PENDEKAR BODOH : JILID-27


Cin Hai dan Kwee An sambil tertawa-tawa mengenangkan peristiwa pertemuan dengan Kui Sianseng tadi, lalu berjalan cepat meninggalkan Tiang-an. Mereka keluar dari kota itu dari jurusan timur dan tidak melewati Kelenteng Ban-hok-tong yang berada di sebelah barat kota itu. Hari telah agak gelap ketika mereka tiba di sebuah hutan di luar kota.

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berseru minta tolong dan ketika mereka berlari menghampiri, ternyata seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti piauwsu (pengawal kiriman barang berharga) sedang dikeroyok oleh lima orang perampok. Meski piauwsu ini melawan secara nekad sambil memutar-mutar goloknya, namun pengeroyoknya ternyata memiliki kepandaian yang lihai hingga pundak kiri piauwsu itu telah berlumur darah akibat mendapat luka bacokan pedang. Akan tetapi, sambil berseru minta tolong, piauwsu itu terus saja melawan dengan nekad.

Cin Hai marah sekali melihat pengeroyokan ini dan sekali pandang saja ia maklum bahwa piauwsu ini tentu tengah dirampok, oleh karena di pinggir tampak sebuah kereta dan para pendorongnya yang terdiri dari empat orang telah berjongkok sambil menggigil ketakutan di belakang kereta.

“Perampok ganas, pergilah dari sini!” katanya dan tubuhnya langsung menyambar cepat ke arah tempat pertempuran.

Cin Hai tidak mau membuang banyak waktu, ia segera mempergunakan kepandaian Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na yang hebat. Memang ilmu silat yang belum lama ia pelajari dari Bu Pun Su ini lihai sekali.

Begitu kedua tangannya bergerak, pedang kelima orang perampok itu tahu-tahu sudah kena dibikin terpental dan sebelum kelima orang perampok yang juga memiliki ilmu silat lumayan itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka sudah dipegang oleh tangan kanan kiri pemuda itu dan dilempar-lemparkan ke kanan kiri seperti orang melempar-lemparkan kentang busuk saja.

Tentu saja mereka merasa jeri dan ngeri melihat ilmu kepandaian sehebat ini dan tanpa menoleh lagi mereka lalu berlari secepatnya ke jurusan yang sama sehingga merupakan balap lari yang ramai. Kwee An tertawa bergelak, sedangkan Cin Hai hanya tersenyum saja melihat pemandangan yang lucu itu.

Sedangkan piauwsu itu ketika melihat pemuda luar biasa lihainya yang sudah menolong jiwanya, segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai sambil berkata dengan suara terharu,

“Taihiap yang gagah perkasa sudah menolong jiwaku yang tak berharga, aku tua bangka lemah tidak akan dapat membalas budi besar ini dan untuk menyatakan terima kasihku, biarlah Taihiap menyebut nama Taihiap yang mulia agar dapat kuingat selama hidupku!”

Cin Hai merasa tidak enak sekali melihat dirinya sedemikian dihormati oleh piauwsu itu, maka buru-buru ia memegang pundak piauwsu itu dan menariknya berdiri sambil berkata,

“Lo-piauwsu janganlah berlaku demikian. Pertolongan yang tak ada artinya ini untuk apa dibesar-besarkan?”

Ketika piauwsu tua itu mengangkat muka dan memandang dengan sepasang matanya yang luar biasa lebar, Cin Hai merasa bahwa dia seperti pernah melihat muka ini, akan tetapi tidak ingat lagi di mana dan bila mana. Tiba-tiba Kwee An berseru sambil meloncat menghampiri,

“Tan-kauwsu! Kaukah ini?”

Memang benar, piauwsu itu ternyata adalah Tan-kauwsu, guru silat yang dahulu pernah mengajar silat kepada putera-putera keluarga Kwee In Liang! Tan-kauwsu memandang heran dan dia segera mengenali Kwee An, maka sambil menjura ia berkata girang,

“Kwee-kongcu! Tak kuduga kita telah bertemu di sini! Ah, aku orang tua telah mendengar tentang kemajuan dan kelihaianmu dan telah mendengar pula bahwa kau sudah menjadi murid Eng Yang Cu Locianpwe tokoh Kim-san-pai yang lihai itu! Sukurlah, kepandaianmu tentu telah berlipat ganda dan aku orang tua yang tidak berguna ini hanya turut merasa gembira!”

Kemudian dia memandang kepada Cin Hai dengan mata kagum dan dia pun melanjutkan kata-katanya,

“Akan tetapi, siapakah Taihiap yang muda akan tetapi telah mempunyai kepandaian yang demikian lihainya sehingga belum pernah mataku yang tua menyaksikan kelihaian seperti yang telah Taihiap lakukan tadi?”

Ketika mengingat bahwa piauwsu ini bukan lain adalah Tan-kauwsu yang dulu membenci dirinya dan bahkan mengejarnya untuk membunuh, timbul pula rasa benci Cin Hai, maka ia tidak mau menjawab dan hanya memandang tajam dengan muka tidak senang.

Kwee An belum pernah mendengar tentang kekejaman Tan-kauwsu kepada Cin Hai, oleh karena Cin Hai memang tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun juga, maka Kwee An lalu tertawa girang dan berkata,

“Tan-kauwsu, sebenarnya pemuda kawanku ini pun bukan orang luar, akan tetapi kurasa kau tak akan dapat menduganya dia ini siapa biar pun kau akan mengingat-ingat sampai semalam penuh! Biarlah aku membantumu. Dia ini adalah Cin Hai anak gundul yang dulu pernah pula belajar silat padamu!”

Tiba-tiba saja pucatlah wajah Tan-kauwsu mendengar bahwa anak muda yang luar biasa gagahnya yang baru saja telah menolong jiwanya itu, bukan lain adalah Si Cin Hai, anak gundul yang dahulu hendak diambil jiwanya! Kedua kaki Tan-kauwsu menggigil dan ia tak dapat menahan dirinya lagi. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut lagi di depan Cin Hai dan tak tertahan lagi kedua matanya mengucurkan air mata!

“Taihiap... aku... aku... ahh, apakah yang harus kukatakan? Kalau Taihiap suka, ambillah jiwaku. Aku tua bangka yang tak tahu diri akan mati dengan rela di dalam tanganmu!”

Kwee An memandang heran dan segera berkata, “Ehh, ehhh, apa-apan ini? Tan-kauwsu, apakah kau mendadak telah menjadi mabok?”

Akan tetapi Cin Hai mengejapkan mata pada kawannya itu dan kini ia tidak mengangkat bangun tubuh orang tua yang berlutut di depannya.

“Tan-kauwsu, memang benarlah kata ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa apa yang diperbuat orang pada masa mudanya, akan mendatangkan sesal pada masa tuanya. Kau dulu berkeras hendak membunuhku, namun sekarang kau bahkan minta dibunuh olehku dengan rela. Bukankah ini merupakan buah dari pohon kebencian yang dulu kau tanam dengan dua tanganmu sendiri? Kau minta aku membalas dendam? Tidak, Tan-kauwsu! Akan terlalu senang bagimu. Biarlah kau pikir-pikirkan lagi perbuatanmu yang sewenang-wenang dulu itu dan menyesalinya. Kau tak berhutang jiwa padaku, maka bagaimana aku bisa membunuhmu? Nah, selamat tinggal! Mari, Kwee An, kita pergi dari sini!”

Sesudah berkata demikian, Cin Hai lalu melompat pergi dan terpaksa Kwee An menyusul kawannya itu dengan heran. Kemudian, atas desakan Kwee An, Cin Hai lalu menuturkan pengalamannya. Kwee An menghela napas dan berkata,

“Memang nasib manusia itu tidak tentu. Sekali waktu ia boleh berada di bawah, di tempat yang serendah-rendahnya, akan tetapi akan datang masanya dia akan berada di atas, di tempat yang setinggi-tingginya.”

Setelah meninggalkan Tiang-an, kedua pemuda itu lalu menuju ke kota raja, oleh karena selain mencari jejak Lin Lin dan Ma Hoa, keduanya juga tidak pernah lupa untuk mencari Hai Kong Hosiang, hwesio yang kini merupakan musuh besar satu-satunya yang masih belum berhasil mereka balas. Dan ke mana lagi mencari hwesio itu kalau tidak di kota raja? Mereka merasa ragu-ragu apakah Hai Kong Hosiang berada di sana, akan tetapi karena tidak mempunyai pandangan lain di mana hwesio itu mungkin berada, mereka pun hendak mencoba-coba dan pergi ke kota raja.

Mereka langsung menuju ke Enghiong-koan, gedung perhimpunan para perwira Sayap Garuda di mana dahulu mereka pernah datang mengacau dan berhasil membunuh mati musuh-musuhnya. Pada waktu mereka tiba di atas genteng gedung itu, mereka melihat dua orang sedang bertempur mengeroyok seorang kakek, ada pun di sekeliling tempat pertempuran, para perwira Sayap Garuda menonton sambil berseru-seru membesarkan hati kakek yang dikeroyok itu.

Melihat gerakan kakek tua renta itu, terkejut Kwee An dan Cin Hai oleh karena gerakan kakek ini yang benar-benar luar biasa hebatnya sehingga kedua pengeroyoknya terdesak mundur terus. Dan ketika Cin Hai memandang tegas, ternyata bahwa kakek tua renta itu adalah Kiam Ki Sianjin sedangkan dua pengeroyoknya adalah Eng Yang Cu guru Kwee An dan Nelayan Cengeng sendiri.

Melihat betapa Eng Yang Cu dan Kong Hwat Lojin terdesak hebat oleh ilmu silat Kiam Ki Sianjin yang hebat luar biasa, kedua pemuda itu segera melompat turun.

“Kwee An, jangan kau ikut turun tangan, biarlah aku sendiri menghadapi kakek tua renta itu. Ia adalah supek dari Hai Kong Hosiang.”

Kwee An kaget sekali dan menjadi jeri. Kalau Hai Kong Hosiang saja telah begitu hebat, apa lagi supek-nya.

Cin Hai melompat masuk ke gelanggang pertempuran dan berkata dengan suara hormat kepada Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu,

“Jiwi Locianpwe, biarkan teecu yang menghadapi setan ini, dan kalau teecu tidak dapat menandinginya, barulah jiwi berdua maju memberi hajaran kepadanya.”

Sesungguhnya Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng telah terdesak sekali, dan kata-kata yang diucapkan oleh Cin Hai ini terang menandakan bahwa pemuda ini pandai membawa diri dan menghormat mereka, maka keduanya lalu melompat mundur.

“Kiam Ki Sianjin!” kata Cin Hai dengan tenang, “dahulu Suhu-ku Bu Pun Su sudah pernah mengampuni kau, maka apakah sekarang kau yang begini tua masih mau memamerkan kepandaian di depan mata umum?”

Kiam Ki Sianjin memandang kepada Cin Hai dengan sepasang matanya yang telah tua akan tetapi masih awas itu, lalu dia pun tertawa cekikikan dan tangan kanannya membuat gerakan merendah seperti hendak berkata bahwa Cin Hai masih kanak-kanak dan masih kecil, sedang tangan kirinya menuding keluar. Dengan gerakan ini Kiam Ki Sianjin hendak berkata bahwa Cin Hai yang masih muda dan masih kanak-kanak itu jangan datang untuk mengantar kematian, lebih baik keluar dan pergi saja sebelum terlambat!

“Kiam Ki Sianjin, tak perlu kau menggertak. Keluarkanlah semua kepandaianmu jika kau memang gagah!” Cin Hai menantang akan tetapi sikapnya tetap tenang dan waspada.

Kiam Ki Sianjin menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, dia lalu menerjang maju dengan hebat sekali!

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu adalah tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Akan tetapi menghadapi Kiam Ki Sianjin, mereka berdua terdesak hebat setelah bertempur dua ratus jurus lebih, oleh karena itu kini mereka memandang ke arah Cin Hai dengan penuh kekuatiran. Mereka maklum bahwa sebagai murid tunggal Bu Pun Su, pemuda itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, akan tetapi, tetap saja mereka merasa ragu-ragu dan cemas oleh karena sekarang pemuda itu menghadapi seorang lawan yang jauh lebih berpengalaman dan yang telah mereka rasakan sendiri kehebatan ilmu kepandaiannya!

Akan tetapi, mereka menjadi kagum sekali ketika melihat betapa dengan lincahnya Cin Hai dapat mengimbangi ginkang dari kakek itu. Bahkan ketika melihat betapa pemuda itu berani mengadu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, tanpa terasa pula Nelayan Cengeng lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengalirkan air mata dari kedua matanya. Ini merupakan tanda bahwa Nelayan Tua ini merasa gembira sekali.

Tadi ia pernah beradu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi adu lengan yang sekali itu saja sudah cukup membuatnya kapok oleh karena betapa lengannya sakit sekali dan seakan-akan ada puluhan jarum yang menusuk-nusuk ke dalam daging lengannya! Kini dia melihat betapa Cin Hai berani beradu tenaga dengan kakek sakti itu tanpa merasa sakit dan bahkan agaknya Kiam Ki Sianjin tidak saja nampak terkejut, akan tetapi juga terdorong sedikit tiap kali keduanya mengadu tenaga dalam!

Sementara itu, Kwee An memandang pertempuran hebat itu dengan bengong dan anak muda ini merasa heran sekali kenapa kini kepandaian Cin Hai agaknya telah bertambah berlipat ganda! Tadinya Kwee An merasa bangga bahwa dia telah menerima pelajaran ilmu silat dari ayah angkatnya, yaitu Hek Mo-ko dan diam-diam ia mengharapkan bahwa sekarang tingkat ilmu kepandaiannya sudah menyusul kepandaian Cin Hai. Tak tahunya kepandaian Cin Hai kini pun meningkat luar biasa sekali dan bahkan ia merasa bahwa kepandaian pemuda ini sekarang berada di tingkat yang lebih tinggi dari pada kepandaian Hek Pek Mo-ko sendiri.

Tentu saja mereka ini tidak tahu bahwa Cin Hai sudah mengeluarkan llmu Silat Pek-in Hoat-sut atau Ilmu Silat Awan Putih! Kedua lengan tangannya mengeluarkan uap putih yang menimbulkan tenaga hebat sekali hingga lweekang yang tinggi dari Kiam Ki Sianjin masih saja tidak cukup kuat menghadapi ilmu pukulan ini!

Selama hidupnya baru sekali Kiam Ki Sianjin menerima tandingan yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya dari kepandaiannya sendiri, yaitu ketika dia berhadapan dengan Bu Pun Su. Sudah tiga kali selama hidupnya ia bertemu dengan Bu Pun Su dan tiap kali bertemu ia selalu dipermainkan oleh kakek jembel itu.

Sekarang baru pertama kalinya dia menghadapi seorang pemuda yang dapat menandingi kelihaiannya sehingga tentu saja dia menjadi marah, penasaran dan gemas sekali! Ia tadi ketika menghadapi Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng walau pun dapat mendesak, tapi agak sukar merobohkan kedua orang lawan yang bukan sembarang orang itu dan yang telah termasuk tingkat tokoh besar dalam lapangan ilmu silat, maka ia telah mengerahkan tenaganya, hingga membuat tubuhnya yang telah tua sekali itu menjadi lelah luar biasa.

Kini ketika menghadapi Cin Hai yang ternyata lebih lihai lagi dari pada kedua kakek itu, ia benar-benar merasa terkejut dan marah. Namanya yang sudah terkenal menjulang tinggi sampai ke langit itu akan runtuh kalau dia tak dapat mengalahkan pemuda ini. Jika diingat bahwa pemuda ini adalah murid Bu Pun Su, maka ia merasa makin penasaran dan ingin membalas kekalahannya yang dulu-dulu dari Bu Pun Su kepada muridnya ini.

Karena marahnya, Kiam Ki Sianjin lalu melupakan sumpahnya sendiri dan tiba-tiba saja dia mencabut keluar sebatang pedang yang aneh bentuknya. Pedang ini tipis sekali dan seakan-akan lemas tak bertenaga, akan tetapi, di bawah ujungnya yang runcing terdapat dua buah kaitan di kanan-kirinya dan pedang ini mengeluarkan cahaya berkilauan saking tajamnya.

Beberapa tahun yang lalu pada saat dia merasa bahwa dirinya telah amat tua dan telah banyak darah dia alirkan melalui pedang ini, dia merasa menyesal sekali dan takut untuk menerima hukuman dari semua dosanya. Maka ia lalu bersumpah takkan menggunakan pedang ini untuk membunuh orang lagi. Akan tetapi, oleh karena sekarang dia merasa marah sekali, dia tidak ingat lagi akan sumpah itu dan mencabut keluar senjatanya yang hebat.

Cin Hai terkejut melihat gerakan ini. Dia tidak mempunyai permusuhan dengan Kiam Ki Sianjin dan tadi pun dia hanya ingin menolong Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu saja serta hendak mencoba kepandaian kakek luar biasa ini. Sekarang melihat betapa kakek itu mencabut keluar pedangnya, maka tahulah bahwa kakek itu sudah marah sekali dan bermaksud mengadu jiwa.

“Kiam Ki Sianjin!” Cin Hai berkata keras-keras, “kita tak pernah saling bermusuhan hingga tak perlu mengadu jiwa!”

Kiam Ki Sianjin telah salah mengerti dan menduga bahwa pemuda itu merasa jeri melihat pedangnya. Maka, sambil tertawa cekikikan dia lalu menerjang maju dengan cepatnya.

“Baiklah, agaknya kau hendak membela muridmu yang durhaka Hai Kong Hosiang itu!” kata Cin Hai.

Secepat kilat pemuda ini pun kemudian mengelak sambil mencabut keluar pedangnya, Liong-coan-kiam. Karena maklum bahwa ilmu kepandaian kakek ini hebat sekali dan dia takkan dapat mengambil kemenangan apa bila ia hanya mengandalkan pengertian pokok persilatan dan hanya mengikuti gerakan serangan orang tua itu tanpa membalas dengan serangan berbahaya, maka dengan ilmu pedang yang dia ciptakan bersama Ang I Niocu dan yang telah diyakinkan sempurna itu, pedangnya lantas bergerak-gerak aneh laksana terbang ke udara dan tiada ubahnya dengan seekor naga sakti yang keluar dari surga dan menyambar-nyambar ke arah Kiam Ki Sianjin dengan garangnya.

Akan tetapi, Kiam Ki Sianjin benar-benar hebat dan luar biasa sekali ilmu silatnya. Walau pun dia merasa sangat terkejut melihat ilmu pedang yang seumur hidupnya belum pernah disaksikan itu, namun pengalamannya membuat dia dapat menduga ke mana arah tujuan pedang Cin Hai dan sanggup menjaga diri dengan baiknya serta dapat pula melancarkan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Kedua orang ini bertempur mengadu ilmu sampai tiga ratus jurus lebih dan para penonton sudah merasa pening karena terpengaruh oleh gerakan pedang yang dimainkan secara hebat itu. Bahkan Kwee An sampai menjadi merah matanya karena tidak tahan melihat menyambarnya sinar pedang. Juga para perwira yang tadinya berseru-seru, kini diam tak bergerak dan hanya memandang dengan muka pucat. Banyak di antara mereka yang mengalirkan air mata karena mata mereka terasa pedas sekali sehingga terpaksa mereka mengalihkan pandangan matanya dan tidak langsung memandang ke arah pertempuran.

Hanya Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng saja yang masih sanggup menonton dengan tertariknya, akan tetapi juga kedua orang ini agak pucat karena maklum bahwa sekarang sedang berlangsung pertandingan tingkat tinggi yang langka terlihat. Kini mereka makin kagum saja kepada Cin Hai yang bagaikan sebuah batu mustika, baru sekarang tergosok dan kelihatan betul-betul sinar dan nilainya. Kedua tokoh besar ini diam-diam menghela napas saking tertarik dan kagumnya.

Biar pun di luarnya tidak menyatakan perubahan, namun sebetulnya Kiam Ki Sianjin telah merasa lelah sekali. Rasa penasaran dan marah telah berkobar di dalam dadanya yang membuat seluruh tubuhnya terasa panas sekali. Inilah kesalahannya dan ia pun maklum akan hal ini, akan tetapi ia tidak berdaya. Nafsu marah dan penasaran yang sudah lama dapat ditenggelamkan pada dasar hatinya, kini tiba-tiba melonjak dan timbul pula dengan serentak, maka tentu saja tangannya menjadi semakin lemah.

Baiknya Cin Hai memang tidak bermaksud membunuh atau melukainya, karena betapa pun juga, pemuda ini merasa kasihan melihat kakek yang sangat tua hingga merupakan rangka hidup ini. Ia dapat menduga bahwa kakek ini telah mulai lelah, maka ia mendesak makin hebat dengan maksud agar kakek ini dapat menyerah karena kelelahannya.

Benar saja, desakannya sudah membuat Kiam Ki Sianjin merasa lelah sekali. Tubuhnya sudah penuh keringat dan napasnya mulai terengah-engah hingga membuat gerakannya menjadi lambat.

Pada suatu kesempatan yang baik, tiba-tiba saja pedang Cin Hai menusuk ke arah leher kakek itu. Kiam Ki Sianjin mendadak melakukan gerakan nekad sekali dan tanpa peduli akan tikaman pedang Cin Hai, dia membalas menikam ke arah dada Cin Hai. Ternyata bahwa dalam keadaan putus asa, kakek ini hendak mengajak mati bersama.

Cin Hai merasa terkejut sekali. Cepat dia menarik kembali pedangnya dan dihentakkan untuk menangkis pedang lawannya. Kiam Ki Sianjin merasa betapa pedang pemuda itu menempel keras pada pedangnya, karena itu ia pun lalu mengerahkan tenaga dalam dan mengait pedang Cin Hai dengan kaitan pedangnya.

Kedua lawan tua dan muda ini saling mengerahkan tenaga lweekang dan pedang mereka saling melengket bagaikan menjadi satu. Keduanya tak bergerak, saling pandang seperti dua buah patung, tangan kanan memegang pedang yang saling menempel, tangan kiri diacungkan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka seakan-akan menerima kekuatan dari atas.

“Krakk…!” mendadak terdengar suara keras sekali dan pedang di tangan Kiam Ki Sianjin telah patah menjadi dua.

Secepat kilat Cin Hai melompat mundur lantas berjungkir balik di udara sampai lima kali untuk menghindarkan diri dari serangan tenaga dalam kakek luar biasa itu. Ternyata tadi ketika ia mengerahkan tenaga dalamnya sampai sepenuhnya, tiba-tiba kakek itu menarik kembali tenaganya sehingga pedangnya menjadi patah. Cin Hai terkejut dan menyangka bahwa penarikan tenaga ini merupakan siasat yang akan digunakan untuk memukulnya selagi dia kehabisan tenaga, maka ia lalu berjungkir balik di udara.

Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa sebenarnya kakek itu telah kehabisan napas dan tenaga. Ia telah amat tua dan tenaganya banyak berkurang maka sekarang menghadapi Cin Hai setelah tadi melawan keroyokan Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng, ia tidak-kuat lagi dan tenaganya runtuh. Ketika semua orang memandang ternyata Kiam Ki Sianjin masih berdiri dengan pedang potong di tangan, tanpa bergerak sedikit pun dan kedua matanya masih meram.

Cin Hai mendekati dan melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, ia menjadi terkejut dan merasa menyesal, karena dia tahu bahwa kakek itu sudah putus nyawanya karena serangan dari dalam. Ini hanya terjadi kalau orang terlalu marah.

Seorang perwira menghampiri tubuh Kiam Ki Sianjin yang masih berdiri diam dan hendak menariknya.

“Jangan!” teriak Cin Hai dan maju melompat hendak mencegah.

Akan tetapi terlambat. Ketika perwira itu memegang lengan Kiam Ki Sianjin serta hendak menolong dan menuntunnya, tiba-tiba saja ia menjerit ngeri dan terjengkang ke belakang bagaikan mendapat pukulan hebat. Sementara itu tubuh Kiam Ki Sianjin lantas roboh ke depan dalam keadaan masih kaku.

Perwira itu roboh dan tewas pada saat itu juga oleh karena ia terkena hawa dari tenaga dalam yang masih terkumpul di lengan tangan kakek itu dan biar pun ia telah mati, akan tetapi tubuhnya masih hangat dan hawa tenaga keluar serta menghantam perwira itu hingga binasa.

Dengan menyesal, Cin Hai segera mengajak kawan-kawannya lari dari tempat itu untuk menghindari pertempuran-pertempuran selanjutnya, oleh karena mereka maklum bahwa kematian kakek ini tentu tak akan dibiarkan saja oleh para perwira tadi!

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu tiada habisnya memuji-muji kelihaian Cin Hai yang diterima dengan ucapan merendah oleh pemuda ini. Juga Kwee An, walau pun dia tidak mengucapkan sesuatu, namun pandangan matanya kepada pemuda itu berubah penuh hormat dan bangga serta memandang tinggi.

Nelayan Cengeng lalu menceritakan bahwa dalam usahanya mencari jejak Lin Lin serta Ma Hoa, di jalan ia bertemu dengan Eng Yang Cu yang telah dikenal baik. Eng Yang Cu mendengar tentang penderitaan yang dialami oleh muridnya, karena itu mereka berdua merasa marah sekali kepada Hai Kong Hosiang kemudian mencarinya ke kota raja untuk mengadu kepandaian dan membalas sakit hati keluarga Kwee An. Akan tetapi, ternyata bahwa mereka tidak dapat menemukan Hai Kong Hosiang, sebaliknya bertemu dengan Kiam Ki Sianjin yang menyerang mereka dengan hebat ketika mendengar bahwa mereka datang hendak membunuh Hai Kong Hosiang!

Sesudah menceritakan pengalaman masing-masing, Cin Hai lantas menceritakan kepada Eng Yang Cu tentang ikatan jodoh antara Kwee An dan Ma Hoa dan minta pertimbangan orang tua ini. Cin Hai yang tahu bahwa Kwee An tentu tidak berani bicara sendiri, telah mewakili pemuda itu. Eng Yang Cu tertawa bergelak-gelak ketika mendengar ini.

“Ha-ha-ha! Aku sudah tahu tentang hal ini dan telah berunding dengan Nelayan Cengeng. Tentu saja pinto merasa bersyukur sekali, dan pinto yakin bahwa murid Si Cengeng ini tentu seorang nona yang sangat baik, asal saja sifat cengeng dari gurunya tidak menurun kepadanya!”

Nelayan Cengeng tertawa bergelak.

“Eng Yang Cu, begitulah jika orang selamanya membujang! Tidak tahu akan sifat wanita. Wanita manakah yang tidak cengeng? Ha-ha-ha!”

Ketika mereka berempat sedang mengobrol gembira, tiba-tiba saja terdengar suara yang datangnya dari jauh sekali akan tetapi cukup jelas.

“Orang Turki dan kedua nona berada di bukit utara dekat tapal batas!”

Mendengar suara tanpa rupa ini, Cin Hai segera berlutut memberi hormat ke arah suara itu.

“Siapakah yang bicara dan memiliki khikang mukjijat itu?” tanya Eng Yang Cu.

“Suhu sendiri yang memberi tahu bahwa mereka berada di utara!” kata Cin Hai yang lalu mengangguk-anggukkan kepala menghaturkan terima kasih kepada gurunya.

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu saling pandang dan mereka ini kagum sekali akan kelihaian Bu Pun Su yang telah dapat mengirim suara dari tempat jauh. Kwee An merasa girang sekali dan sesudah kedua orang tua itu berjanji hendak menghadiri perjodohan mereka, keduanya lalu pergi ke lain jurusan. Kwee An dan Cin Hai dengan hati girang lalu mempergunakan ilmu lari cepat untuk menuju ke utara, di mana kekasih mereka sudah menanti dengan hati rindu!

Kwee An dan Cin Hai yang melakukan perjalanan dengan cepat sekali, beberapa hari kemudian telah tiba di pegunungan di utara dekat tapal batas. Mereka mulai mencari-cari hingga akhirnya tibalah mereka di dalam sebuah dusun di dekat lereng tempat tinggal Yousuf.

Ketika mereka bertanya pada penduduk kampung tentang rumah seorang Turki dengan dua orang nona Han, mereka segera disambut oleh kepala kampung itu yang ternyata juga seorang Han dan berpakaian sebagai pembesar kampungan. Orang ini tubuhnya pendek dan ramah tamah sekali. Ia menyatakan kenal baik kepada Yousuf karena sering kali saling mengunjungi dan bercakap-cakap.

Bukan main girangnya hati Kwee An dan Cin Hai yang langsung menjadi berdebar ketika mengetahui bahwa rumah kekasih mereka sudah dekat di depan! Kepala kampung yang baik hati dan ramah tamah itu bahkan lalu mengantar mereka menuju ke rumah Yousuf yang berada di lereng sebelah kiri dusun itu.

Ketika dari jauh mereka telah melihat rumah kecil indah yang dikelilingi bunga-bunga itu tiba-tiba dari atas bukit yang tak jauh dari situ terdengar suara pekik burung merak yang nyaring sekali. Cin Hai teringat akan cerita Nelayan Cengeng tentang Merak Sakti, maka hatinya tertarik sekali dan ia lalu berkata kepada Kwee An,

“Saudara Kwee An, kau pergilah ke sana dulu dengan Chungcu (Kepala kampung), aku ingin sekali melihat burung aneh itu.”

Kwee An tersenyum dan ia maklum bahwa selain tertarik hatinya oleh burung merak itu, juga Cin Hai hendak menyembunyikan rasa girang dan malunya karena hendak bertemu dengan Lin Lin!

“Akan tetapi jangan terlalu lama,” katanya. “Aku tidak tanggung jawab kalau nanti adikku marah-marah!”

Cin Hai mendelikkan mata dan melompat cepat ke arah puncak bukit itu hingga membuat kepala kampung merasa heran dan kagum sekali! Kwee An sambil tersenyum-senyum melanjutkan perjalanan menuju ke rumah dengan hati berdebar.

Kebetulan sekali, ketika mereka sampai di dekat rumah, Kwee An melihat seorang gadis yang sedang menyirami kembang mawar hutan yang indah dan sedang mekar dengan segarnya. Gadis ini cantik jelita dan mengenakan pakaian bertitik-titik hijau dengan leher warna merah. Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul ke belakang dan agak kusut karena tertiup oleh angin gunung, akan tetapi kekusutan rambutnya ini malah menambah kemanisannya.

Kwee An tiba-tiba berhenti dan memberi isyarat kepada kepala kampung itu supaya tidak mengeluarkan suara. Kemudian dia menghampiri gadis itu dengan meringankan tindakan kakinya dari belakang. Setelah berada dekat di belakang gadis itu, Kwee An sudah tidak dapat menahan lagi perasaan girang dan debaran jantungnya yang mengeras, kemudian mengeluarkan panggilan yang diucapkan dengan bibir gemetar,

“Hoa-moi...”

Ma Hoa cepat menengok sambil berdiri. Matanya yang indah dan lebar terbelalak, lantas wajahnya mendadak menjadi merah. Tanpa terasa lagi tempat air yang tadi dipegangnya terjatuh ke atas tanah dan hanya dapat berkata,

“Kau... kau... An-ko...”

Kemudian, setelah dua pasang mata itu saling bertemu dan saling pandang dalam seribu satu bahasa, dan sinar mata itu mewakili hati masing-masing yang melepas kerinduan dengan pandangan mesra, Ma Hoa menundukkan kepalanya, lalu berkata perlahan,

“Koko, mengapa baru sekarang kau datang?” Ucapan ini biar pun terdengar seakan-akan gadis itu menegur, akan tetapi bagi telinga Kwee An adalah sebuah pengakuan bahwa gadis itu telah lama merindukannya!

“Moi-moi, maafkanlah bahwa baru sekarang aku berhasil menemukan tempat ini. Kau semakin cantik dan manis, hingga bunga ini nampak buruk berada di dekatmu!”

Ma Hoa mengerling dengan tajam dan bibirnya tersenyum senang, karena wanita mana yang tak akan merasa bahagia dan bangga apa bila mendapat pujian dari kekasihnya?

Dalam kebahagiaan pertemuan ini, Kwee An sama sekali lupa bahwa dia datang dengan kepala kampung yang kini berdiri menjauhinya dan duduk di atas sebuah batu karena merasa jengah dan malu apa bila harus mendekati mereka. Juga Kwee An lupa untuk bertanya tentang Lin Lin atau Yousuf.

Sebaliknya Ma Hoa juga sama sekali tidak ingat untuk bertanya mengenai Cin Hai atau orang-orang lain. Pendek kata, pada saat itu, mereka merasakan bahwa di atas dunia ini hanya ada mereka berdua saja.

Tiba-tiba, ketika kedua teruna remaja ini sedang bercakap-cakap dengan suara bisikan mesra, terdengar bentakan keras dari dalam rumah kecil itu.

“Ada tamu datang! Silakan kau minum air teh, anak muda!”

Dan berbareng dengan bentakan ini tubuh Yousuf muncul dari pintu dan orang Turki yang berilmu tinggi ini lalu melempar sebuah poci yang tadi dipegangnya ke arah Kwee An! Melihat hal ini, kepala kampung yang tadi duduk segera bangkit berdiri dan memandang dengan hati kuatir. Dia tahu akan keanehan sikap orang Turki ini.

Ia juga pernah mendengar tentang lemparan poci teh dan mengerti pula akan maksudnya oleh karena dahulu pernah ada beberapa orang pemuda kampung yang tertarik dengan kecantikan kedua orang gadis itu dan datang pula ke situ. Akan tetapi, mereka ini pun mendapat sambutan lemparan poci teh yang membuat mereka lari tunggang langgang, oleh karena mereka tak sanggup menerima poci yang menyambar mereka bagai seekor burung yang dapat beterbangan dan bergerak-gerak!

Ternyata bahwa Yousuf menggunakan poci teh itu untuk mencoba pemuda yang berani mendekati Ma Hoa atau Lin Lin dan lemparan poci ini adalah semacam kepandaian sihir yang digerakkan oleh tenaga khikang.

Melihat menyambarnya poci teh ke arah kepalanya, Kwee An terkejut sekali karena dia telah merasa datangnya serangan angin sambaran benda itu. Namun Kwee An tidak saja sudah mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, bahkan sekarang setelah lama melakukan perjalanan dengan Cin Hai, ia mendapat petunjuk-petunjuk berharga dari pemuda itu dan kepandaiannya telah mengalami banyak kemajuan. Di samping itu, Cin Hai juga memberi petunjuk tentang penyempurnaan latihan lweekang hingga dalam hal tenaga lweekang dan khikang, Kwee An juga mendapat kemajuan pesat.

Melihat datangnya poci teh yang menyambar, Kwee An lalu mengulur tangan kanannya dan dia semakin terkejut ketika merasa betapa poci itu terdorong oleh tenaga yang kuat sekali. Akan tetapi dia dapat mengerahkan lweekang-nya dan menerima poci teh dengan baik, bahkan air teh yang di dalam poci sama sekali tidak tumpah keluar!

“Bagus, bagus! Ma Hoa, siapakah pemuda yang gagah ini?” tanya Yousuf yang segera melangkah menghampiri.

“Lekas kau minum air teh dari poci. Ini adalah Yo-peh-peh,” bisik Ma Hoa.

Tanpa ragu-ragu Kwee An melakukan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu dan dia minum air teh dari mulut poci begitu saja tanpa cawan. Yousuf makin girang dan tertawa bergelak-gelak.

“Yo-peh-peh, ini adalah An-koko yang sering kali kau dengar namanya itu.”

Yousuf terkejut dan tahu bahwa dia tadi telah salah sangka. Maka cepat dia menghampiri dan membungkuk. “Maaf, Kwee-taihiap, aku tua bangka sembrono sudah berlaku kurang ajar.”

Akan tetapi, dengan hormat sekali Kwee An lalu menjura sesudah memberikan poci teh kepada kekasihnya dan berkata, “Yo-peh-peh, setelah Hoa-moi menyebut kau Peh-peh, maka kau bukanlah orang lain dan perkenankanlah aku menyebut Peh-peh pula padamu yang baik hati dan berkepandaian tinggi!”

Yousuf makin girang melihat sikap yang sopan santun dari pemuda ini, maka dia segera maju memeluknya. “Bagus, Ma-Hoa tidak keliru memilih. Memang Nelayan Cengeng itu pandai memilih jodoh muridnya!”

Ia lalu melihat kepala kampung itu dan segera memanggilnya, dan beramai-ramai mereka lalu masuk ke dalam rumah.

“Di mana Lin Lin?” tanya Kwee An dan baru sekarang ia teringat kepada adiknya.

Ma Hoa memandangnya dengan mata berseri, lalu menjawab, “Entahlah, semenjak tadi dia keluar dengan Sin-kong-ciak. Sebentar lagi tentu dia datang. Dan di manakah adanya Sie-taihiap? Mengapa ia tidak datang bersamamu?”

“Kebetulan sekali! Dia tadi mendengar suara kong-ciak dan pergi mencarinya, tentu dia telah bertemu dengan Lin Lin!”

Kemudian ketiga orang itu saling menceritakan tentang pengalaman mereka, disaksikan dan didengar oleh kepala kampung…..

********************

Ketika Cin Hai lari cepat ke arah puncak di mana dia mendengar burung merak memekik nyaring, dia mendengar lagi pekik burung merak itu yang agaknya sedang marah. Cin Hai mempercepat larinya dan ketika dia tiba di puncak, dia melihat pertempuran yang hebat antara seekor burung merak yang bulunya indah dan bertubuh besar sekali melawan seorang hwesio tinggi besar. Alangkah kaget dan girangnya ketika melihat bahwa hwesio itu bukan lain Hai Kong Hosiang!

Ternyata bahwa hwesio jahat ini dapat mengetahui tempat tinggal Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa. Maka timbullah niatnya hendak mengganggu gadis itu, terutama Lin Lin oleh karena ia tahu bahwa gadis ini adalah puteri Kwee-ciangkun yang menjadi musuh besarnya!

Demikianlah, saat ia mengintai ke bukit itu, kebetulan sekali ia melihat Lin Lin dan burung merak, maka segera ia muncul untuk menangkap Lin Lin. Tidak dinyana, burung merak itu dengan ganas sekali telah menyerangnya dan sebentar saja manusia dan burung ini bertempur sengit.

Ketika Cin Hai tiba di situ, burung merak sedang menyambar-nyambar dari atas dan Hai Kong Hosiang melawan dari bawah. Pertempuran berjalan ramai sekali, akan tetapi pada saat Cin Hai memperhatikan, dia menjadi terkejut oleh karena melihat betapa gerakan burung itu kaku sekali, seakan-akan telah mendapat luka berat!

Memang benar, sebelum Cin Hai datang, Hai Kong Hosiang yang kosen itu telah berhasil melukai Sin-kong-ciak dengan sebuah pukulan tangannya. Pukulan ini tepat mengenai dada kanan Merak Sakti itu dan kalau saja Merak Sakti tidak mempunyai kekebalan dan tenaga luar biasa, pasti ia telah tewas dan dadanya hancur pada saat itu juga! Namun, Merak Sakti telah mendapat gemblengan luar biasa dari Bu Pun Su dan sute-nya yang sakti dan sudah menjadi seekor binatang sakti yang memiliki kekuatan luar biasa maka pukulan ini biar pun telah melukainya, akan tetapi tidak dapat membunuhnya.

Betapa pun juga, kepandaian Hai Kong Hosiang terlampau tinggi baginya dan kini meski pun dia menyambar-nyambar namun dia tak berdaya menyerang Hai Kong Hosiang dan bahkan tiap kali mereka bergebrak hampir saja Merak Sakti itu terkena serangan dahsyat dari Hai Kong Hosiang!

Melihat ini Cin Hai menjadi marah dan sekali loncat saja ia telah berada di dekat tempat pertempuran. Alangkah herannya ketika melihat seekor kuda yang dikenalnya baik-baik berada pula di situ, makan rumput hijau tanpa mempedulikan.

Kuda itu adalah kuda Pek-gin-ma atau Kuda Perak Putih kepunyaan Pangeran Vayami yang dulu telah dibawa oleh Bu Pun Su untuk dikembalikan kepada yang punya. Ia dapat menduga bahwa kuda ini terjatuh ke dalam tangan Hai Kong Hosiang dan dugaannya memang betul. Hai Kong Hosiang datang ke bukit itu sambil menunggang Pek-gin-ma yang semenjak dia pergi dengan Pangeran Vayami ke Pulau Kim-san-to, memang sudah berada di tangannya dan dipelihara baik-baik di kota raja.

“Hai Kong Hosiang, mari kita menentukan perhitungan terakhir hari ini!” kata Cin Hai yang menyambung ucapannya itu dengan suara halus ke arah Merak Sakti.

“Sin-kong-ciak-ko, biarlah siauwte menghadapi hwesio gundul kurang ajar ini dan engkau beristirahatiah dulu!”

Merak Sakti ini agaknya maklum bahwa pemuda yang datang adalah seorang yang boleh dipercaya, maka ia lalu terbang ke atas dahan pohon di dekat situ dan setelah hinggap di sana dia lalu menggunakan paruh serta kepalanya untuk mengusap-usap dada kanannya yang terluka dan terasa sakit.

Ketika Hai Kong Hosiang melihat siapa yang datang, bukan kepalang marahnya.

“Bangsat besar, akhirnya aku dapat juga bertemu dengan engkau!” katanya dan sedikit pun dia tidak merasa jeri.

Memang dia tahu bahwa kepandaian pemuda ini tinggi sekali sebagaimana sudah dia rasakan ketika mereka bertempur di atas perahu Pangeran Vayami, akan tetapi kini dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi supek-nya.

Setelah mengeluarkan makian marah, Hai Kong Hosiang langsung maju dengan tongkat ularnya. Cin Hai mencabut pedangnya Liong-coan-kiam dan menangkis hingga sebentar saja dua orang musuh besar ini sudah bertempur mati-matian di atas bukit itu, disaksikan oleh Sin-kong-ciak yang bertengger di atas dahan pohon.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus, keduanya tercengang dan kaget sekali melihat kemajuan ilmu silat lawan. Akan tetapi kekagetan Hai Kong Hosiang lebih besar lagi oleh karena tenaga lweekang-nya yang telah dilatih sempurna itu tidak berdaya menghadapi Cin Hai! Ia merasa betapa pemuda ini sekarang memiliki tenaga lweekang yang berlipat ganda hebatnya dari pada dulu.

Dan ketika Cin Hai membuka serangan dengan ilmu pedangnya yang baru diciptakannya sendiri itu, maklumlah Hai Kong Hosiang bahwa pemuda ini sekarang sudah memiliki ilmu kepandaian hampir menyamai tingkat Bu Pun Su sendiri! Diam-diam dia menjadi bingung dan jeri terutama sekali ketika Cin Hai dengan senyum sindir berkata,

“Hai Kong, sekarang kau harus menghadap Supek-mu!”

Hai Kong Hosiang maklum bahwa supek-nya telah meninggal dunia dan hal ini membuat ia semakin jeri lagi. Ia tak perlu bertanya bagaimana supek-nya meninggal namun dapat menduga bahwa tentulah pemuda ini yang merobohkannya, kalau tidak, tidak nanti Cin Hai mengeluarkan kata-kata yang bermaksud melemahkan pertahanannya dan membuat kacau pikirannya itu.

Dengan nekad Hai Kong Hosiang kemudian menyerang lagi dengan Ilmu Silat Tongkat Jian-coa Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Seribu Ular yang menjadi kebanggaannya. Akan tetapi, serangan dengan ilmu tongkat yang telah dikenal baik-baik oleh Cin Hai ini, hanya memperlebar senyum di mulut pemuda itu saja.

Ketika Cin Hai mengeluarkan seruan keras dan menggerakkan jurus ke dua puluh satu dari ilmu pedangnya, mendadak tongkat di tangan Hai Kong Hosiang terlempar ke udara dan terdengar sayap mengibas karena saat melihat tongkat hwesio itu melayang ke atas, Merak Sakti cepat menyambarnya dan membawa terbang tongkat itu untuk dilempar jauh ke dalam sebuah jurang yang curam sekali!

Hai Kong Hosiang menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia berjungkir balik dengan kepala di atas tanah dan kedua kaki bergerak-gerak di atas! Gerakannya sangat cepat dan hebat, dan kedua kakinya mengeluarkan tenaga luar biasa karena anginnya saja menyambar-nyambar membuat daun-daun pohon yang bergantungan di situ bergoyang-goyang bagai tertiup angin keras!

Namun Hai Kong Hosiang tak dapat menakut-nakuti Cin Hai dengan ilmunya ini, bahkan pemuda ini lalu dengan tenangnya menyimpan kembali pedangnya, oleh karena dia tidak mau disebut licin akibat melawan seorang bertangan kosong dengan senjata di tangan! Ia maju menghadapi Hai Kong Hosiang yang telah berdiri dengan terbalik itu.

Hai Kong Hosiang mengeluarkan seruan keras dan mengerikan kemudian kedua kakinya menyambar dalam serangan-serangan kilat dan maut! Cin Hai segera menyambutnya dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang ajaib, dan benar saja. Ilmu silat yang dilakukan dengan tubuh terbalik ini tidak berdaya menghadapi Pek-in Hoat-sut dan setiap kali hawa pukulan kaki itu menyambar dan terpukul balik oleh uap putih yang keluar dari sepasang lengan Cin Hai, maka kaki Hai Kong lantas terpental kembali yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang.

Cin Hai maklum bahwa dalam keadaan terbalik itu, agak sulit baginya untuk mencari jalan darah lawan dalam keadaan jungkir balik itu. Kalau saja Hai Kong Hosiang bertempur sambil berdiri di atas kedua kakinya, tak akan sukar agaknya bagi dia untuk merobohkan hwesio itu.

Cin Hai yang sejak tadi memperhatikan gerakan Hai Kong Hosiang, tiba-tiba mengambil keputusan untuk meniru gerakan lawannya ini. Segera dia berseru keras dan berjungkir balik, kepala di atas tanah dan kedua kaki di atas. Maka bertempurlah mereka dalam keadaan aneh itu dengan hebatnya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner