tubuhnya yang sudah mempelajari segala macam ilmu tari dari Thian-te Tok-ong yang sebenarnya merupakan ilmu-ilmu silat tinggi, dengan amat mudahnya dia mengelak ke sana sini dan semua serangan senjata itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya.

Yo Han tidak ingin membunuh orang, bahkan melukainya pun dia tidak tega, walau pun dia tahu bahwa tiga orang ini biasanya menggunakan kekerasan untuk menindas orang lain. Dia harus bekerja cepat agar urusan itu segera dapat diselesaikannya dengan baik.

Maka, begitu tangan kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak bisa diikuti pandang mata tiga orang pengeroyoknya, tiba-tiba tiga orang itu berturut-turut jatuh terpelanting dalam keadaan lemas tertotok. Senjata mereka lepas dari pegangan dan mengeluarkan suara berisik ketika terjatuh ke atas lantai.

Akan tetapi, agaknya suara ribut-ribut itu telah terdengar oleh para pengawal panglima itu. Sebelas orang prajurit pengawal lalu berserabutan memasuki ruangan yang luas itu dengan senjata di tangan dan begitu masuk, mereka sudah dapat menduga apa yang terjadi, melihat majikan mereka duduk tak bergerak dan tiga orang jagoan itu roboh dan tak mampu bergerak pula. Maka, serentak mereka mengepung Yo Han dan langsung menyerangnya dengan senjata mereka.

Yo Han maklum bahwa jika ia tidak bertindak cepat, akan makin sukarlah keadaannya. Dia pun mengeluarkan kepandaiannya dan bagaikan seekor burung walet beterbangan, tubuhnya menyambar-nyambar sehingga kembali para pengeroyoknya roboh tertotok seorang demi seorang. Tubuh mereka berserakan, juga ada yang bertumpuk dan dalam waktu yang singkat, sebelas orang itu pun sudah roboh semua tanpa mengalami luka, hanya tertotok dan lemas tak mampu bergerak.

Sebelum datang lagi pengeroyok, sekali loncat Yo Han telah mendekati Coan Ciangkun yang marah duduk tertotok dan tak mampu bergerak. Yo Han membebaskan totokannya terhadap pembesar itu dan Coan Ciangkun dapat pula bergerak. Akan tetapi dia tidak berani bangkit berdiri karena pemuda yang lihai itu sudah mengancamnya dengan jari tangan di leher!

“Mau apa engkau? Engkau akan dihukum mati untuk ini!” kata Coan Ciangkun dengan nada marah. “Pasukanku akan menangkapmu!”

“Sebelum aku di tangkap, aku akan dapat membunuhmu lebih dulu, Ciangkun!” Yo Han mengancam.

Wajah yang marah itu seketika menjadi pucat karena Sang Panglima maklum bahwa pemuda yang dengan mudahnya merobohkan empat belas orang pengawalnya, tentu tidak hanya menggertak, akan tetapi benar-benar akan mampu membunuhnya dengan mudah.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dan meski pun nadanya masih membentak, namun suara itu gemetar.

Yo Han mendengar suara ribut-ribut di luar ruangan, suara banyak orang dan dia tahu bahwa tentu pasukan penjaga sudah datang mengepung ruangan itu.

“Pertama, kau perintahkan agar supaya pasukanmu mundur dan jangan mengganggu percakapan kita di ruangan ini. Hayo cepat lakukan!” Sengaja Yo Han menyentuh leher panglima itu dengan jari-jari tangannya.

Panglima itu bergidik dan dia pun berseru dengan suara nyaring.

“Pasukan jaga, semua mundur dan jangan ganggu aku. Kami sedang bicara dan siapa pun tidak boleh mengganggu kami!”

Suaranya dikenal oleh para penjaga. Meski merasa heran, mereka semua mendengar dan tidak berani mendekati ruangan itu biar pun di sebelah sana mereka tetap mengatur pengepungan karena mereka tahu bahwa ada seorang asing bersama majikan mereka, dan bahwa belasan orang pengawal telah dirobohkan orang asing itu.

“Bagus, Ciangkun. Kalau engkau berkenan memenuhi semua permintaanku, aku akan membebaskanmu dan tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, keluarkan dua buah benda mustika yang kau curi dari dalam gedung pusaka istana itu!”

Wajah itu semakin pucat. “Apa... apa maksudmu? Pusaka... yang mana...?”

“Engkau tidak perlu berpura-pura lagi, Ciangkun. Aku sudah tahu semuanya. Engkau mendendam kepada keluarga Gan akibat lamaranmu ditolak, dan untuk membalas sakit hati itu, engkau sengaja menyuruh orang mencuri dua buah benda pusaka dari dalam gedung pusaka istana agar Gan Taijin menerima hukuman. Dan engkau menjanjikan kepada Gan Taijin untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu asal dia mau menyerahkan puterinya kepadamu!”

Sepasang mata itu terbelalak. “Tidak…! Tidak…! Mana buktinya bahwa aku melakukan semua itu?”

Yo Han memandang ke arah meja di depan panglima itu. Sebuah meja yang terbuat dari papan yang tebal. Dia menggerakkan tangan kirinya mencengkeram ke arah ujung meja.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner