SILUMAN GOA TENGKORAK : JILID-04


Tentu saja Kim Hong menganggap perjalanan itu mudah saja dan kalau dia mau, dia bisa bergerak cepat, jauh lebih cepat dari pada si tosu. Akan tetapi dia tak mau memamerkan kepandaian maka dia hanya bergerak mengikuti tosu itu saja. Akhirnya, tibalah mereka di daerah berbatu-batu, di hadapan mereka terbentang dinding batu karang yang tinggi dan penuh dengan goa-goa yang bentuknya menyeramkan, karena banyak di antara goa goa itu yang bentuknya mirip seperti tengkorak manusia.

"Inikah Goa Tengkorak...?" Kim Hong bertanya, seperti kepada diri sendiri ketika melihat kakek itu berhenti bergerak kemudian memandang ke arah dinding karang yang tinggi dan panjang itu.

Memang tempat itu sangat sunyi dan kering kerontang, tempat yang terpencil dan sukar sekali didatangi. Tempat yang sangat patut menjadi tempat sembunyi sebangsa siluman atau setidaknya para penjahat besar yang hendak menghindarkan diri dari pengejaran.

"Lalu di goa yang manakah temanku itu masuk?”

"Di goa yang sana itu, nona. Tapi... tapi nona jangan masuk... ahhh, sungguh berbahaya sekali, nona."

"Bagaimana totiang tahu bahwa masuk ke sana berbahaya?" Kim Hong bertanya secara tiba-tiba sambil menatap tajam wajah kakek itu.

"Bukankah kongcu masuk ke sana dan tidak keluar lagi? Bagaimana kalau nona juga tak keluar lagi?"

"Sudahlah, lebih baik totiang kembali saja dan biarkan aku sendiri mencari temanku. Jadi, di goa itu masuknya?"

"Benar, nona. Dan pinto akan menanti di sini..."

Kim Hong sudah berloncatan menuju ke goa yang ditunjukkan oleh kakek itu. Sebuah goa yang bentuknya seperti tengkorak dan kelihatan hitam gelap karena cahaya matahari tak dapat memasukinya. Ia bersikap waspada, mengerahkan sinkang-nya dan memasuki goa itu dengan seluruh urat syaraf tubuhnya siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Di tempat seperti ini mungkin saja dipasangi alat-alat rahasia dan jebakan-jebakan, pikirnya.

Akan tetapi kkhawatirannya itu tak terbukti. Di dalam goa itu tidak ditemukan sesuatu pun juga. Goa yang lebar dan dalam akan tetapi kosong, dan penyelidikannya terbentur pada dinding-dinding batu goa itu. Tidak terdapat terowongan atau pintu rahasia, tidak terdapat jebakan-jebakan dan di situ dia tidak menemukan jejak Thian Sin.

Dengan kecewa dia pun keluar lagi dan ternyata tosu itu masih menunggu di tempat yang tadi. Melihat dia muncul kembali, tosu itu cepat menghampiri.

“Siancai... siancai... sungguh gembira sekali hati pinto melihat nona sudah keluar dalam keadaan selamat!"

"Totiang, benarkah temanku itu masuk ke dalam goa ini?"

"Benar, nona."

"Namun tidak kutemukan apa-apa di dalamnya. Goa biasa dan tidak ada jalan tembusan. Bagaimana mungkin temanku itu lenyap begitu saja di dalamnya?"

"Aih, nona, di tempat seperti ini, apakah yang tak mungkin? Siapa tahu akan rahasianya. Pinto rasa, yang dapat membantu dan menerangkan kepada nona hanyalah susiok pinto itu seorang. Kalau nona mau, mari pinto antarkan nona ke sana menjumpainya."

Hati Kim Hong mulai tertarik. Apa bila dia harus mencari sendiri tanpa adanya jejak sama sekali, mana mungkin? Tempat ini penuh dengan goa-goa dan daerah ini berbatu-batu, sedikit pun tidak kelihatan jejak Thian Sin. Pemuda itu lenyap secara aneh di dalam goa yang biasa saja. Ataukah kakek ini yang berbohong padanya? Dan kakek ini menjanjikan bantuan lewat seorang susiok-nya yang pandai ilmu sihir. Hemm, sungguh mencurigakan, dan menarik sekali.

Ada dua kemungkinan yang menguntungkan baginya. Pertama, siapa tahu kalau-kalau paman guru dari pendeta ini benar-benar sakti dan dapat memberi tahu di mana adanya Thian Sin. Ke dua, andai kata pendeta ini berbohong, tentu ada sebabnya dan tentu ada hubungannya dengan lenyapnya Thin Sin.

Agaknya inilah satu-satunya jejak yang harus ditelusurinya dan dihadapinya, sungguh pun bukan tidak mungkin kalau dia akan menghadapi bahaya. Untuk menolong Thian Sin, dia sanggup menghadapi bahaya yang bagaimana pun juga besarnya.

"Baiklah, totiang. Tentu saja aku mau memperoleh segala macam bentuk bantuan untuk dapat menemukan sahabatku itu. Akan tetapi aku belum mengenal totiang dan susiok dari totiang itu..."

"Nama pinto Siok Cin Cu dan sudah bertahun-tahun pinto bertapa di kuil itu, hidup aman tenteram sampai munculnya kongcu dan nona. Ada pun susiok pinto itu adalah seorang pertapa tua yang tidak lagi mau dikenal namanya, namun tentu saja nona boleh mencoba untuk bertanya kepada beliau kalau berhadapan sendiri. Beliau tidak lagi mau berurusan dengan orang luar, akan tetapi kalau pinto yang membawa nona menghadap, tentu beliau akan mau menolong nona. Hanya susiok sajalah yang akan dapat mengetahui di mana adanya teman nona itu. Marilah, nona."

Kim Hong mengikutinya dan secara diam-diam dia berpikir. Mengapa tosu ini tidak pernah menanyakan namanya atau nama Thian Sin? Sikap ini memperlihatkan sikap tidak peduli, akan tetapi pada lain pihak, kakek ini mau bersusah payah mengantar mereka ke goa dan sekarang sedang berusaha untuk menolong dengan membawanya kepada susiok-nya. Ini menunjukkan sikap yang sangat peduli.

Dan bila mana ada sikap yang amat bertentangan ini, tentu ada apa-apanya! Atau tosu ini memang orang aneh sekali atau memang bermain sandiwara. Maka sebaiknya kalau dia pun ikut saja bermain sandiwara agar dapat melihat apa yang sedang terjadi di balik layar.

********************

Gubuk kecil itu berada di atas bukit di balik dinding batu karang. Letaknya mengingatkan Kim Hong kepada kuil tempat tinggal Siok Cin Cu, yaitu di puncak bukit dari mana dapat nampak pemandangan di bawah, sampai ke permukaan Sungai Fen-ho dengan jelasnya. Sebuah tempat penjagaan yang amat baik, seperti juga di kuil itu, pikir Kim Hong. Mereka tiba di depan gubuk kecil panjang itu menjelang sore.

"Harap nona menunggu sebentar di luar, pinto hendak menghadap dan membujuk susiok agar suka menerima nona.”

Kim Hong mengangguk. Akan tetapi pada waktu tosu itu memasuki pintu depan pondok, dia segera mempergunakan ginkang-nya untuk menyelinap mendekati pondok kemudian memasukinya dari belakang.

Pondok itu kecil namun panjang. Ketika dia mendengar suara orang bercakap-cakap dari ruangan dalam, dia cepat mengintai dari balik jendela. Ia melihat sebuah ruangan panjang yang gelap, dan Siok Cin Cu telah berada di situ, berlutut di atas lantai di depan seorang pendeta lain yang duduk di tempat yang gelap, hanya nampak bentuk tubuhnya saja yang jangkung dan sepasang matanya yang seperti mencorong di dalam gelap.

Pendeta itu, yang dapat dikenal dari pakaiannya yang bentuknya seperti jubah kebesaran, duduk bersila di atas bantalan bundar, tidak bergerak seperti patung yang menyeramkan karena matanya seperti mata harimau, atau seperti mata setan.

"Susiok, harap susiok memaafkan teecu yang lancang datang menghadap. Teecu sedang mengantarkan seorang nona yang menghadapi kegelisahan besar karena dia kehilangan seorang sahabatnya. Teecu mohon kerelaan hati susiok untuk bisa memberikan petunjuk kepadanya."

"Siancai... siancai...! Orang-orang muda yang ceroboh, terlalu mengandalkan kepandaian sendiri untuk mencampuri urusan orang lain. Sungguh berani sekali mereka itu menentang siluman-siluman Goa Tengkorak... siancai...! Akan tetapi karena engkau sudah mengajak nona itu ke sini, Siok Cin Cu, biarlah akan kucoba menolongnya. Suruh dia masuk."

Setelah melibat dan mendengar ini, cepat Kim Hong meloncat keluar lagi dan jantungnya berdebar heran. Bagaimana kakek itu langsung dapat mengetahui bahwa dia dan Thian Sin menentang siluman-siluman Goa Tengkorak? Melihat sikap Siok Cin Cu pada waktu menghadap tadi, maka keraguannya bahwa pendeta itu menipunya mulai berkurang dan dia pun mulai percaya bahwa susiok dari pendeta itu boleh jadi memang mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa.

Ketika tosu itu muncul, Kim Hong berlagak seperti sedang melihat-lihat keadaan di bawah bukit. Dia mendapat kenyataan bahwa dari bukit itu, seperti juga dari kuil si tosu, bagian bawah dari daerah Goa Siluman dapat nampak sehingga setiap ada orang yang mendaki menuju ke tempat itu, tentu dapat terlihat dari kedua tempat ini.

"Nona, sungguh beruntung sekali. Susiok mau menerimamu. Mari, nona, silakan masuk."

Kim Hong mengangguk lantas mengikuti tosu itu masuk ke dalam pintu depan dan begitu masuk, dia melihat betapa di sebelah dalam rumah itu gelap sekali karena semua jendela tertutup. Hanya ada sedikit cahaya yang menerobos masuk melewati celah-celah dinding, membuat cuaca di dalam ruangan dalam rumah itu remang-remang.

"Silakan, nona," bisik Siok Cin Cu yang memberi isyarat kepada dara itu untuk maju ketika mereka tiba di ruangan yang tadi diintai oleh Kim Hong. Kim Hong masih tetap bersikap waspada.

Memang sudah semestinya seorang pendekar tidak pernah meninggalkan kecurigaan dan kewaspadaannya, begitulah pelajaran yang sejak dahulu ditekankan di dalam hatinya oleh orang tuanya. Maka, biar pun dia mulai percaya kepada Siok Cin Cu yang dianggapnya tidak mempunyai iktikad buruk, tetap saja dara perkasa ini bersikap waspada dan selalu siap menghadapi bahaya dari mana pun juga datangnya. Dia memandang kepada sosok tubuh yang duduk bersila di sudut ruangan, lalu menjura kepada sosok tubuh itu.

"Ahhh, selamat datang, nona. Silakan duduk dan maafkan, di sini pinto tidak memiliki kursi dan meja, maka terpaksa kita duduk di atas lantai saja. Silakan." Sosok tubuh itu berkata
tanpa bergerak.

"Terima kasih, locianpwe," jawab Kim Hong yang segera duduk bersimpuh di atas lantai.

Dia lalu menggunakan tangannya menekan lantai sambil mengerahkan sinkang-nya untuk melihat apakah lantai itu asli ataukah ada rahasianya dan merupakan perangkap. Namun hatinya terasa lega ketika mendapatkan kenyataan bahwa lantai itu merupakan lantai batu yang tidak mongandung sesuatu yang mencurigakan.

"Sekarang katakan, apakah yang dapat pinto lakukan untuk membantumu, nona?"

Diam-diam Kim Hong memuji kakek itu. Biar pun dia tidak dapat melihat dengan jelas, dia dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang pria yang sudah tua, apa lagi bukankah pria ini merupakan paman guru dari tosu Siok Cin Cu? Betapa pun juga, kakek ini tidak sombong, biar pun sudah jelas tahu apa yang menjadi kesulitannya, akan tetapi kakek itu masih bertanya dan tidak mendahuluinya menyombongkan pengetahuannya.

"Locianpwe, saya mencari seorang sahabat saya yang hilang setelah dia memasuki salah sebuah goa dan saya tak dapat menemukan jejaknya lagi. Mohon pertolongan locianpwe untuk memberi petunjuk di mana adanya sahabat saya itu."

Hening sejenak dan Kim Hong mencurahkan perhatiannya untuk mendengarkan jawaban dari sosok tubuh yang masih bersila tanpa tergerak itu. Akhirnya, setelah menunggu agak lama, kakek itu menjawab.

"Hemm, bukankah temanmu itu seorang pemuda perkasa dan berdarah bangsawan tinggi, she-nya Ceng?"

Diam-diam Kim Hong terkejut. Ternyata orang ini benar-benar hebat!

"Dan engkau sendiri juga berdarah bangsawan tinggi she Toan, bukan?"

Kim Hong makin terkejut dan makin tertarik.

"Benar, locianpwe," jawabnya dan kini dia mulai percaya bahwa dia memang berhadapan dengan seorang tua yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bahkan dia mulai memelihara harapan bahwa kakek ini benar-benar akan dapat menolongnya dan dapat memberi tahu di mana adanya Thian Sin.

"Kalau begitu, engkau pandanglah ke sini, nona. Lihatlah baik-baik dan apakah yang bisa nampak olehmu?"

Kim Hong mengangkat mukanya memandang. Matanya terbelalak melihat sebuah wajah yang remang-remang, akan tetapi di atas kepala itu nampak sebuah sinar laksana lampu yang amat terang dan menyilaukan mata.

"Engkau merasa silau, nona? Jika silau, pejamkanlah matamu sejenak. Nah... begitulah, pejamkan matamu dan terasa amat nikmat bukan? Nikmat untuk tidur. Kini engkau mulai mengantuk, karena itu tidurlah, nona. Di sini aman, dan aku akan melindungimu, tidurlah, nona, tidurlah dengan nyenyak."

Kim Hong tadinya tidak tahu bahwa dia sudah terseret oleh kekuatan yang luar biasa dan begitu dia menuruti permintaan suara itu tadi untuk memandang dan menjadi silau melihat sinar menyilaukan, dia seakan-akan telah membiarkan semangatnya dikuasai orang yang memiliki ilmu sihir!

Ketika suara itu dengan lembutnya menyuruhnya memejamkan mata, maka otomatis dia pun memejamkan matanya, dan ketika mendengar suara menyuruhnya tidur, dia seperti tidak sanggup lagi menahan rasa kantuknya yang membuat matanya berat dan tak dapat dibukanya lagi. Ia ingin tidur, sungguh ingin sekali untuk tidur dan betapa nikmatnya kalau dapat tidur pulas pada saat itu!

Akan tetapi, Kim Hong bukanlah seorang dara biasa. Selain memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan tenaga sinkang amat kuat, juga dia sudah hidup berdua bersama Ceng Thian Sin selama beberapa tahun ini sehingga dalam percakapan mereka kadang-kadang Ceng Thian Sin membuka rahasia tentang kekuatan sihir. Walau pun dia tidak mempelajari ilmu itu, akan tetapi dia sudah mulai mengerti akan seluk-beluknya.

Karena itu, ketika kekuatan sihir dari kakek itu mulai mempengaruhi serta membelenggu dirinya, dia terkejut dan teringat lalu mengerahkan sinkang-nya untuk memberontak! Kim Hong berhasil meronta, bahkan lalu meloncat berdiri. Akan tetapi, saat dia masih sedang bersitegang melepaskan diri dari keadaan tidak sadar itu, tiba-tiba ada sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu kedua pundak Kim Hong telah ditotok orang.

Dara perkasa ini baru dalam keadaan setengah sadar, masih terpengaruh oleh kekuatan sihir, maka biar pun nalurinya yang amat kuat itu membuat dia berusaha mengelak, tetapi tetap saja totokan pada pundak kirinya mengenai sasaran dan tubuhnya yang sebelah kiri seketika menjadi kehilangan tenaga seperti lumpuh.

Pada saat itu pula dia langsung diringkus lantas kaki tangannya dibelenggu, kemudian jari tangan yang kuat menekan pundak kanannya dan habislah kekuatannya. Dia tertotok dan tidak mampu bergerak lagi!

"Bagus!" katanya sambil menekan kemarahannya. "Ternyata engkau adalah Siluman Goa Tengkorak!"

Akan tetapi yang menjawabnya hanya suara ketawa saja. Tanpa dapat melawannya, Kim Hong melihat dirinya dimasukkan ke dalam sebuah karung hitam kemudian dia dipondong orang dan dibawa pergi dari situ. Ia tahu bahwa yang memondongnya bukan Siok Cin Cu, karena orang ini memiliki ginkang yang jauh lebih lihai dari pada tosu itu.

Kim Hong tidak tahu ke mana dirinya dibawa. Dari dalam karung hitam itu dia tidak dapat melihat sesuatu dan dia hanya merasa dibawa naik turun dengan cepat. Sesudah lewat waktu cukup lama, akhirnya dia dikeluarkan dari dalam karung dan dilemparkan ke dalam sebuah kamar, di atas dipan, dalam keadaan tertotok dan terbelenggu kaki tangannya!

Ternyata kamar itu hanya sebuah kamar yang tidak begitu besar, dari tembok tebal dan pintunya dari besi, ada lubang-lubang angin di bawah dan di atas. Sebuah kamar tahanan yang sangat kuat. Pintu itu sudah dikunci, akan tetapi dari jeruji yang terdapat di bagian atas pintu besi, dia dapat melihat ada orang di luar pintu. Seorang laki-laki yang berjubah sutera putih, dengan gambar tengkorak darah di dadanya dan mukanya tertutup topeng tengkorak!

Tentu saja Kim Hong merasa ngeri. Bukankah siluman itu sudah tewas bersama kudanya di dasar jurang? Akan tetapi dia segera dapat menenangkan dirinya dan mengertilah dia bahwa Siluman Goa Tengkorak bukan hanya terdiri dari seorang penjahat saja.

Hari sudah menjadi malam dan kamar itu hanya menerima cahaya lampu yang berada di luar kamar, melewati lubang-lubang angin dan jeruji pintu besi. Kim Hong mengumpulkan kekuatannya dan menjelang tengah hari dia pun berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan.

Setelah pengaruh totokan itu punah, dengan pengerahan sinkang dia dapat mematahkan belenggu di kaki tangannya. Akan tetapi, baru saja dia bangkit dan hendak mencari jalan keluar, terdengar suara mendesis-desis dan dia melihat asap putih menyembur-nyembur masuk dari lubang-lubang angin.

Begitu mencium asap ini maka tahulah dia bahwa asap itu adalah asap yang mengandung racun bius! Maka dia pun cepat-cepat bertiarap di atas lantai, akan tetapi tindakannya ini hanya memperpanjang sedikit waktu saja karena akhirnya dia terpaksa menyedot asap itu dan jatuh pingsan.

Malam telah larut ketika Kim Hong siuman kembali. Kamar telah bersih dari asap, tapi dia merasakan kepalanya agak pening. Kaki tangannya telah terbelenggu kembali, malah kini tubuhnya sudah diletakkan orang di atas dipan. Terdengar suara di pintu dan ketika dia menengok, dia melihat ada orang bertopeng tengkorak di luar pintu.

"Nona, jika sekali lagi engkau melepaskan belenggu dan mencoba lari, hukumannya tentu lebih berat. Asap bius itu tidak mungkin nona lawan. Sebaiknya nona menyerah saja dan kami akan memperlakukan nona dengan baik-baik." Sesudah berkata demikian, orang itu
meninggalkan pintu.

Kim Hong maklum bahwa dia terjatuh ke dalam tangan gerombolan yang lihai sekali dan dia pun tahu bahwa pada saat itu dia tidak berdaya sehingga tak mungkin meloloskan diri dengan kekerasan. Asap pembius yang sewaktu-waktu bisa masuk melalui lubang-lubang angin itu memang tak mungkin dapat dilawan dan dihindarkan, dan biar pun tidak nampak adanya penjaga, dia tahu bahwa ada penjaga-penjaga bersembunyi dan selalu mengamati gerak-geriknya.

Celaka, pikirnya. Tentu Thian Sin juga sudah tertawan oleh mereka. Tenang, dia mencela diri sendiri. Tenang! Hanya ketenangan batin sajalah satu-satunya hal yang mungkin akan dapat menolongnya dan juga menolong Thian Sin. Maka dia pun lalu memejamkan mata untuk tidur agar kekuatannya dapat pulih kembali…..

********************

Ke manakah perginya Ceng Thian Sin? Apa yang dikhawatirkan oleh Kim Hong memang benar. Pemuda itu pasti akan kembali ke dalam hutan seperti yang sudah dijanjikannya kepada Kim Hong kalau tidak ada hal yang membuatnya tidak mungkin melakukan hal itu.

Seperti yang telah kita ketahui, setelah bertemu dengan Cia Liong dan Cia Ling kemudian mendengar pesan terakhir dari Kwee Siu, setelah mengubur jenazah pendekar itu, Thian Sin lantas membagi tugas dengan kekasihnya. Dia menyuruh Kim Hong menyelamatkan dua orang anak itu dan menitipkannya kepada orang di tempat yang aman, kemudian dia sendiri lalu mencari jejak siluman yang telah membunuh Kwee Siu.

Jejak itu membawanya ke daerah Goa Tengkorak. Akan tetapi setelah tiba di kaki bukit di mana terdapat tebing Goa Tengkorak, seperti juga Kim Hong, dia melihat kuil kuno itu dan hatinya tentu saja tertarik sekali. Dia sendiri belum tahu di mana adanya Goa Tengkorak, tidak tahu bahwa daerah goa itu terdapat di atas tebing, maka dia pun lalu turun dari atas punggung kudanya dan menuntun kuda itu mendaki bukit menuju ke kuil yang berdiri di puncak bukit.

Ketika tiba di depan kuil, dia melihat seorang tosu sedang menyapu pelataran depan kuil itu. Tosu itu berhenti menyapu dan menyambut kedatangan pemuda itu dengan pandang mata heran.

"Maaf totiang apa bila saya mengganggu ketenteraman tempat ini," kata Thian Sin sambil menjura dengan hormat.

Tosu itu cepat membalas dengan anggukan dan kedua tangan dirangkap di depan dada. "Siancai... siancai…! Sungguh merupakan hal yang sangat mengherankan melihat tempat ini kedatangan tamu seperti kongcu!" jawab tosu itu yang bukan lain adalah tosu yang kemudian mengaku bernama Siok Cin Cu pada Kim Hong. "Bagaimanakah kongcu dapat tiba di tempat yang terasing ini dan apakah gerangan keperluan kongcu bersusah payah mendaki tempat ini?"

"Maaf, totiang. Saya hendak mohon petunjuk totiang tentang tempat yang dinamakan Goa Tengkorak. Saya sedang mencari tempat itu."

Tosu itu tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya, tetapi pandang matanya bersinar dan tentu saja sedikit hal ini tidak terlewat dari ketajaman pandang mata Thian Sin.

"Goa Tengkorak...?"

"Benar, apakah totiang mengetahui tempat itu?"

Kakek itu mengangguk kemudian memandang pada wajah pemuda itu dengan ragu-ragu. "Tapi... ada keperluan apakah kongcu datang ke tempat seperti itu?"

"Tempat seperti itu? Apakah yang totiang maksudkan? Ada apakah dengan tempat itu?" Thian Sin balas bertanya.

Tosu itu nampak bingung oleh serangan kata-kata Thian Sin ini, lalu menggeleng kepala. "Tidak apa-apa, hanya... selama bertahun-tahun ini belum pernah pinto melihat ada orang mencari tempat itu, maka pinto merasa terkejut dan heran ketika tiba-tiba kongcu muncul dan mencari tempat itu."

Jawaban yang teratur sekali, pikir Thian Sin. Menghadapi tosu yang sangat pintar ini tidak ada gunanya berputar lidah, maka dia pun segera berkata, "Sesungguhnya saya hendak menyelidiki Goa Tengkorak dan hendak mencari Siluman Goa Tengkorak, totiang."

Sekarang tosu itu nampak terkejut dan agaknya dia tidak menyembunyikan rasa kagetnya mendengar disebutnya Siluman Goa Tengkorak. Akan tetapi tosu itu menentang pandang mata Thian Sin yang tajam penuh selidik itu, lalu menarik napas panjang.

"Siancai... jangan-jangan kongcu mengira bahwa pintolah orangnya yang terkenal dengan sebutan Siluman Goa Tengkorak!"

Diam-diam Thian Sin kagum dengan kecerdikan orang ini dan dia semakin waspada. Dia tersenyum ramah lantas berkata, "Baru saja aku mendengar nama itu, totiang, tentu saja aku tak berani menuduh dan menduga sembarangan. Dan karena totiang juga mengenal nama itu, maka aku ingin mohon petunjuk totiang di mana kiranya aku bisa menemukan siluman itu. Di mana dia tinggal? Apakah di Goa Tengkorak dan di mana letak goa itu?"

Kakek itu kembali menghela napas. "Siapakah yang tidak mendengar namanya, kongcu? Akan tetapi siapa pula yang tahu di mana tempat tinggalnya? Baru kurang lebih sebulan lamanya, pasukan keamanan bersama banyak pendekar telah datang ke sini dan mereka mencari di daerah tebing Goa Tengkorak akan tetapi tak berhasil menemukan apa-apa."

Thian Sin mengangguk-angguk. "Ahh, jadi nama itu sudah terkenal sekali dan dicari oleh pasukan keamanan dan para pendekar, totiang?"

Kakek itu mengangguk-angguk. "Mungkin begitu. Pinto sendiri yang selamanya bertapa di sini tidak tahu menahu akan hal itu. Baru sesudah pasukan itu mencari di daerah ini pinto tahu bahwa semenjak dua tiga bulan ini nama itu dikenal orang. Akan tetapi apakah benar dia berada di sini, tak seorang pun yang tahu. Maka, pinto rasa akan percuma saja kalau kongcu mencarinya, dan pula, amat berbahaya, kongcu."

Thian Sin memandang tajam. "Kenapa berbahaya, totiang?"

"Pinto sudah mendengar berita dari anggota pasukan itu bahwa orang ini amat lihai, ilmu kepandaiannya bagaikan dewa... dan goa-goa itu merupakan tempat berbahaya, kabarnya keramat dan siapa berani memasukinya takkan dapat keluar lagi."

"Aku tidak takut, totiang. Harap totiang suka menunjukkan di mana tempatnya dan kalau memang benar Siluman Goa Tengkorak berada di situ, totiang tidak usah turut campur, biarlah aku sendiri yang akan menghadapinya."

Kakek itu memandang kepada Thian Sin mulai dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia mengangguk-angguk. "Ahhh, kiranya kongcu adalah seorang pendekar muda yang gagah berani. Baiklah kalau begitu, mari pinto antar sampai ke tempatnya. Tetapi tidak mungkin membawa kuda mendaki tempat itu dan setelah tiba di sana, pinto akan segera kembali."

"Terima kasih, totiang," Thian Sin berkata girang dan tosu itu menyuruh dia menambatkan kuda di belakang kuil.

Maka berangkatlah mereka mendaki tebing yang curam itu dan akhirnya Thian Sin berdiri memandang dinding batu karang yang penuh dengan goa yang menyeramkan, goa-goa yang sebagian besar berbentuk tengkorak manusia. Tempat yang sangat sunyi dan tidak ada tanda-tanda bahwa di tempat itu ada manusianya.

"Goa-goa itu telah diperiksa oleh pasukan akan tetapi tidak ada hasilnya," tosu itu berkata dengan suara datar dan terdengar dingin.

"Lalu kenapa mereka mengejar dan mencari ke tempat ini, totiang?"

"Itulah, mungkin karena desas-desus bahwa orang yang sedang mereka cari itu kelihatan memasuki goa itu," kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah goa, nomor tiga dari kiri yang bentuknya juga mirip tengkorak.

"Nomor tiga dari kiri itu?"

"Betul. Nah, sudahlah, kini pinto terpaksa harus meninggalkan kongcu seorang diri di sini. Ataukah kongcu sudah berbalik pikir dan hendak ikut turun kembali bersama pinto?"

Thian Sin memaksa tersenyum. "Kalau totiang mengira bahwa aku menjadi jeri atau takut sesudah mendengar cerita totiang atau sesudah melihat tempat ini, totiang sudah salah duga. Tidak, aku akan mencari Siluman Goa Tengkorak dan aku yakin pasti akan dapat menemukan dia di sini kalau memang benar di sini tempat tinggalnya." Pemuda perkasa itu melihat betapa pandangan tosu itu bersinar seperti orang tersinggung, akan tetapi tosu itu segera menundukkan mukanya.

"Siancai… semoga kongcu tidak menemui halangan apa pun." Dan tosu itu pun kemudian membalikkan tubuhnya dan turun kembali dari atas tebing.

Setelah tosu itu lenyap di tikungan tebing yang curam itu, Thian Sin lalu berloncatan cepat sekali menghampiri goa-goa di sebelah kiri. Dia memeriksa goa-goa itu, dari goa pertama sampai lima buah goa banyaknya hingga mendapatkan kenyataan bahwa goa ke tiga itu memang yang terbesar dan dalam.

Dia lalu memasuki goa ke tiga ini, sebuah goa yang dalamnya tidak kurang dari dua puluh meter dan lebarnya ada empat meter. Goa ini merupakan ruangan yang cukup luas akan tetapi tentu saja tidak enak apa bila dijadikan tempat tinggal karena lantainya terbuat dari batu-batu yang tidak rata dan bahkan makin ke dalam makin menurun, merupakan lereng dan juga tajam-tajam seperti batu karang di lautan.

Dengan amat waspada dan hati-hati sekali, Thian Sin lalu memeriksa goa ini. Dipandang sepintas lalu saja, tidak mungkin ada yang bersembunyi di sini, karena walau pun goa itu merupakan tempat yang terasing akan tetapi sungguh sangat tidak enak untuk dijadikan tempat tinggal.

Akan tetapi Thian Sin terus memeriksa ruang yang gelap itu dan tiba-tiba dia menemukan sebuah terowongan di sudut kanan, tempat yang paling gelap. Kalau tidak mendekat dan meraba, sulit untuk menemukan terowongan ini. Dia tidak segera masuk, melainkan lebih dahulu memeriksa dengan seksama. Kalau memang tempat ini pernah diperiksa pasukan, tidak mungkin kalau pasukan tidak menemukan terowongan ini.

Ketika dia memeriksa dengan meraba-raba bagian ambang pintu terowongan, jantungnya berdebar meraba papan besi di balik batu yang agaknya tadinya menutup terowongan itu. Jelaslah bahwa terowongan ini merupakan pintu rahasia yang belum lama dibuka orang.

Jika pintu itu dikembalikan ke tempatnya, maka pintu itu akan lenyap dan dinding di sudut itu akan lenyap pula, ada pun dinding di balik batu itu ada terowongannya. Dan tentu saja, sedikit pun tidak akan ada orang yang menduga karena pintu itu nampaknya menjadi satu dengan dinding goa. Penemuan yang kebetulan saja? Ataukah umpan jebakan?

Apa pun juga, inikah jalan satu-satunya, pikir Thian Sin dan aku akan mencari siluman itu sampai dapat! Sesudah mengambil keputusan ini, dengan tabah Thian Sin lalu memasuki terowongan yang gelap itu.

Terowongan itu ternyata cukup besar biar pun dia harus memasukinya dengan tubuh agak membungkuk. Akan tetapi ternyata lantainya lebih rata dari pada lantai di ruangan depan goa itu. Hal ini mendatangkan dugaan bahwa tempat ini memang sengaja dibuat orang.

Ketika dia melangkah maju dengan hati-hati di tempat yang remang-remang dan semakin gelap itu, kurang lebih dua puluh langkah, tiba-tiba terdengar suara keras di belakangnya! Thian Sin cepat membalikkan tubuhnya dan siap siaga menghadapi serangan, akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Suara keras itu diikuti kegelapan yang menelan dirinya, maka tahulah Thian Sin bahwa ada alat rahasia yang sudah menggerakkan batu yang kini menutup lubang terowongan!

Dia menahan senyum dan tidak mau memperlihatkan kepanikan dengan kembali ke mulut terowongan lalu mencoba membuka pintu itu. Tidak, biar pun dia telah terjebak, dia harus terus ke dalam dan menghadapi bahaya apa pun juga! Maka dengan sikap tenang sekali Thian Sin melanjutkan perjalanannya, melalui jalan terowongan yang gelap itu dan melaju terus. Dia mencurahkan seluruh panca inderanya, bersiap untuk menghadapi kalau-kalau ada bahaya serangan dari sekelilingnya.

Lantai terowongan itu tetap rata, bahkan kalau turun ada anak tangganya yang terpasang rapi. Terowongan itu berbelak-belok dan menurut perhitungan Thian Sin, jarak yang telah ditempuhnya semenjak dia memasuki terowongan tidak kurang dari satu li! Akan tetapi dia pun maklum bahwa tempat itu masih berada di dalam daerah Goa Tengkorak, karena biar pun jauh, terowongan itu berlika-liku.

Dengan merentangkan kedua lengannya, dia bisa mengukur lebar sempitnya terowongan itu, juga tinggi rendahnya langit-langit karena dia harus selalu menjaga supaya kepalanya jangan sampai terbentur batu karang yang bergantungan di langit-langit. Ketika dia tiba di sebuah ruangan persegi empat, dia berhenti, lalu meraba-raba dengan kedua tangannya karena dia merasa bahwa dia berada di tempat yang lebih lebar dan luas. Dan tiba-tiba terdengar suara seperti besi bertemu dengan batu.

Karena keadaan masih gelap, Thian Sin tidak berani sembarangan bergerak, melainkan berdiri dan siap siaga untuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada dirinya, tidak ada serangan yang datang sungguh pun dia tadi merasakan ada sambaran angin dari benda-benda yang bergerak sangat cepat dan kuat. Dan suara hiruk-pikuk tadi pun sudah berhenti lagi.

Thian Sin menduga bahwa tentu telah terjadi pergerakan yang merupakan jebakan seperti pada waktu pintu batu terowongan tadi menutup. Dengan hati-hati kakinya meraba-raba ke depan, demikian pula jari tangan kirinya sedangkan tangan kanannya siap siaga untuk menangkis atau menyerang. Kaki serta tangan kirinya itu segera menemukan kenyataan bahwa kini dirinya telah terkurung! Kanan dan kirinya adalah dinding batu yang dingin dan keras, sedangkan di sebelah depannya adalah dinding besi atau baja yang setebal lengan manusia. Dia telah terkurung!

Mendadak tempat itu menjadi terang sekali dan ternyata ada bagian dinding di luar jeruji besi itu yang terbuka. Sebuah pintu besi tiba-tiba saja muncul dan terbuka dan dari situlah datangnya cahaya yang terang itu. Agaknya sinar matahari dapat memasuki tempat yang diduganya tentu berada di bawah tanah ini.

Agak silau juga mata Thian Sin sehingga ia terpaksa memejamkan kedua matanya tanpa mengurangi kewaspadaannya dan kini dia menjaga diri dengan mengandalkan ketajaman pendengaran telinganya. Walau pun dia sedang memejamkan kedua matanya, namun dia mengetahui dari pendengarannya bahwa di luar jeruji besi itu terdapat sedikitnya sepuluh orang yang semuanya mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, terbukti dari gerakan kaki mereka yang gesit dan ringan ketika mereka itu datang mendekat.

Ketika dia membuka kedua matanya, dia melihat bahwa di luar jeruji itu berdiri dua belas orang. Semua orang itu memakai jubah sutera putih dengan gambar tengkorak merah di dada mereka dan muka mereka semuanya memakai topeng tengkorak! Dengan sekilas pandang saja tahulah pemuda perkasa itu bahwa keadaannya sungguh terjepit dan tidak ada harapan baginya untuk dapat meloloskan diri mempergunakan kekerasan.

Dia benar-benar berada di dalam bahaya, terjebak di dalam terowongan bawah tanah dan harus menghadapi banyak musuh yang agaknya tangguh juga. Akan tetapi, bukan watak Pendekar Sadis Ceng Thian Sin untuk berkecil hati dalam keadaan bagaimana pun juga.

Dia berdiri di tengah ruangan itu, menghadapi dua belas orang siluman sambil tersenyum lebar. "Ha-ha-ha, ternyata Siluman Goa Tongkorak yang disohorkan orang itu tiada lain hanyalah kumpulan tikus-tikus gunung yang kehebatannya cuma mengandalkan lubang-lubang tikus jebakan dan pengeroyokan belaka!"

Belasan pasang mata di balik topeng-topeng tengkorak itu mengeluarkan cahaya berkilat tanda bahwa mereka marah sekali mendengar ucapan ini yang sangat merendahkan dan menghina mereka. Seorang dari mereka yang berdiri di pinggir berkata, suaranya halus namun penuh mengandung ancaman.

"Orang muda, engkau sudah tertawan dan nyawamu berada di telapak tangan kami, akan tetapi masih berani bersikap berani dan menghina. Engkau sungguh seorang muda yang gagah perkasa akan tetapi juga bodoh dan bosan hidup. Siapa pun orangnya yang berani lancang memasuki daerah kami tanpa ijin, tentu mati. Akan tetapi karena Sian-su (Guru Dewa) ingin bertemu dan berbicara denganmu, maka engkau selamat. Kini menyerahlah untuk kami bawa menghadap Sian-su, siapa tahu engkau akan diampuni. Akan tetapi bila engkau melawan, tentu nanti akan dibunuh."

Orang itu memberi isyarat dengan tangannya dan sepuluh orang temannya tiba-tiba saja mengeluarkan busur dan anak panah, menodongkan anak panah ke arah Thian Sin. Lain orang di antara mereka melangkah maju, dan jeruji besi itu tiba-tiba saja tertarik ke atas, tentu digerakkan oleh alat rahasia yang tersembunyi. Orang yang bicara itu sendiri sudah mengeluarkan sebatang pedang, agaknya mereka bersiap-siap menyerang apa bila Thian Sin menggunakan kekerasan.

Thian Sin tidak berpikir panjang untuk mengambil keputusan. Apa bila dia menghendaki, kiranya dia akan mampu merobohkan dua belas orang ini dan lolos dari dalam kurungan pada saat kurungan itu dibuka. Akan tetapi dia tahu bahwa perbuatan ini tidak bijaksana.

Mereka ini hanyalah anak buah saja dan dia perlu bertemu dan berhadapan muka dengan pemimpinnya, yang disebut Sian-su oleh orang yang bicara tadi. Dia pun dapat menduga bahwa yang berbicara tadi adalah tosu yang mengantarnya ke tempat itu. Hal ini dapat dikenalnya dari kedudukan kepala orang itu yang agak miring ke kiri. Kepala yang agak miring ke kiri itu sudah dicatatnya sebagai tanda atau ciri dari tosu yang mengantarnya dan orang bertopeng ini pun kepalanya agak miring ke kiri!

Dan andai kata dia bisa lolos dari sini, belum tentu dia akan dapat lolos dari terowongan ini. Mungkin banyak dipasang alat-alat jebakan yang berbahaya, dan dia sendiri belum tahu berapa banyaknya anak buah mereka dan sampai di mana kelihaian Sian-su mereka itu. Pula, dia ingin mengetahui sampai sedalamnya dan ingin menolong pula ibu dari dua orang anak. Kalau sekarang dia mengamuk, mungkin saja dia akan menggagalkan semua usahanya.

"Kepala kalian ingin bicara denganku? Baiklah, aku pun ingin bicara dengan dia!" katanya, kemudian dia membiarkan saja orang bertopeng yang masuk ke dalam ruangan tahanan itu membelenggu kedua pergelangan tangannya ke belakang.

Belenggu itu berupa rantai baja yang cukup kuat. Orang yang bertugas membelenggunya itu agaknya tahu akan tugasnya. Sesudah membelenggu kedua pergelangan tangannya, dia segera menggerakkan tangannya, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya untuk monotok jalan darah tiong-cu-hiat di tengkuk Thian Sin. Pendekar Sadis melihat dan tahu akan hal ini, akan tetapi dia tak bergerak dan pura-pura tidak tahu saja.

"Tukkk!"

Dua jari tangan itu dengan tepatnya menotok bagian di mana terdapat jalan darah tiong-cu-hiat dan biasanya, totokan di tempat ini akan membuat orang yang ditotoknya roboh pingsan. Akan tetapi orang bertopeng itu mengeluarkan seruan kaget sesudah kedua jari tangannya bertemu dengan kulit yang membungkus daging lunak, seolah-olah tanpa urat darah di situ, lunak sekali membuat totokannya itu meleset bagaikan menotok agar-agar saja! Dan orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda hendak pingsan, apa lagi pingsan, bahkan mengedipkan mata pun tidak, seakan-akan totokannya tadi seperti seekor lalat yang hinggap saja!

Tentu saja orang bertopeng itu bukan hanya terkejut, melainkan juga malu dan penasaran sekali. Apa bila dia tidak memakai topeng, tentu akan nampak betapa wajahnya berubah merah bukan main.

Karena merasa betapa kulit daging tawanan itu tadi melunak lembek sekali, dia menduga bahwa orang ini mungkin tidak mempunyai kepandaian apa-apa, atau justru memiliki ilmu melembekkan daging sehingga jalan darah yang ditotok itu bisa meleset ke sana-sini jika ditotok. Cepat dia menggerakkan kembali tangan kanannya dan kini kedua jari tangannya itu menotok dengan pengerahan tenaga keras pula untuk melawan tenaga lembek lawan. Sekali ini, dia memilih jalan darah di belakang pundak, yaitu jalan darah hong-hu-hiat.

"Tukkk...!"

Sekali ini orang bertopeng itu tidak dapat menahan teriakannya, teriakan kesakitan karena tulang dua buah jari tangannya itu rasanya seperti akan patah-patah. Totokannya dengan pengerahan tenaga tadi bertemu dengan kulit yang demikian keras, seperti kulit baja tulen saja sehingga dua jari tangannya terasa nyeri bukan kepalang.

Kini orang kedua yang bertubuh tinggi besar itu menghampiri Thian Sin. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan teriakan nyaring lantas tangan kirinya telah bergerak ke depan dan jari-jari tangannya sudah menotok ke arah dada Thian Sin. Gerakannya mantap dan kuat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner