PENDEKAR BODOH : JILID-37


Ang I Niocu, Kwee An serta Ma Hoa melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat untuk mencari Lin Lin dan Yousuf. Pada suatu hari ketika mereka tiba di sebuah hutan, mereka melihat seorang kakek sedang dikeroyok oleh rombongan perampok yang terdiri dari belasan orang bersenjata golok.

Kakek ini gagah sekali, bertempur sambil tertawa bergelak dan memutar-mutar sebatang dayung dengan hebatnya. Tiga orang pengeroyoknya sudah roboh dengan tulang patah dan kulit matang biru, sedangkan sisa pengeroyok-pengeroyok terdesak hebat.

“Nelayan Cengeng!” seru Ang I Niocu.

Ketiga orang muda itu segera menerjang kawanan perampok itu yang segera melarikan diri karena baru menghadapi seorang kakek saja mereka sudah sangat terdesak, apa lagi kini datang tiga orang muda membantu kakek itu!

Ketika melihat kedatangan Ang I Niocu, Ma Hoa dan Kwee An, Nelayan Cengeng tertawa gembira sekali. Ia mengusap-usap rambut Ma Hoa pada waktu gadis itu berlutut di depan suhu-nya, mulutnya tiada hentinya tertawa, akan tetapi sepasang matanya mengalirkan air mata!

“Ma Hoa, alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau di sini. Kau sekarang telah berubah banyak, muridku! Dengan rambutmu terurai seperti ini, apa bila tidak ada Kwee An dan Ang I Niocu, mungkin aku akan pangling!”

Ternyata bahwa Nelayan Cengeng telah menyusul muridnya ke lereng bukit di utara itu, akan tetapi hanya mendapatkan tumpukan puing belaka sehingga dia pun menyusul dan mengejar ke barat. Ketika tiba di dalam hutan itu, dia dikeroyok oleh perampok-perampok yang merupakan makanan lunak bagi dayungnya sehingga dia mempermainkan mereka dengan gembira, tak mengira sama sekali bahwa di situ dia akan dapat bertemu dengan murid yang dicari-carinya itu.

“Ketika aku mencarimu di utara, aku mendengar tentang Lin Lin dan Yo Se Pu sedang dikejar-kejar oleh orang Turki. Di mana mereka itu sekarang? Dan di mana pula adanya Cin Hai? Sungguh tak kusangka tadinya bahwa kalian semua akan terpisah-pisah seperti ini. Dan Ang I Niocu seolah-olah baru saja kembali dari lubang kubur! Ketahuilah, Niocu, bahwa tak seorang pun pernah menduga bahwa kau masih hidup! Syukurlah, semuanya berada dalam selamat, ini menambahkan keyakinanku bahwa kalian adalah orang-orang baik yang berada dalam lindungan Thian!”

Dengan singkat Ang I Niocu menceritakan pengalamannya bagaimana dia sampai dapat tertolong dari pulau yang meledak itu, akan tetapi sama sekali dia tidak menyebut nama Lie Kong Sian. Sedangkan Ma Hoa lalu menuturkan pengalamannya ketika dia dan Kwee An terjerumus ke dalam jurang dan betapa dia mendapat pelajaran dari seorang pertapa bernama Hok Peng Taisu, kakek botak yang telah mengajarkan Ilmu Silat Bambu Kuning kepadanya.

“Hebat, hebat! Kau beruntung sekali, Ma Hoa! Ketahuilah bahwa Hok Peng Taisu adalah seorang tokoh besar dan dulu ketika aku masih muda, pernah aku mendapat pertolongan dari Si Botak itu hingga sampai sekarang gurumu ini masih dapat hidup! Dulu aku pernah dikepung oleh imam-imam dari perkumpulan Agama Ngo-bwe-kauw dan ketika aku telah terdesak hebat dan terancam bahaya maut, Si Botak itu yang datang menolongku. Dan sekarang, kembali dia menolong jiwamu dan bahkan memberi pelajaran ilmu silat yang tinggi kepadamu! Bagus, bagus, sebelum aku mati, aku harus menemui Si Botak itu untuk berlutut menghaturkan terima kasih padanya. Kini kau perlihatkanlah kepandaianmu yang baru itu!”

Ma Hoa menganggap Nelayan Cengeng seperti ayah sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi ia segera mengeluarkan sepasang bambu runcingnya dan bersilat dengan cepat. Melihat betapa gadis itu dengan rambut berkibar melambai-lambai menggerakkan kedua batang bambu runcing hingga kedua batang bambu yang berwarna kuning itu merupakan sinar panjang berbelit-belit bagaikan ratusan ekor ular kuning sedang saling belit dan bergerak-gerak dengan ruwet dan aneh, tidak saja Kwee An memandang dengan kagum dan rasa kasih sayangnya bertambah, juga Ang I Niocu dan Nelayan Cengeng merasa kagum luar biasa. Setelah Ma Hoa selesai bersilat, gurunya kembali tertawa dengan gembira dan air matanya mengucur makin deras!

“Adik Ma Hoa, ilmu silatmu sekarang sudah maju hebat, sungguh membuat aku merasa kagum sekali,” kata Ang I Niocu dengan sejujurnya.

“Ah, Enci Im Giok, jangan kau terlalu memuji. Aku masih banyak mengharapkan petunjuk darimu,” kata Ma Hoa sambil menyimpan kembali kedua batang bambu runcingnya.

Kembali Ang I Niocu mengusulkan untuk mencari Lin Lin dan Cin Hai secara terpisah agar lebih banyak harapan dan lebih cepat bertemu dengan kedua anak muda itu.

“Biarlah Kong Hwat Lojin mengawani kalian berdua, dan aku akan mencari sendiri,” kata Ang I Niocu yang memang lebih suka melakukan perjalanan seorang diri.

Biar pun Ma Hoa merasa agak sayang untuk berpisah lagi dengan wanita pandekar yang disayanginya itu, namun ia anggap usul ini betul juga.

“Akan tetapi kita harus menentukan tempat berkumpul kembali supaya kita tidak saling mencari tanpa mengetahui di mana kita harus saling mengadakan pertemuan,” Nelayan Cengeng berkata.

Lalu mereka mengadakan permufakatan untuk bertemu di rumah Kwee An. Semua orang setuju dan pada waktu mereka hendak melanjutkan perjalanan secara terpisah, tiba-tiba mereka mendengar dengan sayup-sayup suara orang bertempur. Mereka saling pandang dengan heran dan keempatnya lalu lari menuju ke arah dari mana suara itu datang.

Pada waktu itu hari telah mulai menjadi gelap, akan tetapi di udara banyak bintang hingga keadaan tak terlalu gelap. Suara beradunya senjata dan teriakan-teriakan itu datang dari tengah hutan dan ketika mereka tiba, di suatu tempat terbuka, mereka melihat dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebatnya!

Seorang di antara mereka adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berusia kira-kira empat puluh tahun lebih. Dia bersenjata sebuah alat tetabuhan yang memiliki empat tali. Gerakannya sangat hebat dan angin gerakannya membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang!

Lawannya juga seorang yang lihai sekali, yaitu seorang pendeta bertubuh pendek gemuk, berjubah merah dan memegang sebuah gendewa sebagai senjata. Gerakannya juga lihai sekali dan setiap kali ujung gendewanya beradu dengan senjata lawannya, bunga api lalu memercik tinggi, tanda bahwa selain kedua senjata itu terbuat dari logam yang keras, juga bahwa tenaga mereka besar dan seimbang!

Mereka berempat, bahkan Nelayan Cengeng sendiri tidak tahu siapa adanya dua orang yang berilmu tinggi itu. Sebenarnya, orang yang bersenjata alat musik itu bukan lain ialah Sie Ban Leng atau paman Cin Hai yang dahulu telah mengkhianati ayah Cin Hai hingga keluarganya terbinasa! Sedangkan pendeta jubah merah itu adalah Sian Kek Losu, yaitu seorang pendeta Sakya Buddha, atau sute dari Thai Kek Losu yang lihai dan menjadi jago nomor dua dari semua tangan kanan Yagali Khan, Raja Muda Mongol itu!

Makin bertambah banyaknya orang-orang Turki yang mendatangi Tiongkok bagian barat, membuat kaisar menaruh curiga, maka kemudian kaisar memerintahkan panglimanya untuk mengirim seorang utusan atau penyelidik. Kam Hong Sin atau Kam-ciangkun yang kini menjadi panglima tertinggi kerajaan ialah seorang yang amat lihai dalam melakukan tugasnya. Ia maklum bahwa tugas seorang penyelidik di barat bukanlah suatu tugas yang ringan dan yang dapat dilakukan oleh sembarang orang saja, karena itu dia lalu minta pertolongan kawan baiknya dengan memberi hadiah dan upah besar. Kawan baiknya ini bukan lain ialah Sie Ban Leng!

Juga Yagali Khan menyebar orang-orangnya untuk melihat gerak-gerik orang Turki yang menjadi musuhnya. Di antara orang-orangnya ini, Sian Kek Losu turut pula melakukan perjalanan ke barat untuk melihat keadaan. Maka bertemulah Sian Kek Losu dengan Sie Ban Leng di tempat ini hingga setelah mengetahui bahwa mereka datang dari pihak yang bermusuhan, bertempurlah mereka dengan hebatnya.

Gerakan serangan Sie Ban Leng benar-benar hebat luar biasa. Senjatanya yang aneh itu menyambar-nyambar dan tak pernah berhenti menyerang karena setiap kali serangannya dapat dielak, senjatanya itu membuat gerakan melengkung lantas terus membabat dan memukul lagi hingga serangan itu dilakukan tanpa pernah tertunda, merupakan serangan bertubi-tubi sehingga membuat pendeta Sakya Buddha itu tersedak hebat.

Tiba-tiba saja pendeta Sakya Buddha itu melompat mundur dan gerakan tubuhnya yang pendek itu amat gesitnya hingga sekali melompat ia telah berada di tempat yang jauhnya tidak kurang dari lima tombak. Ketika Sie Ban Leng melompat untuk menerjang lagi, Sian Kek Losu telah mengeluarkan anak panah yang lalu dipasangnya pada gendewanya dan begitu terdengar suara tali gendewa menjepret, tujuh batang anak panah sekaligus lantas melayang ke arah tubuh Sie Ban Leng di beberapa bagian!

Terkejutlah Nelayan Cengeng beserta kawan-kawannya melihat kehebatan dan bahaya besar yang mengancam orang Han itu. Betapa pun juga, dan biar pun mereka tidak kenal siapa adanya dua orang itu dan mengapa pula mereka bertempur, akan tetapi sebagai orang-orang Han, sedikit banyak mereka memihak bangsa sendiri. Ini merupakan watak manusia pada umumnya, maka melihat bahaya yang mengancam Sie Ban Leng, tanpa terasa pula Nelayan Cengeng mengeluarkan seruan tertahan.

Akan tetapi kalau kepandaian memanah dari Sian Kek Losu hebat, maka kegesitan Sie Ban Leng lebih hebat lagi. Ia berseru keras dan untuk mengelak sambaran tujuh batang anak panah yang dilepas dari dekat dan yang melayang dengan kecepatan luar biasa itu memang sudah tak mungkin, maka tiba-tiba ia mengenjot kakinya dan kaki itu melayang ke atas dengan kepala di bawah.

Dengan demikian, maka tubuh bagian bawah yang terancam oleh panah sudah terhindar dari bahaya dan untuk menjaga kepalanya ia memutar-mutar senjatanya sedemikian rupa sehingga dua batang anak panah yang tadinya mengarah ke mata dan tenggorokannya, dengan suara keras lantas beradu dengan senjatanya.

Sebatang anak panah dapat dipukul jatuh, akan tetapi yang sebatang lagi menancap di perut alat musik itu. Anak panah yang terpukul itu melayang dengan masih cepatnya ke arah Ang I Niocu yang berdiri paling depan.

Dengan tenang Ang I Niocu segera memegang ujung ikat pinggangnya yang melambai ke bawah dan sekali dia menggerakkan tangan, ikat pinggangnya meluncur dan ujungnya dapat menangkis anak panah yang menuju kepadanya hingga jatuhlah anak panah itu di atas tanah.

“Kau berani merusak alat musikku?!” teriak Sie Ban Leng dengan marah dan ia melompat lalu mengirim serangan berupa pukulan hebat ke arah kepala pendeta pendek itu.

Kalau pukulan itu mengenai sasaran, pasti kepala Sian Kek Losu akan menjadi remuk. Akan tetapi Sian Kek Losu sudah siap sedia. Walau pun dia tadi merasa terkejut sekali melihat betapa lawannya sanggup menghindarkan diri dari semua anak panahnya, akan tetapi ketika lawannya menyerbu dengan pukulan senjata, dia lalu maju dan menggempur senjata lawan itu dengan gendewanya. Akan tetapi, sekali ini Sie Ban Leng benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya sehingga saat gendewa itu beradu dengan senjatanya, Sian Kek Losu terdorong ke belakang dengan keras!

Sie Ban Leng tidak mau memberi hati dan mendesak terus. Akan tetapi pada saat itu, dari dalam gerumbulan pohon keluarlah tujuh orang pahlawan Mongol, di antaranya nampak Balaki yang lihai. Segera mereka menyerbu dan mengeroyok Sie Ban Leng yang tertawa bergelak dan berkata,

“Majulah! Majulah kalian tikus-tikus Mongol!” dan dia memutar-mutar senjatanya dengan hebat.

Tadi ketika Sian Kek Losu bertempur dengan Sie Ban Leng, Kwee An mengusulkan untuk membantu, akan tetapi dia dicegah oleh Ang I Niocu yang menyatakan bahwa orang Han itu tidak akan kalah.

Akan tetapi kini setelah melihat betapa banyak orang Mongol yang berilmu silat tinggi dan lihai membantu dan mengeroyok orang Han itu, tanpa mendapat komando lagi Nelayan Cengeng lalu menyerbu sambil memutar-mutar dayungnya dengan hebat dan berteriak, “Pengecut, pengecut! Mengapa terjadi pengeroyokan??”

Ang I Niocu, Kwee An dan Ma Hoa juga lalu menerjang maju hingga sebentar saja pihak Mongol menjadi kacau balau karena biar pun mereka itu lihai, namun empat orang yang membantu Sie Ban Leng ini adalah orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian lebih tinggi dari pada mereka, sedangkan pihak mereka yang dapat mengimbangi kepandaian Nelayan Cengeng dan kawan-kawannya hanyalah Sian Kek Losu dan Balaki. Maka atas aba-aba yang dikeluarkan oleh Balaki, mereka lalu melompat mundur dan menghilang di dalam gelap.

“Ha-ha-ha-ha! Hanya begitu saja kelihaian orang-orang Mongol!” Sie Ban Leng berseru dengan suara menyatakan kebanggaannya.

Mendengar kata-kata serta melihat lagak Sie Ban Leng ini, diam-diam Nelayan Cengeng merasa tak suka, apa lagi ketika orang itu memandang ke arah Ang I Niocu dengan mata terbelalak kagum dan bibir tersenyum dibuat-buat. Pandangan ini dapat pula ditangkap oleh Ang I Niocu dan tahulah ia bahwa batin laki-laki ini tidak bersih.

“Cuwi gagah perkasa sekali dan kalau Cuwi tak keburu datang, tentu akan makan waktu lama sebelum aku dapat merobohkan mereka seorang demi seorang,” kata Sie Ban Leng sambil mengerling kepada Ang I Niocu.

Kwee An dan Ma Hoa merasa mendongkol mendengar ucapan sombong ini! Kalau saja mereka tahu bahwa orang yang sudah dibantunya ini demikian sombongnya, belum tentu mereka mau turun tangan.

“Ha-ha-ha, pendeta pendek tadi adalah jago ke dua dari Yagali Khan yang bernama Sian Kek Losu, tak tahunya hanya sebegitu saja kepandaiannya. Kalau kawan-kawannya tidak keburu datang mengeroyokku, pasti kepalanya yang licin itu akan remuk oleh senjataku!” Kembali Sie Ban Leng menyombong. “Kalau terjadi demikian barulah mereka tahu bahwa aku Sie Ban Leng Si Tubuh Baja bukanlah orang yang boleh dibuat permainan!”

Biar pun ucapan ini seakan-akan ucapan yang ditujukan kepada diri sendiri, namun jelas bahwa maksudnya adalah memperkenalkan diri berikut nama julukannya Si Tubuh Baja! Ang I Niocu yang merasa sebal karena beberapa kali dilirik, lalu berkata kepada Nelayan Cengeng,

“Lo-enghiong, mari kita lekas keluar dari tempat yang gelap dan kotor ini dan melanjutkan perjalanan kita!”

Juga Kwee An dan Ma Hoa kemudian membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu. Nelayan Cengeng tertawa bergelak-gelak hingga keluar air matanya ketika dia bertindak pergi meningalkan Sie Ban Leng sambil berkata, “Sobat, kau cukup gagah perkasa, akan tetapi kalau kau berdiri di tempat terlampau tinggi, ada bahayanya kau akan tergelincir jatuh!”

Sie Ban Leng merasa penasaran sekali oleh karena keempat orang itu, terutama Dara Baju Merah yang cantik bagaikan bidadari itu belum memperkenalkan diri. Akan tetapi oleh karena mereka telah pergi, ia tidak dapat menahan mereka. Diam-diam ia mengikuti mereka dari jauh dan ketika tiba di luar hutan, melihat bahwa Ang I Niocu memisahkan diri dan berpisah dari tiga orang yang lain, hatinya girang bukan main dan diam-diam dia lalu mengejar Ang I Niocu!

Ada pun Kwee An, Ma Hoa dan Nelayan Cengeng, lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Kansu. Di sepanjang jalan mereka membicarakan pertemuan mereka dengan Sie Ban Leng yang sombong itu.

“Dulu aku pernah mendengar nama Si Tubuh Baja itu, kalau tidak keliru, beberapa tahun yang lalu dia menjagoi di kota raja dan mempunyai hubungan erat dengan para Perwira Sayap Garuda. Akan tetapi kemudian dia lalu menjelajah ke daerah barat. Mungkin dia inilah orangnya!”

Ma Hoa sendiri biar pun menjadi putera seorang Perwira Sayap Garuda, akan tetapi oleh karena semenjak kecil lebih sering berada bersama Nelayan Cengeng mempelajari ilmu silat, maka ia belum pernah bertemu dengan Sie Ban Leng atau mendengar namanya.

Ketiga orang ini segera melanjutkan perjalanan menuju ke Propinsi Kansu, dan baru saja mereka mulai memasuki Propinsi ini, mereka telah bertemu dengan banyak orang yang terdiri dari berbagai suku bangsa, akan tetapi yang terbanyak adalah suku bangsa Hui. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke ibu kota Kansu, yaitu Lan-couw yang besar dan ramai. Di sinilah terdapat banyak sekali perantau-perantau dari Turki yang menjadi saudagar dan membeli banyak kulit dan bulu onta yang panjang dan tinggi mutunya dari daerah ini…..

********************

Cin Hai terus mengejar pria pesolek yang melarikan Lin Lin sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Dia merasa heran sekali karena biar pun ilmu ginkang-nya sudah mencapai tingkat yang tinggi, namun orang itu masih saja belum dapat tersusul olehnya, padahal orang itu berlari sambil mengempit tubuh Lin Lin yang tidak berdaya karena telah tertotok secara lihai sekali!

Akan tetapi ia tidak mau kalah dan andai kata orang itu membawa lari Lin Lin menuju ke lautan api sekali pun, ia akan tetap mengejar! Fajar telah menyingsing dan matahari telah mulai timbul ketika mereka masih saja berkejaran hingga mereka tiba di tanah datar yang kering dan luas.

Akhirnya, orang pesolek itu melarikan diri naik ke sebuah bukit kecil di sebelah kiri, terus dikejar oleh Cin Hai. Melihat betapa pengejarnya tidak mau mengalah, akhirnya pesolek itu lalu berhenti dan sambil mengempit tubuh Lin Lin di dalam pelukan lengan kirinya, dia menunggu dengan mulut tersenyum akan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar mengancam hebat!

Cin Hai berlari dan melompat ke hadapannya sambil memaki, “Bangsat berjiwa rendah! Kau masih tidak hendak melepaskan gadis itu?”

“Ehh, bocah kurang ajar, kau ini siapakah maka berani berlaku kurang ajar di depanku? Apakah kau tidak tahu bahwa kini kau tengah berhadapan dengan Kwi-eng-cu (Bayangan Setan) yang berarti akan mendatangkan maut bagimu apa bila kau menentangnya? Dan apakah hubunganmu dengan gadis ini? Kuperingatkan kepadamu agar segera pergi dan jangan ikut mencampuri urusanku!”

“Orang rendah! Ternyata yang kau hias hanya mukamu saja sehingga biar pun di luar kau nampak cakap dan bersih, tetapi sebetulnya di sebelah dalam dari tubuhmu bersembunyi batin yang rendah, buruk dan kotor! Kuakui bahwa kepandaianmu memang tinggi, akan tetapi jangan kau kira bahwa aku takut kepadamu! Aku Pendekar Bodoh, tak pernah takut menghadapi seorang penjahat, betapa pun gagahnya dia! Lepaskan gadis itu kalau kau masih sayang jiwamu sendiri!”

“Ha-ha-ha! Masih baik kalau kau mengaku bodoh, karena memang kau bodoh dan tolol! Mungkin kau memang pendekar, karena kepandaianmu berlari cepat tidak rendah, dan kau memang bodoh karena tidak tahu akan kehendak seorang laki-laki seperti aku! Gadis ini cantik jelita dan manis, ada pun aku seorang laki-laki yang gagah dan tampan, maka sekarang aku menawannya dengan maksud apa? Tentu saja, kau akan mengerti sendiri kalau saja kau tidak sedemikian bodoh! Aku hendak mengambil dara ini sebagai isteriku, isteri yang tercinta, karena gadis seperti inilah yang sejak dulu kucari-cari untuk menjadi jodohku! Nah, sekarang kau sudah mendengar maksudku membawa gadis ini, maka kau pulanglah ke rumah ibumu dan jangan mencari penyakit dengan ikut mencampuri urusan pribadi orang lain!”

“Bangsat cabul!” Cin Hai memaki marah bukan main. “Bukalah telingamu baik-baik! Gadis ini ialah tunanganku! Siapa sudi untuk mencampuri urusanmu yang kotor? Kau lepaskan tunanganku ini dan baru aku mau mengampuni jiwamu yang rendah!”

Mendengar ucapan ini, berdirilah kedua alis orang itu. Hidungnya yang mancung itu lalu berkembang-kempis, dan meski pun mulutnya masih tersenyum, namun Cin Hai melihat betapa sinar matanya bernyala-nyala bercahaya.

“Bagus, kalau begitu mampuslah kau!” tiba-tiba saja orang itu membentak dan sekali saja tubuhnya berkelebat, ia menyerang Cin Hai dengan tangan kanannya! Serangan ini hebat sekali dan dari lengan tangan orang itu mengepul uap putih.

Melihat betapa orang ini mempergunakan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut, kembali Cin Hai terheran dan dia segera melawan dengan Pek-in Hoat-sut juga! Orang itu terkejut sekali melihat gerakan Cin Hai ini, dan cepat ia merobah ilmu silatnya dengan Kong-ciak Sinna. Akan tetapi kembali ia terheran sampai mengeluarkan suara tertahan ketika Cin Hai juga melawannya dengan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna yang sama pula!

Kembali orang itu merobah ilmu silatnya dengan berbagai macam pukulan yang lihai dan permainan silat pilihan yang tinggi, namun dengan mempergunakan pengertiannya dalam hal segala macam gerakan tangan dan kaki, Cin Hai melayaninya dengan gerakan yang sama pula.

“Ehg, ehh tahan dulu!” kata orang itu sambil melompat ke belakang.

“Apa kehendakmu?” tanya Cin Hai sambil berdiri tenang dan memandang tajam.

“Kau yang mengerti Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sinna serta yang paham akan dasar persilatan, siapakah kau dan siapa pula Gurumu?”

“Aku pun sedang terheran-heran melihat betapa seorang yang pandai Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sinna sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan seperti kau! Sebelum aku bertanya, kau sudah mengajukan pertanyaan lebih dahulu, maka dengarlah baik-baik! Aku bernama Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh dan suhu-ku ialah Bu Pun Su!”

Untuk sesaat wajah pesolek itu menjadi pucat dan dia memandang seakan-akan melihat setan, namun dari sinar matanya mengandung ketidak percayaan.

“Maukah kau bersumpah bahwa kau benar-benar murid Bu Pun Su?” tanyanya.

“Bukan hanya aku, bukalah lebar-lebar kedua matamu, karena gadis yang kau tawan itu pun seorang murid Suhu Bu Pun Su pula,” kata Cin Hai.

Tiba-tiba berubahlah wajah orang itu. Dia tersenyum dan tiba-tiba dia mengangkat tangan dengan girang. “Kalau begitu, kau adalah Sute-ku dan gadis ini adalah Sumoi-ku! Lebih baik lagi! Sute, dengarlah bahwa Bu Pun Su adalah Supek-ku (Uwa Guru) karena aku adalah murid dari Guruku Han Le!”

Cin Hai merasa terkejut sekali dan mengertilah dia mengapa orang ini demikian lihainya dan mengerti Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sinna dengan baiknya.

“Hm, hmm, kalau begitu kau benar adalah Seheng-ku sendiri. Mengapa Suhu tak pernah menceritakan tentang kau. Siapakah namamu?”

Sambil tertawa orang itu berkata “Namaku adalah Song Kun dan ketika aku mempelajari ilmu silat dari Suhu di atas Pulau Kim-san-to, Supek sering kali datang dan bahkan beliau pernah memberi pelajaran beberapa ilmu kepadaku, dan sekarang aku perintahkan agar supaya kau tinggalkan aku dan Sumoi!”

“Apakah yang hendak kau perbuat kepada tunanganku ini?” tanya Cin Hai dengan suara gemas.

“Sute, dengarlah baik-baik. Sebagai seorang saudara muda yang baik dan berbakti, kau harus mengalah padaku. Sumoi-ku ini hendak kubawa pulang dan hendak kuambil untuk menjadi isteriku. Terus terang saja, semenjak aku melihatnya, timbul cintaku yang besar kepadanya.”

“Tapi dia adalah tunanganku!” kata Cin Hai penasaran.

“Sute, sudah selayaknya apa bila seorang saudara muda mengalah terhadap kakaknya. Suheng-nya belum kawin, mana sute-nya boleh bertunangan? Kau mengalahlah padaku kali ini, Sute. Biar lain kali aku mencarikan jodoh yang manis dan jelita untukmu!”

“Aku tidak mempunyai seorang Suheng seperti macammu!” teriak Cin Hai dengan sangat marahnya. “Kalau kau tidak mau melepaskan Lin Lin, biarlah kita mengadu jiwa di tempat ini!”

Kedua mata Song Kun berkilat. “Apakah benar-benar kau sudah bosan hidup? Dengarlah kau, bocah sombong! Jangankan baru kau, biar Suhu hidup kembali atau Supek datang membantumu, jangan harap kau akan bisa menangkan Kwie-eng-cu!”

“Jangan banyak cakap dan kau cobalah saja!” seru Cin Hai sambil melangkah maju.

Bukan main marahnya Kwie-eng-cu melihat sikap Cin Hai yang menantang ini. Tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang sudah berada di tangan itu. Cin Hai terkejut bukan main melihat pedang ini karena pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dan sinar merah yang keluar dari pedang itu mendatangkan hawa panas!

Inilah pedang Ang-ho Sian-kiam yang luar biasa dan yang ratusan tahun yang lalu telah menjadi pedang pusaka yang keramat di istana kaisar. Ketika pedang ini jatuh ke dalam tangan Song Kun, maka seakan-akan dia menjadi seekor naga yang tumbuh sayap!

Cin Hai juga mencabut keluar Liong-coan-kiam dari dalam bajunya dan ketika Song Kun melompat dan menerjangnya, dia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Daun Bambu yang lihai! Song Kun terkejut sekali melihat gerakan ilmu pedang ini oleh karena biar pun dia telah mewarisi hampir seluruh kepandaian Han Le, belum pernah ia melihat gerakan ilmu pedang yang sedemikian aneh dan lucunya, akan tetapi berbareng juga lihai sekali.

Dan oleh karena tangan kirinya masih mengempit tubuh Lin Lin maka gerakannya kurang leluasa sekali. Apa lagi ketika selain menggerakkan pedang untuk menyerang, Cin Hai juga menggunakan tangan kiri untuk mengirim pukulan-pukulan ke arah jalan darahnya!

Song Kun lantas memutar-mutar pedangnya dengan ganas dan mencoba untuk mengadu pedangnya itu dengan pedang Cin Hai. Akan tetapi Cin Hai cukup maklum bahwa pedang lawannya ini berbahaya sekali maka ia selalu menghindarkan beradunya kedua senjata, dan bahkan memperhebat serangan tangan kirinya.

Pada suatu kesempatan, tangan kiri Cin Hai mendorong dengan tenaga penuh ke arah pelipis lawannya dan dalam keadaan terdesak, Song Kun terpaksa melemparkan tubuh Lin Lin untuk mengangkat tangan kirinya menangkis. Tubuh Lin Lin terlempar ke kiri dan terus masuk ke dalam sebuah jurang yang curam!

Cin Hai menjerit ngeri melihat betapa tubuh kekasihnya terlempar ke dalam jurang dan saat itu dipergunakan oleh Song Kun yang telah menjadi marah sekali itu untuk mengirim tusukan ke arah dadanya, dibarengi dengan pukulan tangan yang dimiringkan ke arah lambung Cin Hai. Cin Hai merasa terkejut sekali, ia lalu mempergunakan gerakan Awan Putih Mengusir Mendung dengan tangan kirinya, sedangkan pedangnya diangkat untuk menangkis.

Dua batang pedang beradu keras dan terpentallah pedang Liong-coan-kiam dari tangan Cin Hai dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan tubuh Cin Hai terhuyung-huyung ke belakang! Ketika ia diserang tadi, semangatnya sedang melayang mengikuti tubuh Lin Lin dan hatinya berdebar kuatir, maka ia menjadi korban serangan berbahaya dari Song Kun Yang lihai itu.

Song Kun tertawa girang dan penuh ejekan, kemudian ia terus menyerang dengan hebat hingga Cin Hai terpaksa menggunakan ginkang-nya untuk mengelak dan mengeluarkan Ilmu Pukulan Kong-ciak Sinna untuk menghadapi lawannya yang lihai bersilat dengan tangan kosong.

Pada saat itu pula, dari jurang di mana tadi Lin Lin jatuh, melayang keluar seorang kakek sambil menggendong tubuh Lin Lin dan ternyata bahwa kakek ini bukan lain ialah Bu Pun Su! Kakek ini langsung melompat ke tempat pertempuran dan sekali dia mengebutkan lengan bajunya yang panjang, pedang di tangan Song Kun kena tertangkis hingga tangan Song Kun menjadi tergetar dan dia melompat ke belakang dengan kaget sekali.

“Suhu...!” kata Cin Hai dengan girang sekali sebab melihat betapa suhu-nya telah berhasil menolong Lin Lin. Saking girangnya, pemuda ini sampai menitikkan dua butir air mata.

“Ahh, kiranya Supek yang datang!” kata Song Kun dengan pedang dilintangkan di dada dan dia tidak mau memberi hormat sama sekali terhadap supek-nya itu.

“Song Kun kau terjerumus ke dalam lembah kesesatan, tidak insyafkah kau?” berkata Bu Pun Su dengan suara kereng.

Song Kun tersenyum dengan penuh ejekan dan kesombongan.

“Teecu tidak tahu akan maksud ucapan Supek ini,” jawabnya.

“Orang tersesat! Baiknya Suhu-mu telah meninggal, kalau tidak, dia tentu akan berduka sekali melihat betapa muridnya yang terkasih menjadi seorang yang berbudi rendah! Song Kun, perbuatanmu yang rendah masih nampak di depan mata, apakah kau masih saja belum mau mengakuinya? Kau menculik seorang gadis dan walau pun kau sudah mengetahui bahwa dia ini adalah seorang Sumoi-mu sendiri tetapi kau masih tetap akan melanjutkan kesesatanmu.”

“Teecu mencinta dia, apakah salahnya itu? Apakah Supek akan merintangi orang muda yang mencinta seorang wanita dan hendak mengambilnya menjadi isteri? Supek, hal ini adalah urusan orang-orang muda dan orang tua tidak berhak mencampurinya!”

Ucapan ini benar-benar kurang ajar sekali hingga Cin Hai merasa betapa dua tangannya gatal-gatal hendak turun tangan menyerang suheng yang jahat itu.

“Sesudah Suhu meninggal, yang berhak mengajar teecu hanyalah seheng-ku, Lie Kong Sian seorang! Akan tetapi, kalau Supek hendak merendahkan dan menurunkan tangan kejam kepada teecu, silakan, teecu sedikit pun tidak merasa takut!”

Kalau kiranya bukan Bu Pun Su yang menerima tantangan ini, tentu dia akan menjadi marah dan tak bersabar lagi. Akan tetapi kakek jembel ini memiliki kesabaran yang luar biasa dan lagi ia merasa tidak tega untuk menurunkan tangan besi kepada seorang murid sute-nya.

“Song Kun, Suhu-mu dahulu sudah keliru memilih murid. Aku tidak sudi untuk mengotori tanganku pada tubuhmu. Akan tetapi, jika kau hendak memaksa dan melanjutkan niatmu ingin menculik muridku perempuan ini, kau majulah dan boleh kau coba-coba kepandaian Supek-mu!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su melangkah maju dan menghadapi Song Kun dengan dada terangkat.

Kalau saja Song Kun mengangkat tangan dan menusuk dengan pedangnya, maka dada kakek itu akan tercapai oleh ujung pedang. Akan tetapi Song Kun tidaklah sedemikian bodoh untuk melakukan hal ini.

Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Bu Pun Su amat tinggi dan bahwa saat itu Bu Pun Su sedang memancing-mancing agar ia turun tangan lebih dulu hingga kakek ini mempunyai alasan untuk menghajarnya! Kalau tadi dia mengeluarkan ucapan menantang, itu hanya karena ia merasa yakin bahwa Bu Pun Su takkan mau turun tangan terhadapnya. Maka, sambil tertawa mengejek ia berkata dan memasukkan pedangnya kembali.

“Supek, dunia bukanlah sebesar telapak tangan. Di mana-mana banyak terdapat wanita cantik, maka untuk apakah teecu harus berebut seorang gadis dengan Supek-ku sendiri? Ha-ha-ha, ini amat menggelikan dan akan menjadi buah tutur orang-orang saja! Supek, teecu tidak mau nekat merebut perempuan ini, biarlah kalau Supek menghendakinya, dia boleh diambil! Akan tetapi,” katanya sambil menuding kepada Cin Hai dengan pandangan mata mengancam, “kau telah berani turun tangan kepada aku yang menjadi Seheng-mu, maka awaslah kau! Lain kali bila kita bertemu, jangan harap aku akan dapat mengampuni jiwamu lagi!” Setelah berkata demikian, Song Kun menjura di depan Bu Pun Su sambil tersenyum menyindir, kemudian tubuhnya berkelebat dan lari turun dari bukit itu!

Bu Pun Su menghela napas. “Kasihan sekali bahwa Han Le harus pula menerima nama busuk sesudah mati oleh karena perbuatan muridnya itu! Ahh, begitulah kalau guru salah menerima murid. Tidak heran bahwa jarang ada orang-orang cerdik pandai yang mau mengambil murid. Cin Hai, kau sudah menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu silat Song Kun dan betapa hebat pedang Ang-ho Sian-kiam itu sehingga Liong-coan-kiam sendiri sampai terputus olehnya! Melihat mukanya, orang seperti dia itu tentu akan membuktikan ancamannya, maka mulai sekarang kau harus berlaku hati-hati sekali. Juga Lin Lin berada dalam bahaya, maka baiknya biarlah dia ikut padaku untuk memperdalam ilmu silatnya sehingga cukup kuat apa bila kelak bertemu dengan Song Kun.”

Kakek itu lalu membebaskan totokan yang mempengaruhi tubuh Lin Lin hingga gadis itu dapat bergerak kembali dan berlutut di depannya.

“Lin Lin, kalian sudah menanam bibit permusuhan dengan Song Kun yang merupakan lawan tangguh sekali. Jangankan kau, bahkan Cin Hai sendiri apa bila tidak mempunyai pedang yang mampu melawan Ang-ho Sian-kiam, agaknya akan sukar sekali untuk dapat merobohkan dia. Maka, sekarang kau ikutlah aku untuk memperdalam ilmu pedangmu yang masih mentah. Dan kau, Cin Hai, kau pergilah ke Kansu. Di antara ratusan buah goa yang terdapat di Kansu, yaitu goa-goa Tun-huang, di situ terdapat sebuah goa yang menyimpan sepasang pedang mustika yaitu Liong-cu Siang-kiam atau Sepasang Pedang Mustika Naga. Hanya pedang itulah agaknya yang sanggup dihadapkan dengan Ang-ho Sian-kiam (Pedang Dewa Api Merah) dari Song Kun tadi! Kelak, kau boleh menyusul Lin Lin ke Goa Tengkorak.”

Cin Hai lalu berlutut dan menyatakan bahwa dia hendak mentaati perintah suhu-nya itu. Kemudian Bu Pun Su meninggalkan tempat itu bersama Lin Lin sesudah kedua orang muda itu saling lirik dengan pandangan mata yang mesra.

Cin Hai lalu bangun dan berdiri memandang sampai bayangan dua orang itu terlenyap di sebuah tikungan. Hatinya merasa lega dan gembira, Lin Lin telah tertolong dan selamat dan kini ia tidak perlu merasa kuatir lagi oleh karena di dalam tangan Bu Pun Su, gadis itu akan aman sentosa melebihi dari pada dalam pelukan ibu sendiri!

Ia lalu memikirkan keadaan Yousuf yang lenyap dan menguatirkan keadaan orang Turki yang budiman itu. Akan tetapi, kebetulan sekali dia mendapat tugas mencari pedang di Propinsi Kansu dan dia mengambil keputusan untuk sekalian mencari jejak Yousuf dan apa bila perlu menolong orang Turki itu. Dia hanya menyayangkan bahwa dalam berlari mengejar Song Kun, dia telah meninggalkan hutan di mana Yousuf tinggal itu jauh sekali hingga dia pun tidak tahu di mana adanya burung bangau yang ditinggalkannya di dalam hutan.

Cin Hai tidak tahu bahwa Lin Lin yang menceritakan pengalamannya kepada Bu Pun Su di tengah jalan, lalu minta kepada kakek itu untuk mampir di hutan itu. Mereka mencari jejak Yousuf, kemudian mendengar dari seorang Turki bahwa Yousuf telah dilarikan oleh keponakannya sendiri dan kini entah berada di mana.

Dan di dalam hutan itu juga, Lin Lin mendapatkan kembali meraknya, bahkan di samping Sin-kong-ciak, di situ terdapat pula Ang-siang-kiam si Burung Bangau Besar itu sehingga kedua burung sakti itu lalu dibawa oleh Bu Pun Su ke Goa Tengkorak.....

********************

Cin Hai melanjutkan perjalanannya hingga masuk Propinsi Kansu. Propinsi ini merupakan daerah pegunungan yang tinggi dan terjal letaknya di sebelah utara Propinsi Se-cuan. Di sebelah baratnya adalah Propinsi Cing-hai, dan pada sebelah utaranya terletak Propinsi Ning-sia dan kemudian perbatasan Mongolia.

Tembok besar yang terkenal di Tiongkok itu juga dimulai dari Propinsi Kansu ini dan terus memanjang menuju ke timur. Bahkan Sungai Kuning (Huang-ho) juga melalui propinsi ini dan di sepanjang Sungai Kuning terdapat tanah pertanian yang subur. Iklim di daerah ini istimewa keringnya, hingga dengan adanya sungai Kuning yang lewat di daerah itu maka hal ini merupakan berkah yang besar bagi rakyat yang tinggal di Kansu.

Propinsi Kansu memiliki banyak kekayaan alam dan pemandangan yang cukup indah. Di ibu kota ada Bukit Pagoda Putih dan Pegunungan Cilian yang penuh dengan hutan-hutan yang kaya akan berbagai binatang. Selain pertanian yang hidup subur pada sepanjang lembah Sungai Kuning, juga usaha peternakan amat besar dikerjakan orang di tempat ini. Bulu onta dan daging lembu keluaran daerah ini terkenal sekali karena tinggi mutunya.

Di selatan terdapat padang-padang pengembalaan alam yang luas dan baik, rumputnya subur dan airnya jernih. Goa-goa Tun-huang yang beratus-ratus, bahkan mungkin seribu lebih banyaknya itu, merupakan pemandangan indah peninggalan budaya kuno. Goa-goa ini penuh dengan patung-patung dan lukisan-lukisan dinding Agama Buddha yang dibuat kira-kira pada abad ke empat.

Tidak heran apa bila daerah ini menarik perhatian orang-orang dari luar negeri. Dan yang terbanyak adalah orang-orang Turki yang datang mengembara dan mencari penghasilan di daerah yang kaya ini. Juga di sini terdapat banyak sekali suku-suku bangsa dari barat dan utara.

Pada suatu hari Cin Hai tiba di kota Ling-sia. Kota ini berada di sebelah utara tepi Sungai Huangho. Dengan hati gembira Cin Hai memasuki kota itu, berjalan pelan di sepanjang jalan raya yang penuh dengan bangunan-bangunan besar di kanan kiri.

Tiba-tiba dia mendengar suara suling berbunyi aneh, maka dia segera menghampiri arah datangnya suara itu. Ternyata bahwa yang menyuling itu adalah orang Turki yang sedang bermain sulap di sebuah lapangan terbuka. Banyak orang menonton dan mengelilinginya.

Orang Turki itu sudah tua dan dia duduk bersila di depan sebuah keranjang bambu yang besar sambil meniup sulingnya. Suling yang ditiupnya berbentuk ular dan saat dia meniup sulingnya semakin keras, tiba-tiba tutup keranjang itu terbuka perlahan-lahan dari dalam dan tersembullah kepala seekor ular yang sangat besar! Ular itu mendengar suara suling lalu merayap keluar, melingkar di atas tanah dan lehernya terangkat ke atas.

Ternyata ular itu besar sekali dan di bawah kepalanya melar berupa sendok yang besar. Itulah semacam ular kobra atau ular sendok yang berbahaya, akan tetapi terhadap suara suling itu ia terpengaruh hebat sekali hingga ia mulai menari-nari menggeleng-gelengkan kepalanya dan lehernya pun bergerak-gerak menari mengikuti irama suara suling!

Orang-orang yang menonton menjadi gembira dan mendengar suara kagum di sana-sini, ada juga suara orang yang menyatakan ngeri dan takut! Hati Cin Hai tidak tertarik melihat ular itu, akan tetapi amat tertarik mendengar suara suling dan diam-diam dia mengingat lagu suling ini di dalam hatinya.

Pada saat dia meninggalkan tempat itu tiba-tiba di lain bagian lapangan itu ia mendengar suara gembreng dan tambur, dibarengi suara orang berkata-kata dan gelak suara para penonton. Dan kiranya pada bagian itu, juga terdapat orang yang sedang memperlihatkan kepandaiannya dan ketika ia mendekati, alangkah herannya melihat bahwa yang menjual kepandaian di situ adalah seorang hwesio dan seorang tosu.

Mudah saja baginya mengenal wajah hwesio yang selalu tertawa dengan muka dan perut yang gemuk itu, dan mengenal wajah tosu yang selalu mewek mau menangis! Hwesio itu sedang membadut, perutnya yang gendut dan tidak tertutup dengan pakaian itu sebentar mengempis dan sebentar pula mengembang sampai besar dan gendut!

Pemandangan ini bagi orang-orang biasa merupakan hal yang lucu sekali, akan tetapi bagi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian, menimbulkan kekaguman. Oleh karena perbuatan Si Gendut itu menunjukkan bahwa ia memiliki khikang yang tinggi hingga perut yang demikian besarnya dapat ditarik ke dalam hingga kempis sama sekali!

“Cuwi sekalian,” kata Si Gendut sambil tidak pernah mengubah tarikan muka yang selalu tersenyum bagaikan sebuah arca Jai-lai-hud yang peramah. “Kepandaian mengempiskan perutku hingga kecil ini banyak sekali gunanya. Di Tiongkok banyak terdapat daerah yang kekurangan makan, sedangkan pinceng adalah seorang perantau. Pada waktu pinceng berada di daerah kering, kalau tidak ada makanan yang boleh dimasukkan perut, pinceng lalu menarik perut ke dalam hingga menjadi kempis dan kecil, sehingga diberi minum air semangka pun sudah kenyang! Sebaiknya, kalau pinceng berada di tempat yang subur seperti Kansu ini pinceng bisa melembungkan perut sebesar-besarnya agar supaya dapat menikmati segala macam makanan. Bahkan daging unta pun dapat masuk ke dalam perutku!”

Sambil berkata demikian, ia mengembang-kempiskan perutnya dan menggeleng-geleng kepalanya yang bulat seperti bal. Kembali orang-orang tertawa geli dan Cin Hai juga ikut tertawa. Meski pun dahulu kedua orang ini pernah membawa lari perahunya, akan tetapi terhadap Si Gendut ini yang selalu tertawa, tak mungkin orang dapat marah kepadanya!

“Akan tetapi,” kata pula hwesio itu, “Saudaraku yang kurus seperti cecak mati ini memiliki kepandaian yang lebih hebat lagi.”

Sambil berkata demikian dia menuding ke arah Ceng To Tosu yang duduk berjongkok dengan muka bagaikan mau menangis. Tidak perlu disertai kata-kata lucu, baru melihat mukanya saja sudah menimbulkan rasa geli di dalam hati sehingga kembali orang-orang tertawa bergelak.

“Jangan Cuwi mentertawakan Suheng-ku ini,” berkata pula hwesio gendut tadi, “banyak orang lihai dan berkepandaian di dunia ini, bahkan banyak pula orang yang mempunyai kekebalan hingga segala macam senjata tajam tidak dapat melukai kulitnya! Akan tetapi, saudaraku ini lebih hebat lagi. Dia tidak bisa mati oleh karena dia ini tidak mempunyai darah!”

Terdengar seruan-seruan tidak percaya. “Kalau orang tidak mempunyai darah, ia akan mati,” terdengar suara seorang penonton mencela.

“Memang kata-kata itu benar,” kata Ceng Tek Hosiang, “akan tetapi saudaraku itu adalah seorang sakti. Kalau Cuwi tidak percaya sekarang hendak kubuktikan!” Sambil berkata demikian, Si Gendut mengeluarkan sebuah pisau belati yang bergagang panjang. Pisau itu putih mengkilap, nampaknya tajam dan baru.

“Nah, lihatlah baik-baik. Pisau ini akan kutusukkan padanya dan akan kutusuk tubuhnya sampai seluruh mata pisau ini terbenam ke dalam dagingnya!” Setelah berkata demikian, ia menghampiri Ceng To Tosu yang masih saja duduk dengan mewek.

Benar saja, hwesio itu menusuk leher tosu itu hingga banyak orang memekik karena cemas. Bahkan Cin Hai merasa terkejut sekali melihat betapa pisau belati itu menancap di leher Ceng To Tosu sampai ke gagangnya! Pada saat Ceng Tek Hosiang mencabut pisaunya, benar saja tidak nampak darah sedikit pun pada leher itu, bahkan luka sedikit pun tidak!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak, bahkan Cin Hai sendiri hampir tidak percaya pada kedua matanya sendiri. Bagaimana tosu ini dapat memiliki ilmu kepandaian yang demikian anehnya? Ilmu kekebalan untuk menolak ujung senjata yang menusuk kulit, bukanlah hal yang aneh baginya, akan tetapi kulit dan daging yang sudah tertusuk pisau sekian dalamnya akan tetapi tidak terluka dan tidak mengeluarkan darah sama sekali, adalah hal yang tak mungkin terjadi. Ilmu sihirkah yang dipergunakan oleh kedua orang ini?

Ceng To Tosu lalu membuka bajunya dan tiga kali ia ditusuk dadanya yang kurus seperti kerangka hidup itu, lalu lambungnya, dan bahkan pipinya mendapat tusukan pula. Dan semua tusukan itu biar pun dilakukan dengan kuat hingga pisau sampai menancap habis, namun setelah dicabut kembali, tosu itu sama sekali tidak terluka sedikit pun. Kemudian hwesio gendut itu melempar pisau itu ke arah sebatang pohon dan pisau itu menancap dengan keras sampai ke gagangnya.

“Nah, Cuwi lihat, bahkan batang pohon itu pun tertancap dengan mudah, menunjukkan bahwa pisau pinceng ini benar-benar tajam dan tidak palsu, namun menghadapi ilmu kepandaian Seheng-ku ini, pinceng tidak berdaya.”

“Lihai sekali...,” semua orang berseru.

Hwesio gendut itu lalu menjura sambil berkata, “Pertunjukan kami selesai sampai di sini saja, kalau ada jodoh kita saling bertemu lagi!” Maka semua penonton lalu bubaran dan tiada hentinya mereka membicarakan kelihaian tosu yang kurus kering itu.

Cin Hai yang menyaksikan itu semua, dari rasa heran menjadi rasa penasaran hebat. Ia pernah menyaksikan kepandaian dua pertapa ini dan ternyata bahwa kepandaian mereka biar pun lihai, namun tidak melebihi kepandaiannya sendiri. Akan tetapi ilmu kepandaian yang baru diperlihatkan oleh Ceng To Tosu itu, benar-benar membuat dia kagum dan tak mengerti.

Maka setelah semua orang bubaran, ia lalu bertindak menghampiri dan menjura.

“Jiwi-suhu apakah baik-baik saja?”

Ketika hwesio dan tosu itu melihat Cin Hai, keduanya merasa terkejut, akan tetapi Ceng Tek Hosiang tetap tertawa dan Ceng To Tosu tetap mewek.

“Ahh, ahh, kiranya Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh!” kata Ceng To Tosu. “Bagaimana bisa sampai di sini, Taihiap?”

Sementara itu sambil tertawa-tawa, Ceng Tek Hosiang mendahului Cin Hai. “Dulu ketika kau bersama Ang I Niocu melompat ke atas kapal, kami berdua menjadi ketakutan dan terpaksa pergi lebih dulu.”

Cin Hai terseyum. “Tidak apa, hal yang sudah lalu tak perlu digali lagi. Akan tetapi, dulu aku menemukan perahu kalian terbalik di atas laut, bagaimana kalian bisa selamat dan sampai di sini?”

“Thian melindungi orang-orang baik,” hwesio gendut itu berkata, “maka kami terdampar oleh ombak besar dan dilempar ke tepi laut dengan selamat.”

“Dan sekarang jiwi-suhu berada di darat ini sedang apakah?”

“Taihiap sudah menyaksikan sendiri bahwa kami menjual kepandaian sambil merantau,” jawab Ceng To Tosu.

Cin Hai mengangguk-angguk dan keterangan ini memang masuk di akal. “Kepandaianmu tadi benar-benar lihai sekali, Ceng To Totiang,” katanya memuji.

Akan tetapi dengan tertawa ha-ha hi-hi Ceng Tek Hosiang lalu mengeluarkan pisau belati itu dan berkata, “Dengan pisau yang sengaja kami buat secara khusus untuk keperluan ini, apakah yang lihai?”

Cin Hai memegang pisau belati itu dan berkata, “Pisau ini pisau biasa dan tadi pun dapat menancap di pohon, apanya yang aneh? Mungkin kalian telah menggunakan ilmu sihir!”

Tiba-tiba Ceng Tek Hosiang tertawa bergelak sedangkan Ceng To Tosu yang sebetulnya hendak tertawa, akan tetapi mulutnya bahkan makin mewek dan makin menyedihkan!

“Ah, ahh, kami benar-benar merasa puas, puas, dan bangga! Pujian semua orang-orang itu bagi kami tiada artinya, akan tetapi keheranan pada muka Taihiap sungguh-sungguh membikin kami merasa puas dan bangga!”

Ceng To Tosu juga berkata, “Sie-taihiap, pisau kami itu ada rahasianya! Kau lihat besi kecil hitam pada gagangnya itu? Kalau besi kecil itu tidak ditekan, maka pisau ini adalah pisau biasa yang akan melukai orang. Akan tetapi coba kau tekan besi kecil itu, dan kau akan melihat keanehannya!”

Cin Hai melihat besi hitam yang kecil pada ujung gagangnya dan pada saat dia menekan, ternyata pisau itu apa bila ditekan pada sesuatu lalu masuk ke dalam gagangnya yang panjang hingga tidak kelihatan lagi ujungnya! Sungguh sakti.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner