PENDEKAR BODOH : JILID-20


Sementara itu, Lin Lin lalu menceritakan kepada Ma Hoa tentang semua pengalamannya dan ketika Ma Hoa bertanya di mana adanya Ang I Niocu, dia menjawab, “Siapa yang dapat mengetahui di mana adanya dia sekarang.” Lin Lin lalu menghela napas khawatir. “Sungguh sial sekali, belum juga kami berjumpa dengan Hai-ko, sekarang Cici Im Giok sudah harus berpisah lagi denganku! Ahh, sekarang menjadi makin ruwet, karena selain harus mencari Hai-ko dan Ang-ko, aku pun harus mencari Cici Im Giok! Ehh, Enci Hoa, semenjak tadi aku saja yang banyak berbicara sedangkan kau hanya menjadi pendengar saja. Kau ceritakanlah, bagaimana kau bisa sampai di sini dan menolong aku?”

Memang Ma Hoa orangnya agak pendiam dan tak banyak bicara. Sekarang mendengar pertanyaan Lin Lin, tiba-tiba sepasang matanya menjadi merah dan ia mengeraskan hati untuk menahan keluarnya air matanya.

Lin Lin terkejut dan memegang lengannya. “Enci Ma Hoa, apakah yang telah terjadi? Kau nampak pucat sekali!”

Dengan mengeraskan hati, Ma Hoa kemudian menceritakan mala petaka yang menimpa keluarganya, akan tetapi pada saat melihat betapa sepasang mata Lin Lin yang lebar itu memandangnya dengan terbelalak dan dari kedua matanya itu mengalir butiran-butiran air mata karena terharu dan kasihan, Ma Hoa tidak dapat lagi menahan kesedihannya. Ia mengakhiri penuturannya dengan kata-kata yang sukar keluarnya,

“Adik Lin, habislah seluruh keluargaku, mereka telah binasa semua, tinggal aku seorang diri... sebatang kara...!”

Lin Lin memeluk gadis itu dan keduanya segera bertangis-tangisan oleh karena memang terdapat banyak persamaan di antara mereka berdua, oleh karena seperti juga Ma Hoa, keluarga Lin Lin juga habis binasa.

“Enci Hoa, jangan kau khawatir, bukankah kau masih memiliki kawan-kawan baik seperti Suhu-mu itu dan aku dan Engko An? Juga Hai-ko dan Enci Im Giok adalah kawan-kawan yang baik dan yang senantiasa bersiap sedia membantu dan menolongmu!”

Mendengar hiburan ini, agak redalah kesedihan yang menekan hati Ma Hoa dan mereka berdua lalu memandang ke arah Yousuf yang ketika itu masih bercakap-cakap dengan Nelayan Cengeng. Sebuah permufakatan telah dicapai oleh dua orang ini, yaitu Nelayan Cengeng telah mengambil keputusan untuk ikut Yousuf mencari Pulau Emas!

“Hai, Ma Hoa dan Lin Lin, ke marilah! Jangan hanya bertangis-tangisan saja, ada kabar baik yang harus dibicarakan bersama!” Si Nelayan Cengeng berkata dan dua orang gadis itu lalu menghampiri mereka sambil menyusut air mata dengan sapu tangan.

Nelayan Cengeng lalu memberitahukan bahwa mereka bertiga akan ikut Yousuf mencari Pulau Emas itu.

“Akan tetapi, Locianpwe, bagaimana dengan usahaku untuk mencari saudara dan kawan-kawanku?”

Nelayan Cengeng tersenyum. “Dengarlah, Lin Lin. Kita belum lagi tahu ke mana perginya mereka itu dan tanpa petunjuk yang tepat, ke manakah kita harus mencari mereka! Pula, dari Saudara Yo Se Fei ini aku mendengar bahwa besar sekali kemungkinan Pangeran Vayami juga akan pergi mencari Pulau Emas ini sehingga bukan tak mungkin bahwa Hai Kong Hosiang akan menemani rombongan Pangeran Vayami itu. Sudah terang bahwa Cin Hai, Kwee An, mau pun Ang I Niocu mengejar-ngejar hwesio itu dan apa bila hwesio itu berada dalam rombongan Pangeran Vayami, tentu mereka akan menuju ke pulau itu pula! Nah, bukankah ini lebih baik dari pada kita berkeliaran tidak karuan tanpa tujuan tertentu?”

Lin Lin menganggap alasan ini cukup kuat, oleh karena ia tahu bahwa Ang I Niocu juga sedang mencari Cin Hai dan Kwee An, sedang kedua pemuda itu mengejar Hai Kong Hosiang, maka kalau benar hwesio itu pergi juga mencari pulau emas, memang bukan tak mungkin mereka semua menuju ke tempat yang sama! Maka akhirnya ia berkata,

“Terserah pada Locianpwe saja, aku yang muda dan bodoh hanya menurut dan percaya penuh kepadamu, orang tua!”

Mendengar persetujuan yang keluar dari mulut gadis ini, Yousuf menjadi gembira sekali, akan tetapi dia menyembunyikan perasaannya ini dan berkata,

“Nah, kita berempat bisa berangkat sekarang juga, akan tetapi, perahumu begitu kecil. Sayang sekali perahuku telah tenggelam!”

Walau pun Nelayan Cengeng sudah tua, akan tetapi pandangan matanya tajam. Melihat wajah orang Turki itu berseri-seri saat mendengar kata-kata persetujuan yang diucapkan oleh Lin Lin, di dalam hatinya timbul kecurigaan yang membuatnya menjadi hati-hati.

Akan tetapi, sambil tertawa dia menjawab pertanyaan Yousuf, “Apakah susahnya untuk mendapatkan perahu yang tenggelam?” Setelah berkata demikian, kakek nelayan ini lalu memperlihatkan kepandaiannya di dalam air yang benar-benar hebat.

Ia menanggalkan jubah luarnya dan dengan pakaian ringkas lalu meloncat ke dalam air. Tubuhnya yang kurus itu terjun ke dalam air tanpa bersuara seakan-akan sebatang anak panah dilepas ke dalam air saja. Agak lama semua orang menanti dengan hati berdebar, kecuali Ma Hoa yang sudah maklum akan kepandaian gurunya.

Kemudian air itu bergelombang hebat dan dari bawah muncullah tubuh perahu Yousuf yang tadi tenggelam! Ternyata Si Nelayan Cengeng telah mendapatkan tubuh perahu itu dan menariknya ke atas permukaan air dalam keadaan miring hingga tidak ada air yang memasuki tubuh perahu itu. Kemudian Si Nelayan Cengeng berenang cepat ke pinggir dan sekali ia menggerakkan tangan, perahu besar itu dapat didorongnya ke tepi hingga meluncur cepat dan mendarat di pinggiran sungai! Yousuf segera menarik perahu itu ke atas dan tiada hentinya memuji.

“Ah, kau betul-betul gagah luar biasa. Di darat kau telah membuat aku kagum, akan tetapi kepandaianmu di air ini betul-betul membuat aku tunduk!” Sambil berkata begini Yousuf lalu menjura di depan Kong Hwat Lojin yang telah melompat ke darat.

Akan tetapi kakek nelayan itu hanya tertawa saja sambil mengeringkan tubuhnya dengan jubah luarnya yang tadi ditanggalkan, lalu berkata,

“Sudahlah, di antara kawan sendiri mana ada aturan puji-memuji? Lebih baik kalau kita sekarang memperbaiki perahumu ini agar dapat segera berangkat!”

Dua orang itu lalu memperbaiki badan perahu yang tadi pecah berlubang karena pukulan dayung Si Nelayan Cengeng dan sebentar saja perahu itu telah baik kembali. Yousuf lalu memerintahkan kedua orang pembantunya untuk pergi dari situ oleh karena dia sudah tak memerlukan tenaga mereka lagi. Dia merogoh kantongnya dan memberi empat potong uang emas kepada dua orang itu yang menerimanya dengan girang.

Setelah itu, maka berangkatlah Yousuf bersama Si Nelayan Cengeng, Ma Hoa, dan Lin Lin. Perahu mereka meluncur cepat oleh karena selain terbawa hanyut oleh aliran sungai yang deras, juga dibantu oleh tenaga dayung Si Nelayan Cengeng yang kuat bukan main. Sebelum senja hari, perahu mereka telah tiba di mulut sungai dan mulai memasuki laut yang luas!

Baik kita tinggalkan lebih dulu Lin Lin bersama kawan-kawannya yang menuju ke Pulau Kim-san-to itu, dan kita mengikuti pengalaman Kwee An…..

********************

Ketika terjadi perkelahian bebas di atas perahu Pangeran Vayami, kemudian menerima tendangan di betisnya yang dilakukan oleh Pangeran Mongol itu sehingga dia terjatuh ke dalam sungai, Kwee An sudah mencoba tenaga dan kepandaiannya yang dipelajari dari Nelayan Cengeng untuk berenang ke pinggir. Akan tetapi, aliran air sungai itu amat deras dan kuatnya sehingga usahanya gagal, bahkan tubuhnya hanyut dengan cepatnya!

Baiknya Kwee An telah mendapat latihan dari Nelayan Cengeng, kalau tidak pasti ia akan tenggelam atau tubuhnya akan hancur terbentur pada batu-batu dan karang yang banyak menonjol di permukaan air. Dia lalu mengeluarkan kepandaiannya dan mempergunakan gerakan Ular Air Menyeberang Laut untuk berenang sambil mengikuti aliran air dengan cara berlenggang-lenggok bagaikan seekor ular hingga dia dapat menghindarkan diri dari pada tubrukan dengan batu-batu karang.

Dia masih dapat melihat betapa perahu di mana Cin Hai masih bertempur seru melawan Hai Kong Hosiang itu terbakar hebat, hingga diam-diam ia menjadi gelisah, menguatirkan keselamatan kawannya itu. Akan tetapi, sungai itu mengalir dalam sebuah tikungan yang tajam sekali sehingga ia harus segera mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri.

Setelah hanyut jauh sekali, sedikitnya terpisah lima li dari tempat di mana ia tadi terjatuh, aliran air mulai lemah dan dengan hati girang Kwee An lalu berenang ke pinggir dengan maksud setelah dapat mendarat akan segera lari kembali ke tempat tadi dan membantu Cin Hai. Akan tetapi tiba-tiba ia menjadi terkejut sekali oleh karena melihat beberapa ekor binatang aneh yang berenang cepat menuju ke arah dirinya.

Kwee An cepat berenang ke tepi. Akan tetapi, kembali dia terkejut oleh karena binatang-binatang seperti yang sedang berenang di tengah sungai itu, terdapat pula di darat dan memenuhi tepian sungai. Agaknya mereka sedang berjemur diri di pantai itu dan jumlah yang berada di pantai bahkan ada seratus lebih.

Binatang-binatang yang terlihat oleh Kwee An ini adalah binatang sebangsa buaya, akan tetapi lebih menyerupai cecak besar dan ada yang panjangnya sampai sepuluh kaki dan mulutnya terbuka lebar. Ketika Kwee An tiba di tepi, maka binatang-binatang yang berada di pantai itu pun lalu maju merangkak dan menyerbu.

Kwee An menjadi bingung. Untuk naik ke darat, puluhan ekor binatang buas ini telah siap menanti sedangkan untuk tinggal di dalam air, dari tengah telah berenang beberapa belas ekor yang menuju kepadanya. Ia pikir, lebih baik menghadapi puluhan ekor di darat dari pada belasan ekor di air oleh karena binatang itu dapat berenang cepat sekali sedangkan kepandaiannya di dalam air masih rendah.

Ia lalu terus berenang ke pinggir dan ketika air telah menjadi dangkal hingga sampai ke paha, dari tepi telah turun lima ekor yang terbesar dan cepat menyerbunya dengan mulut ternganga lebar. Kwee An lantas menggenjot tubuhnya melompat hingga kedua kakinya melewati permukaan air dan ketika dua ekor buaya itu menyambar dengan mulut mereka yang runcing, ia cepat-cepat menendangkan kaki kanan ke arah kepala binatang itu dan mempergunakan kepala itu sebagai batu lonpatan ke darat.

Akan tetapi jumlah binatang-binatang itu terlalu banyak sehingga ke arah mana saja dia melompat, dia langsung disambut oleh beberapa ekor buaya yang menyerbunya dengan dahsyat dan liar. Kwee An lalu mempergunakan kecepatan dan seluruh tenaganya untuk melawan. Ia menendang, memukul, menangkap ekor dan membanting, hingga sebentar saja puluhan ekor binatang kena dibinasakan.

Akan tetapi yang datang semakin banyak saja sehingga Kwee An kehabisan tenaga dan mulai menjadi ngeri dan jijik. Binatang-binatang yang masih hidup segera menerkam dan menyerang kawan-kawannya sendiri yang terluka dan makan daging mereka, sedangkan yang lain-lain masih saja menyerbu dengan hebat.

Oleh karena merasa ngeri melihat banyaknya binatang yang mengeroyoknya, dan oleh karena tenaganya tadi memang telah banyak dihabiskan untuk melawan air sehingga dia menjadi lelah sekali, maka Kwee An berlaku kurang cepat sehingga tiba-tiba dia merasa kaki kirinya sakit sekali. Dia menengok dan melihat bahwa seekor buaya sudah berhasil menggigit betis kaki kirinya. Cepat Kwee An berjongkok dan sekali tangannya bergerak, maka dua buah jari tangannya berhasil memasuki rongga mata buaya yang menggigit itu!

Binatang itu merasa kesakitan dan tak terasa pula mulut yang menggigit betis mengendor hingga dengan cepat Kwee An dapat melepaskan kakinya! Darah mengucur membasahi kaus kaki dan celananya. Dengan muka meringis kesakitan, pemuda itu menjadi begitu marah hingga ia lalu mengamuk hebat! Ia mencabut pedangnya dan dengan senjata ini ia menghajar semua buaya yang berani datang mendekat hingga mayat binatang itu sampai bertumpuk-tumpuk dan malang melintang di sekitarnya.

Mendadak terdengar suara suitan keras dan aneh! Buaya-buaya yang masih hidup dan belum terluka, lalu nampak terkejut dan buru-buru mereka lari ke sungai! Kwee An sudah terlalu lemah, maka kepalanya menjadi pening dan pemandangan matanya berkunang-kunang.

Kwee An melihat seorang gemuk tetapi pendek sekali berdiri di depannya dengan sebuah cambuk panjang pada tangannya, dan suara orang itu terdengar keras dan besar ketika menegur,

“Pemuda kurang ajar dari manakah yang berani mengganggu serta membunuh binatang ternakku?”

Kwee An yang sudah lelah dan pusing itu merasa bagaikan bertemu dengan iblis sungai, oleh karena kecuali iblis sungai, siapakah orangnya yang menganggap buaya-buaya itu sebagai binatang ternaknya? Pemuda itu tidak dapat menguasai dirinya lagi oleh karena lapar, lelah, dan lemas kehilangan banyak darah.

“Aku... aku... lelah...,” katanya dan ia lalu roboh terguling dan pingsan. Tubuhnya roboh di atas mayat-mayat binatang yang tadi diamuknya!

Ketika ia sadar kembali, Kwee An mendapatkan dirinya telah berbaring di atas balai-balai bambu dalam sebuah kamar yang terbuat dari pada bambu pula. Ia segera bangun dan mengeluh oleh karena kaki kirinya terasa sakit dan perih. Ketika ia teringat akan luka di kakinya oleh gigitan buaya itu, ia segera menengok ke arah betisnya dan ternyata bahwa kakinya telah dibalut erat-erat. Ia dapat menduga bahwa orang pendek yang disangkanya iblis sungai itu tentu yang telah menolongnya, maka ia merasa berterima kasih sekali.

Walau pun keluhan suaranya perlahan sekali, akan tetapi ternyata sudah didengar orang, oleh karena dari luar pintu kamar segera terdengar suara orang, “Ehh, anak muda, kau sudah bangun?”

Ketika Kwee An memandang, ternyata penolongnya yang pendek itu muncul dari pintu dengan sepiring masakan yang masih mengepul berada pada tangan kirinya. Si Kate itu memasuki bilik, lalu berkata sambil tertawa, “Nah, kau makanlah dulu. Kesehatanmu pasti akan pulih lagi seperti sedia kala!”

Ketika Kwee An hendak bangkit untuk menghaturkan terima kasih, mendadak dia merasa lehernya seolah-olah tercekik dan dadanya berdebar keras. Wajahnya tentu akan terlihat menjadi pucat sekali kalau saja kulit mukanya tidak memang sudah pucat sekali sehingga perubahan itu tidak terlalu nampak.

Pada saat itu dia telah mengenal orang pendek ini yang bukan lain adalah Hek Moko, Si Iblis Hitam yang sangat lihai dan yang dulu pernah bertempur dengan Cin Hai di depan rumahnya! Kwee An berpikir cepat dan ia segera memaksa mulutnya bersenyum. Sambil menerima piring itu ia berkata dengan pura-pura masih lemas tak bertenaga,

“Terima kasih, Lopek. Sungguh kau baik sekali dan atas pertolonganmu ini aku ucapkan banyak-banyak terima kasih.”

Kwee An sengaja berbuat seakan-akan ia tidak kenal kepada Si Iblis Hitam ini. Ia maklum bahwa iblis ini pun tidak tahu siapa adanya dia dan apa bila iblis ini tahu bahwa Cin Hai berada di dekat situ, tentu ia akan pergi mengejarnya!

“Kau makanlah yang enak. Aku hendak mengurus hewan ternakku lebih dulu! Kau gagah sekali dan telah berhasil membunuh dua puluh empat ekor hewanku hingga bukan sedikit aku menderita kerugian!” katanya lalu keluar dari pintu dengan langkah-langkahnya yang pendek tetapi cepat.

Kwee An menarik napas lega. Ternyata iblis itu tidak mengenal dan tidak mencurigainya sehingga untuk sementara waktu ia akan selamat. Dia maklum bahwa Iblis Hitam ini lihai sekali, apa lagi kalau di situ ada pula Iblis Putih yang tinggi besar oleh karena menurut penuturan Cin Hai, kedua Iblis Hitam Putih atau Hek Pek Moko ini jarang sekali berpisah.

Sambil memikirkan jalan untuk melarikan diri dari tempat berbahaya ini, Kwee An yang telah merasa lapar sekali lalu makan daging yang masih panas mengepul di atas piring itu. Dia tidak tahu masakan daging apakah ini, akan tetapi karena perutnya terasa lapar sekali, ia tidak peduli dan segera makan daging itu. Di luar dugaannya semula, daging ini rasanya manis dan harum serta gurih sekali hingga sebentar saja sepiring besar daging itu telah habis memasuki perutnya!

Kemudian ia turun dari pembaringan dan mencoba berjalan. Ia dapat berjalan, akan tetapi dengan pincang sehingga tidak mungkin untuk melarikan diri, oleh karena ia belum dapat mempergunakan ilmu lari cepat. Kwee An menjadi bingung dan dia sangat menguatirkan nasib Cin Hai yang masih bertempur di atas perahu melawan Hai Kong Hosiang yang lihai itu, karena perahunya telah dibakar oleh Pangeran Vayami!

Tak lama kemudian, Hek Moko masuk ke dalam kamar itu sambil tertawa-tawa. Jubahnya yang hitam itu melambai-lambai di belakangnya.

“Ha, kau sudah makan! Bagaimana, enakkah hidanganku itu?”

Kwee An tersenyum. “Enak sekali, entah daging apakah yang Lopek suguhkan tadi?”

Tiba-tiba Hek Moko tertawa bergelak-gelak dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Kwee An berdiri oleh karena memang suara ini amat menyeramkan. “Ha-ha, anak muda. Memang kau pantas merasakan masakan daging luar biasa itu. Ketahuilah, daging yang kau makan itu adalah daging hewan ternakku!”

Kwee An tercengang dan sama sekali tidak pernah menduga bahwa daging buaya yang liar itu demikian enaknya. Kini dia mengerti mengapa Iblis Hitam ini memelihara hewan ternak yang luar biasa ini.

“Apakah memang pekerjaan Lopek memelihara hewan ternak yang luar biasa ini?”

Hek Moko mengangguk-angguk. “Memang inilah pekerjaanku sejak dulu! Tadinya buaya ini hanya ada beberapa belas pasang saja, akan tetapi kini telah menjadi beratus-ratus pasang banyaknya! Dan hanya orang-orang gagah dan orang besar saja yang mendapat kesempatan merasakan kenikmatan daging hewan ternakku ini. Tahukah engkau bahwa untuk daging seekor saja kaisar berani membayar dengan tiga puluh potong uang emas? Ha-ha-ha!”

“Lopek, kau benar-benar orang luar biasa yang baik hati. Aku sudah berlancang tangan membunuh banyak hewan ternakmu, akan tetapi kau tidak marah kepadaku, sebaliknya kau telah menolong dan merawatku. Sungguh aku berhutang budi kepadamu!”

“Hush! Jangan kau berkata begitu. Di antara ayah dan anak tidak ada perhitungan budi!”

Kwee An merasa terkejut dan heran sekali, oleh karena dia benar-benar tidak mengerti akan maksud kata-kata Iblis Hitam ini. Di antara ayah dan anak? Apa maksudnya?

Kembali Si Iblis Hitam tertawa bergelak-gelak, “Ya, di antara ayah dan anak tidak ada perhitungan budi dan kau akan menjadi anakku yang baik!”

Bukan main terkejutnya Kwee An. Dia pikir bahwa Iblis Hitam ini telah menjadi gila dan mengaku dia sebagai anaknya. Akan tetapi dia maklum akan kelihaian iblis ini, maka dia pikir untuk sementara waktu baik dia tidak membantahnya dan tinggal diam saja.

“Eh, anak muda yang gagah. Kau bernama siapa dan mengapa kau bisa hanyut di sungai ini?” Sambil bertanya demikian, Iblis Hitam itu memandang Kwee An dengan mata tajam dan pandang mata menyelidiki.

“Namaku Kwee An,” jawab pemuda itu dan tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik.

Dia maklum bahwa iblis ini lihai sekali dan kepandaiannya mungkin sekali lebih tinggi dari pada kepandaian Hai Kong Hosiang, maka dia lalu melanjutkan, “Dan aku hanyut karena perbuatan seorang hwesio bernama Hai Kong Hosiang.”

Benar saja, disebutnya nama hwesio ini membuat Hek Moko memandang heran. “Hai Kong? Bagaimana kau bertemu dengan hwesio itu?”

“Aku adalah seorang perantau dan pada waktu aku hendak menyeberang sungai ini, aku bertemu dengan Hai Kong Hosiang. Kami berebut perahu dan kami berkelahi. Akan tetapi aku kalah dan dia melemparku ke dalam sungai.”

“Ha-ha-ha! Kau benar-benar patut menjadi puteraku! Kau sudah bertempur melawan Hai Kong tetapi kau tidak mendapat luka! Bagus, bagus! Aku tidak suka akan namamu dan mulai sekarang kau bernama Siauw Moko (Iblis Kecil).”

Kwee An merasa dongkol sekali, akan tetapi ia tidak begitu bodoh untuk memperlihatkan perasaan ini. Ia hanya berkata,

“Lopek, aku telah berhutang budi kepadamu maka tentu saja aku tidak berani membantah kehendakmu. Akan tetapi, nama yang kau berikan kepadaku itu kurang sedap didengar!”

Hek Moko memandang Kwee An dengan mata melotot. “Apa?! Kurang sedap didengar? Hai, anak muda, sampai di manakah kepandaianmu sehingga kau merasa kurang patut bernama Siauw Moko? Ketahuilah, aku yang bernama Hek Moko mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi darimu. Engkau harus menurut segala kata-kataku oleh karena kau adalah anakku Siauw Moko yang dulu telah meninggal, akan tetapi sekarang kau hidup kembali. Anakku yang baik, jangan kau kuatir, aku akan melatihmu dan dalam beberapa bulan saja jangan kata baru seorang Hai Kong Hosiang, meski ada tiga orang Hai Kong, engkau tak usah merasa takut lagi!”

Sesudah berkata demikian, Hek Moko lalu maju memeluk dan menciumi muka Kwee An sebagai seorang ayah menciumi anaknya dengan penuh kasih sayang!

Kwee An merasa terkejut, takut, dan juga terharu sekali. Ia dapat menduga bahwa dulu tentu Iblis Hitam ini memiliki seorang putera dan putera itu meninggal dunia. Dan ketika melihatnya, iblis ini teringat kepada puteranya hingga tiba-tiba saja mengakui dia sebagai anaknya! Akan tetapi diam-diam Kwee An merasa girang juga karena ia akan menerima pelajaran silat dari kakek iblis yang berbahaya dan lihai ini!

Memang dugaan Kwee An itu tepat. Dulu, Hek Moko mempunyai seorang putera yang wajahnya hampir sama dengan wajah Kwee An. Dan puteranya ini telah meninggal dunia karena terserang sejenis penyakit berbahaya. Padahal ia telah menunangkan puteranya itu dengan puteri Pek Moko, yaitu Pek Bin Moli yang cantik jelita dan berotak miring.

Tentu saja kematian puteranya ini membuat Hek Moko menjadi sedih dan membuat dia menjadi semakin jahat, liar dan gila! Bersama Pek Moko yang menjadi sute-nya, dia lalu menjadi sepasang hantu yang menjagoi seluruh daerah Tibet dan mendengar namanya saja, semua orang telah ketakutan setengah mati.

Tempat tinggal Hek Pek Moko memang tidak tentu dan mereka ini merantau dari satu ke lain jurusan. Akan tetapi, kebanyakan mereka selalu berdua dan jarang nampak mereka berpisah. Kali ini Pek Moko tidak nampak bersama suheng-nya oleh karena Iblis Putih ini sedang pergi mencari anak perempuannya, yaitu Pek Bin Moli yang sudah lama minggat untuk mencari suaminya, yaitu Ong Hu Lin yang menjadi piauwsu dan telah mengadakan perhubungan dengan Giok-gan Kui-bo kakak seperguruan Ang I Niocu sehingga timbul perkelahian antara Giok-gan Kui-bo dan Pek Bin Moli dan akhirnya Pek Bin Moli dapat menemukan kembali suaminya itu yang dibawanya pergi!

Sejahat-jahatnya manusia, dia masih mempunyai perasaan kasih sayang yang bersifat suci murni terhadap anaknya. Demikian pula Hek Moko. Meski manusia ini telah terkenal sebagai iblis yang jahat serta kejam, akan tetapi kini sesudah bertemu kembali dengan puteranya, dia memperlakukan Kwee An dengan baik sekali sehingga diam-diam Kwee An menjadi terharu dan timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap iblis tua ini.

Kwee An memang telah kehilangan ayahnya, dan dulu ia pernah meninggalkan ayahnya untuk waktu yang cukup lama, yaitu ketika merantau mempelajari ilmu. Maka kini biar pun maklum akan kejahatan dan kekejaman Hek Moko, akan tetapi mendapat perlakuan yang demikian penuh perhatian dan baik, serta menerima latihan-latihan silat dengan penuh keikhlasan, timbul juga rasa sayang dalam hatinya terhadap Iblis Hitam ini!

Atas paksaan Hek Moko, Kwee An menyebut ayah kepada iblis pendek yang luar biasa ini, sedangkan Hek Moko memanggilnya Siauw-mo atau Setan Kecil. Kwee An belajar dengan tekun dan rajin dan biar pun dia merasa girang menerima latihan ilmu silat yang amat tinggi dan lihai dari ayah angkatnya ini, namun diam-diam ia bergidik menyaksikan betapa ilmu silat yang dipelajarinya ini benar-benar keji dan ganas!

Akan tetapi baru satu bulan saja dia sudah mendapat kemajuan pesat sekali, oleh karena memang ia telah mempunyai dasar ilmu silat tinggi hingga tambahan pelajaran ini mudah saja diterima olehnya dan tentu saja Moko menjadi girang sekali. Ketika merasa bahwa ilmu silat yang diajarkan sudah cukup, Hek Moko lalu berkata,

“Siauw-mo anakku, sekarang kau tak akan kalah bila menghadapi Hai Kong!”

Kwee An menghaturkan rasa terima kasih dengan sepenuh hatinya. “Ayah, sekarang juga anakmu akan pergi mencari Hai Kong untuk membalas dendam karena kekalahan yang lalu!”

“Bagus, bagus! Di dunia ini tidak ada orang yang boleh menghina anakku! Aku akan pergi bersamamu dan menghajar hwesio gundul itu!”

Kwee An terkejut, karena dia ingin mencari Cin Hai, bagaimana dia bisa membawa serta ayah angkatnya ini? Dia lalu mencari akal dan berkata,

“Ayah, apakah Ayah mau membikin aku menjadi malu? Kalau Ayah ikut, Hai Kong akan menganggap bahwa aku takut kepadanya dan sengaja mengajak kau orang tua! Untuk menghadapi Hai Kong saja, aku yang telah menerima kepandaian darimu, sudah cukup. Untuk apa Ayah harus mencapaikan diri dan mengotorkan tangan untuk menghukum dia. Dan pula, bagaimana dengan hewan ternak di sini kalau Ayah ikut pergi?”

Hek Moko terdiam dan tak dapat menjawab. Dia berpikir bahwa anaknya ini benar juga dan alasan-alasannya pun pantas, maka dia lalu mengurungkan maksudnya hendak ikut. “Baiklah, kau pergi dan hajarlah hwesio itu. Aku menunggumu di sini! Tetapi kau harus lekas kembali dan jangan meninggalkan Ayahmu lama-lama, Siauw-mo. Ingat, aku sudah tua sekali dan mungkin hidupku di dunia ini takkan lama lagi!”

Ucapan ini menusuk perasaan Kwee An dan menyentuh hati sanubarinya. Dia kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Iblis Hitam itu dan berkata,

“Ayah, aku takkan melupakan kau selama hidupku!” Setelah berkata demikian, Kwee An lalu meninggalkan tempat itu.

Ia segera menuju ke tempat di mana dulu dia dan Cin Hai bertemu dengan Pangeran Vayami, akan tetapi di situ telah sunyi dan tidak terlihat sedikit pun bekas-bekas adanya Cin Hai. Kwee An berdiri termenung di tepi sungai dengan hati bingung dan sedih.

Tiba-tiba terdengar gerakan perlahan di belakangnya dan dia tahu bahwa itu adalah Hek Moko yang datang! Benar saja, sebab segera terdengar suara Hek Moko dan Iblis Hitam itu telah berada di belakangnya.

Kwee An segera menengok dan melihat bahwa ayah angkatnya itu telah datang beserta Pek Moko yang kelihatan menyeramkan sekali oleh karena wajahnya yang buruk itu kini nampak muram dan marah, sedangkan rambutnya telah putih semua yang membuat dia nampak tua sekali! Iblis putih ini memandang kepada Kwee An dengan tajam dan ia pun mengangguk-angguk sambil berkata,

“Anak pungutmu ini terlalu cakap, Suheng, tapi dia cukup baik menjadi anakmu!”

Hek Moko tertawa senang dan berkata kepada Kwee An, “Anakku, ini adalah Susiok-mu yang bernama Pek Moko. Kau cukup menyebutnya Pek-susiok saja!”

Kwee An berpura-pura belum pernah melihat Pek Moko dan dia lalu berlutut memberi hormat, “Pek-susiok, terimalah hormat teecu.”

Pek Moko mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya. “Jangan terlalu menghormat, Siauw-mo, aku tidak biasa dihormati orang seperti ini!”

Kwee An terkejut, akan tetapi Hek Moko hanya tertawa senang.

“Siauw-mo, kau tidak akan dapat mencari Hai Kong oleh karena hwesio itu sedang pergi mencari Pulau Emas! Malah aku dan Susiok-mu ini pun hendak pergi ke sana pula. Hayo kau ikut kami dan tentu di sana kau akan dapat bertemu dengan Hai Kong Hosiang!”

Kwee An menjadi girang, akan tetapi sebenarnya dia tidak senang harus pergi bersama sepasang iblis ini. “Bagaimana Ayah bisa tahu bahwa dia pergi ke Pulau Emas dan di manakah letak pulau itu?” tanyanya.

Hek Moko lalu menceritakan pengalaman Pek Moko. Ternyata bahwa pada saat mencari anak perempuannya, yaitu Pek Bin Moli, Pek Moko sebetulnya telah berhasil menemukan anak perempuannya itu, tetapi dalam keadaan mati!

Ong Hu Lin, menantunya yang menjadi suami Pek Bin Moli dalam keadaan terpaksa itu, setelah dibawa pergi oleh isterinya yang gila, di tengah jalan kemudian mencari akal dan akhirnya pada suatu malam, ketika isterinya yang berotak miring itu sedang tidur pulas, ia dengan kejam telah membunuh isterinya ini!

Pada saat Pek Moko mendengar tentang hal ini, ia lalu mencari Ong Hu Lin dan setelah bertemu, ia lalu menyiksa dan membunuh Ong Hu Lin dengan penuh kemarahan hingga tubuh Ong Hu Lin dihancurkan sampai tak karuan macamnya lagi! Peristiwa ini membuat Pek Moko sangat berduka sehingga seluruh rambutnya memutih dan wajahnya menjadi kejam dan muram selalu.

Kemudian secara kebetulan Iblis Putih ini mendengar tentang adanya Pulau Emas yang kini sedang dicari-cari dan agaknya hendak dijadikan rebutan antara orang-orang Turki, suku bangsa Mongol, serta oleh Pemerintah Kaisar sendiri! Dia segera mencari kakak seperguruannya, yaitu Hek Moko dan setelah dia menceritakan semua ini, Hek Moko lalu mengajak menyusul Kwee An yang baru saja pergi dari situ untuk diajak bersama-sama pergi mencari Pulau Emas.

Kwee An yang mendengar semua cerita ini, lalu berpikir pula bahwa besar kemungkinan Hai Kong Hosiang juga pergi mencari pulau itu dan apa bila Hai Kong pergi ke sana, maka jika Cin Hai masih hidup, tentu pemuda itu mengejar juga ke sana! Oleh karena ini, tanpa ragu-ragu pula dia lalu menyatakan kesediaannya untuk ikut dengan Hek Moko ini. Berbeda dengan rombongan Nelayan Cengeng, Hek Pek Moko menuju ke laut melalui jalan darat dan mengikuti sepanjang tepi sungai…..

********************

Cin Hai yang tertolong oleh Bu Pun Su dan sudah sembuh dari pengaruh madu merah yang mukjijat, dan sesudah pikirannya pulih kembali seperti biasa dan dapat mengingat semua kejadian yang telah lalu, merasa berduka sekali oleh karena tidak tahu bagaimana keadaan Kwee An dan Lin Lin.

Terutama sekali dia merasa gelisah dan bingung kalau teringat akan nasib Lin Lin yang tertawan oleh perwira Boan Sip! Ingin sekali dia segera bertemu dengan Boan Sip untuk membuat perhitungan dan menumpahkan rasa dendam serta amarahnya, akan tetapi ke mana harus mencari orang she Boan itu?

Ang I Niocu maklum akan kesedihan Cin Hai ini, akan tetapi ia sendiri pun tidak berdaya dan hanya mengucapkan kata-kata hiburan di sepanjang perjalanan. Untuk menghibur hati pemuda yang gelisah ini, Ang I Niocu lalu bertanya dan minta agar dia mengutarakan tentang pertempuran dengan Hai Kong Hosiang.

“Hwesio itu benar-benar telah mendapat kemajuan dalam ilmu silatnya,” berkata Cin Hai. “Sukar sekali bagiku untuk merobohkannya, walau pun aku mampu mengimbangi semua serangannya. Agaknya dia telah mengenal baik serangan-seranganku yang berdasarkan Liong-san Kun-hoat dan Ngo-lian-hoat sehingga sanggup berjaga diri dengan baik. Juga dalam ilmu kepandaian lweekang, hwesio itu kini amat kuat dan jauh lebih kuat dari pada dulu.”

Ang I Niocu mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Cin Hai menuturkan jalannya pertempuran. Kemudian Gadis Baju Merah yang sudah banyak mengalami pertempuran-pertempuran ini, lalu berkata,

“Hai-ji, cabutlah pedangmu dan mari coba kuuji sampai di mana kepandaianmu!”

Cin Hai terkejut, akan tetapi ketika ia melihat sinar mata Ang I Niocu, ia maklum bahwa Dara Baju Merah ini hendak memberi petunjuk-petunjuk padanya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, sedangkan Ang I Niocu juga sudah mencabut keluar pedangnya.

“Awas serangan!” kata Ang I Niocu yang lalu menyerang dengan pedangnya.

Sebagaimana biasa, sekali pandang saja secara otomatis Cin Hai dapat mengenal dasar gerakan serangan ini, maka dengan mudah ia pun lalu mengelak dan balas menyerang. Ang I Niocu terus menyerang dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling lihai, yakni Sian-li Kiam-sut yang mempunyai gerakan indah dan daya serang luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi dengan amat mudahnya Cin Hai mengelak dan menangkis semua serangan ini secara tepat dan sempurna.

“Kau balaslah menyerang, jangan menahan diri saja,” teriak Ang I Niocu sambil mengirim tusukan.

Cin Hai lalu balas menyerang dan oleh karena dia tidak mengenal ilmu pedang lain maka dia pun lalu menyerang dengan Sian-li Kiam-sut yang ditirunya dari Ang I Niocu.

Tentu saja perubahan atau perkembangan semua serangan ini amat mudah dikenal dan diketahui oleh Ang I Niocu sehingga gadis ini mudah saja mengelak atau menangkis.

“Jangan menyerang dengan Sian-li Kiam-sut, itu tak ada gunanya! Pakailah ilmu pedang lain!” Ang I Niocu berseru lagi sambil terus menyerang lagi.

Cin Hai tahu kekeliruannya, oleh karena dalam menghadapi gadis yang menjadi ahli Silat Bidadari itu, sungguh bodoh kalau mempergunakan ilmu pedangnya. Kini dia memainkan Ilmu Pedang Liong-san Kiam-hoat yang dipelajarinya dari Kanglam Sam-lojin.

Sekarang dia sudah memiliki ilmu ginkang dan lweekang yang sangat tinggi oleh karena menerima latihan dari Bu Pun Su secara istimewa, yakni mempelajari dasar-dasarnya hingga boleh dibilang Cin Hai telah memiliki kepandaian pokok yang mutlak. Akan tetapi oleh karena pengetahuannya tentang ilmu silat hanya dangkal saja, yaitu terbatas pada ilmu silat dari Liong-san-pai dan ilmu silat yang dia pelajari dari An I Niocu, maka daya tempurnya amat lemah.

Memang apa bila menghadapi orang yang belum matang betul dalam hal ilmu silat tinggi, dengan mudah saja Cin Hai akan dapat mengalahkannya. Akan tetapi bila menghadapi tokoh persilatan yang tinggi dan sudah matang ilmu pedangnya, pemuda ini hanya dapat bertahan saja dengan luar biasa uletnya, tetapi juga sukar untuk melancarkan serangan-serangan lain kecuali dua macam ilmu silat yang dulu pernah dipelajarinya itu.

Maka, ketika menghadapi tokoh-tokoh tinggi seperti Hek Pek Moko atau pun Hai Kong Hosiang, juga menghadapi Ang I Niocu, pemuda ini menjadi pihak yang selalu didesak dan diserang, sungguh pun harus diakui bahwa semua serangan itu dapat ditangkis atau dielakkannya dengan sangat mudah oleh karena dia telah tahu betul akan perkembangan selanjutnya dari tiap serangan!

Ang I Niocu menghabiskan seluruh kepandaiannya untuk dipergunakan menyerang anak muda itu, akan tetapi tak sedikit pun ia dapat mempengaruhi atau mengacaukan Cin Hai yang istimewa. Diam-diam gadis ini merasa kagum sekali, oleh karena boleh dibilang bila dicari di dunia ini tidak ada keduanya orang yang dapat mempertahankan diri sedemikian baiknya terhadap semua serangan-serangan yang dia lakukan sampai seluruh jurus Sianli Kiam-sut habis dimainkan tanpa nampak terdesak sedikit pun!

Akan tetapi biar pun serangan-serangan Cin Hai luar biasa dahsyatnya, namun baginya serangan-serangan itu kurang berbahaya, dan kelihaiannya hanya terdorong oleh tenaga lweekang dan gerakan yang hebat dari anak muda itu dan sama sekali bukan karena ilmu pedangnya yang hebat.

“Benar seperti yang kuduga!” Ang I Niocu berseru sambil melompat mundur.

Cin Hai juga segera menahan pedangnya.

“Memang benar, Susiok-couw hanya memberikan pokok-pokok dasar ilmu silat padamu, tanpa memberi pelajaran penting untuk melakukan penyerangan. Mengapa engkau dulu tidak mau minta supaya orang tua yang aneh itu menurunkan satu atau dua macam ilmu silat agar dapat kau gunakan untuk menyerang lawan?”

Sambil tersenyum Cin Hai pun berkata, “Niocu, apakah kau masih belum kenal adat Suhu yang kukoai (aneh)? Kalau dia sendiri tak menghendaki, meski diminta sampai menangis pun tak akan dia berikan!”

Ang I Niocu memang sungguh-sungguh merasa sayang kepada Cin Hai, maka pada saat itu gadis ini memutar-mutar otaknya demi kebaikan anak muda itu. Ia tahu bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang ini, Cin Hai tak usah merasa takut kepada seorang lawan yang mana pun juga. Akan tetapi, tanpa memiliki daya serang yang lihai, bagaimana ia akan dapat menjatuhkan musuh-musuhnya?

Apa lagi sekarang masih ada seorang musuh yang tangguh bukan main, yaitu Hai Kong Hosiang yang agaknya dibantu oleh pendeta tua renta yang gagu dan lihai sekali itu. Bila pemuda ini tidak mempunyai ilmu serangan yang dahsyat, banyak kemungkinan dia akan mendapat celaka dari tangan Hai Kong Hosiang.

Cin Hai yang melihat betapa Ang I Niocu termenung, lalu meninggalkan gadis itu untuk mengumpulkan kayu kering. Mereka telah tiba dalam sebuah hutan dan hari sudah mulai gelap, sedangkan di tempat itu banyak nyamuk dan hawanya terasa dingin.

Tiba-tiba Ang I Niocu melompat ke atas dan berkata dengan girang. “Benar, benar! Kau harus melakukan itu,” katanya kepada Cin Hai sehingga tentu saja pemuda ini menjadi terheran-heran oleh karena tidak mengerti apakah yang dimaksudkan oleh gadis itu yang nampak demikian gembira.

“Hai-ji, kau harus menciptakan ilmu pedang sendiri!” katanya kepada Cin Hai.

Cin Hai terkejut dan mukanya menjadi merah. “Ah, Niocu, kau ini ada-ada saja! Aku yang bodoh dan tolol ini mana mampu menciptakan ilmu pedang? Jangan mentertawakan aku, Niocu!”

“Anak tolol! Merendahkan diri di depan orang lain memang baik, akan tetapi memandang rendah kesanggupan sendiri hanya dilakukan oleh orang malas dan kurang bersemangat. Kau dapat melihat dasar-dasar segala ilmu silat, maka kalau kau memang mau, mengapa kau tidak bisa menggabungkan semua ilmu silat itu menjadi satu dan menciptakan sendiri gerakan-gerakan serangan yang kau anggap tepat dan lihai?”

Cin Hai memandang dengan sinar mata bodoh oleh karena dia memang belum mengerti. “Niocu, tolong kau beri tahu kepadaku, bagaimana caranya?”

Ang I Niocu lalu memberi penjelasan dengan sabar dan telaten. “Hai-ji, terus terang saja kuberitahukan padamu bahwa Sianli Utauw atau Tarian Bidadari itu pun aku sendiri yang menciptakan. Maka jika kau memang tekun, kau pun pasti akan dapat menciptakan ilmu pedang yang tidak ada keduanya di dunia ini. Caranya begini. Kau perhatikan dan ingat semua ilmu silat yang telah kau lihat dan lalu kau pilih gerakan-gerakan serangan musuh yang dilancarkan kepadamu. Mana yang kau anggap lihai dan baik, boleh kau pilih. Lalu gerakan-gerakan ini kau rangkai menjadi semacam ilmu pedang yang sangat lihai. Tentu saja kau harus merubahnya sedikit supaya tidak sama dengan aslinya lagi, dan bahkan harus diperbaiki mana yang kurang tepat. Hanya kau dan Susiok-couw yang mempunyai kemampuan seperti ini.”

Mendengar ucapan Ang I Niocu, diam-diam Cin Hai lalu tertarik hatinya. Mengapa tidak ia coba? Memang tak enak kalau selalu mempertahankan diri dari serangan orang, dan pula memang memalukan kalau menghadapi seorang lawan lalu menyerang lawan itu dengan ilmu silat yang ditirunya dari lawan itu sendiri. Alangkah senangnya kalau ia memiliki ilmu pedang sendiri yang dapat dibanggakan.

Cin Hai lalu duduk termenung dan dia lalu bersemedhi mengumpulkan seluruh perhatian dan perasaannya. Ia bayangkan semua ilmu-ilmu silat yang telah dilihatnya. Oleh karena ia telah mempunyai dasar batin yang kuat dan pikirannya telah jernih oleh latihan-latihan napas dan semedhi, maka sebentar saja di dalam otaknya terlintas semua gerakan ilmu silat yang pernah dilihatnya.

Di antara semua ilmu silat, gerakan-gerakan Hek Pek Moko adalah yang paling dahsyat dan kejam, sedangkan ilmu silat dan gerakan-gerakan Ang I Niocu yang ia anggap paling indah dan baik. Dia lalu mengumpulkan ingatannya dan mencatat di dalam hati gerakan-gerakan yang dianggapnya paling lihai, kemudian dengan mata masih meram dan sambil membayangkan gerakan-gerakan itu, tubuhnya lalu berdiri dan bergerak-gerak menurut gambaran gerakan yang masih tampak di dalam matanya yang meram itu.

Ang I Niocu mengikuti gerakan pemuda ini dengan heran dan kagum. Dia melihat betapa Cin Hai memainkan ilmu-ilmu silat yang aneh-aneh dan bermacam-macam, malah di situ dia melihat pula Cin Hai memainkan Sianli Utauw, dan juga Liong-san Kun-hoat. Ia tahu bahwa pemuda itu sedang memilih-milih, maka ia tidak mau mengganggu, hanya mencari tambahan kayu kering dan menjaga agar api unggun itu tidak padam.

Setengah malam lebih Cin Hai tanpa henti bergerak ke sana ke mari sambil memejamkan mata. Dia tidak merasa bahwa ia telah bersilat selama itu, sedangkan Ang I Niocu masih tetap duduk di dekat api dengan setia. Ia sedikit pun tidak mau mengganggu Cin Hai dan hanya memandang pemuda yang disayanginya itu dengan penuh harapan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner