SI KUMBANG MERAH : JILID-53


Karena itu, ketika ada orang yang mendorong makanan dan minuman melalui lubang di bagian bawah pintu, dua orang gadis itu pun makan minum dengan cukup untuk membuat tubuh mereka tetap kuat. Kui Hong yang mengenal kelicikan lawan tadinya merasa ragu untuk makan dan minum. Dia tidak takut menghadapi racun karena dia dapat mengetahui kalau makanan atau minuman itu dicampur racun, tetapi yang dikhawatirkan adalah kalau ada kekuatan sihir terkandung dalam makanan dan minuman itu yang akan menundukkan mereka. Ketika dia menyatakan hal ini, Mayang pun tersenyum.

"Kalau terhadap serangan sihir, jangan takut, Enci. Secara khusus aku sudah melatih diri untuk menolak segala kekuatan sihir."

"Ehh! Engkau pandai sihir seperti Hay Hay dan Han Siong?" Kui Hong memandang gadis Tibet itu.

Mayang tersenyum. Bukan main manisnya gadis Tibet itu bila mana tersenyum. Mulutnya yang kecil itu mekar bagaikan setangkai bunga yang merah merekah. Dia tidak menutupi keindahan itu dengan tangannya seperti biasanya gadis Han yang sopan-sopan.

Kui Hong memandang kagum. Memang ada persamaan antara Mayang dengan Hay Hay. Mungkin dalam bentuk mulut dan hidungnya itulah, juga kecerahan wajah itu bila sedang tersenyum.

"Tidak, Enci. Akan tetapi biar Hay-ko sendiri pun tak akan mampu menguasai aku dengan kekuatan sihirnya! Subo telah mengajarkan aku latihan untuk memperoleh kekuatan batin yang bisa menolak segala macam kekuatan sihir yang bagaimana kuat pun. Oleh karena itu jangan khawatir, aku mampu menolaknya."

Kui Hong memandang kagum. Mereka lalu makan minum dengan gembira sehingga Kui Hong pun lupa bahwa dia sedang berada dalam tahanan musuh, bukan di dalam kamar hotel mewah sedang bersenang-senang dengan seorang sahabat yang menyenangkan sekali. Setelah makan dan beristirahat sejenak, Kui Hong lalu bangkit.

"Adik Mayang, kini bersiaplah. Kita akan mengadu kepandaian silat. Kamar ini cukup lebar sehingga leluasa bagi kita untuk bertanding silat di sini."

"Ehhh?!" Mayang memandang wajah Kui Hong dengan kaget, akan tetapi melihat wajah yang cantik itu tetap cerah dan mulutnya tersenyum, Mayang pun segera mengerti.

"Maksudmu, kita berlatih silat, enci Hong?'

Kui Hong mengangguk. "Kita harus selalu siap, oleh sebab itu kita perlu berlatih, terutama untuk mengenal kepandaian masing-masing sehingga mudah bagi kita untuk menentukan langkah selanjutnya. Jangan sungkan dan jangan main-main, adikku. Seranglah aku dan keluarkan semua kepandaianmu agar aku dapat menilai sampai di mana tingkatmu."

"Baik, enci Hong, akan tetapi jangan mentertawakan aku!"

"Aihh, engkau terlalu merendahkan dirimu, Mayang. Aku pernah mendengar nama besar subo-mu, maka aku tahu bahwa engkau pasti mempunyai ilmu silat yang hebat. Nah, mari kita main-main sebentar!"

"Baik, enci Hong. Kau jaga baik-baik seranganku!"

Setelah melihat bahwa Kui Hong sudah memasang kuda-kuda, Mayang kemudian mulai menyerang. Karena dia pun sudah dapat menduga akan kelihaian Kui Hong, maka begitu menyerang dia segera memainkan ilmu silat Kim-lian-kun (Ilmu Silat Teratai Emas) yang sangat ampuh, yaitu ilmu silat andalan dari Kim-mo Sian-kouw. Gerakannya sangat cepat dan mengandung tenaga yang dahsyat sehingga dari tangannya keluar angin berdesir.

"Bagus!" Kui Hong berseru sambil mengelak dan membalas serangan Mayang.

Dia pun tidak main-main karena dari gerakan pertama itu saja tahulah dia bahwa Mayang sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Kui Hong sudah mempelajari banyak macam ilmu silat, tapi belum pernah dia melihat ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Mayang, maka dia pun bersikap hati-hati sekali.

Serang menyerang terjadi di dalam kamar yang luas itu hingga terdengar angin berkesiur setiap kali mereka menggerakkan tangan. Dan bila sesekali terjadi adu lengan, keduanya tergetar dan mundur dua langkah, saling pandang dengan kagum. Makin lama serangan Mayang semakin hebat dan Kui Hong kagum bukan main.

Ilmu silat gadis Tibet itu memang tangguh sekali, maka terpaksa dia harus mengerahkan ilmu ginkang (meringankan tubuh) Bu-eng Hui-teng (Lari Terbang Tanpa Bayangan) yang dipelajarinya dari Ceng Sui Cin, ibunya. Dengan ilmu ini tubuhnya menjadi ringan laksana kapas sehingga Mayang terkejut dan kagum bukan main. Lawannya itu seolah-olah dapat terbang dan tak pernah dapat disentuh oleh tangannya yang menyerang.

Kui Hong lalu menilai ilmu yang dimiliki Mayang, juga kekuatan kedua tangannya. Harus diakuinya bahwa tingkat kepandaian Mayang sudah cukup tinggi, tak kalah dibandingkan para pendekar wanita lainnya. Apa bila tidak memperoleh gemblengan dari kakeknya dan neneknya di Pulau Teratai Merah, dia sendiri tentu akan mengalami kesulitan untuk dapat mengalahkan Mayang!

Sampai lima puluh jurus lebih mereka berlatih dan kalau Kui Hong menghendaki, biar pun tidak terlalu mudah tapi dia akan mampu mengalahkan Mayang. Bagaimana pun lihainya gadis Tibet itu, Kui Hong masih menang tingkat, menang cepat dan tenaganya lebih kuat. Akan tetapi Kui Hong tidak mau mengecilkan hati Mayang. Dia sudah merasa cukup puas melihat kenyataan bahwa Mayang memang lihai sehingga bisa diandalkan untuk menjadi kawan dalam menghadapi Ang-hong-cu beserta anak-anak buahnya.

"Cukup, Mayang!" katanya sambil melompat ke belakang. "Engkau lihai sekali!"

"Ihhh, enci Kui Hong, jangan memuji! Kalau engkau mau, tentu sudah sejak tadi engkau dapat merobohkan aku. Ilmu aneh apakah itu yang tadi membuat tubuhmu begitu ringan seperti kapas terbang saja? Semua seranganku tidak ada gunanya!"

"Itu adalah Bu-eng Hui-teng yang kupelajari dari ibuku, Mayang. Sudahlah, sekarang kita beristirahat. Engkau cukup tangguh dan kurasa kita berdua akan mampu menjaga diri bila mereka muncul," kata Kui Hong sambil mengusap peluh dari lehernya, seperti yang juga dilakukan oleh Mayang. "Sekarang mari menghimpun tenaga dan memulihkan kelenturan otot-otot, mengatur pernapasan," kata Kui Hong yang ingin agar keduanya berada dalam keadaan yang siap benar untuk memberontak kalau sewaktu-waktu pintu besi itu dibuka. Mayang mengangguk dan keduanya lantas duduk bersila di atas pembaringan, mengatur pernapasan…..

********************

Sebagai seorang pelarian, tentu saja Tang Gun tidak berani begitu saja memasuki kota raja. Kalau ada orang yang mengenalnya, tentu akan terjadi geger. Pasukan pemerintah pasti akan mengejar dan menangkapnya.

Meski pun di sampingnya ada sumoi-nya, Siangkoan Bi Lian yang lihai sekali, namun jika pasukan pemerintah mengepungnya, tentu mereka berdua tidak akan mampu melawan, bahkan sulit untuk dapat meloloskan diri dari kota raja. Oleh karena itu, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, Tang Gun menyamar sebagai seorang lelaki setengah tua yang rambutnya sudah penuh uban, dengan kumis dan jenggot palsu. Siangkoan Bi Lian yang berjalan di sampingnya mengaku sebagai puterinya. Penyamaran itu cukup baik sehingga tak seorang pun mengenalnya.

Mereka masuk ke kota raja sesudah hari menjelang senja. Cuaca sudah mulai redup dan remang-remang. Tang Gun langsung mengajak sumoi-nya mencari seorang bekas anak buahnya yang dipercaya benar, karena mereka harus lebih dahulu menyelidiki di mana adanya Tang Bun An yang mereka cari-cari itu.

Bekas anak buahnya itu bernama Gu Kiat, dan sebagai seorang prajurit pengawal istana tentu dia tahu akan segalanya mengenai Tang Bun An yang kabarnya menjadi perwira itu. Dahulu Tang Gun pernah menyelamatkan Gu Kiat, maka dia merasa yakin bahwa Gu Kiat yang hidup sebatang kara tanpa keluarga itu pasti akan suka membantunya.

Gu Kiat kebetulan sedang duduk di ruangan depan rumahnya ketika Tang Gun atau yang kini dikenal sebagai Tan Hok Seng tiba. Dia cepat-cepat keluar dari pintu rumahnya dan memandang heran pada pria dan wanita yang tidak dikenalnya itu. Apa lagi ketika melihat betapa wanita muda itu amat cantik, maka keheranannya bertambah.

"Paman hendak mencari siapakah?" tanya Gu Kiat sambil melirik ke arah wajah Bi Lian yang nampak cantik sekali tertimpa sinar lampu gantung di depan rumah itu.

Hok Seng membalas penghormatan tuan rumah dan berkata, "Saya mempunyai urusan penting sekali untuk disampaikan kepada saudara Gu Kiat."

"Saya sendiri yang bernama Gu Kiat."

Hok Seng berkata kepada Bi Lian, "Anakku, engkau tunggu sebentar di sini, aku hendak bicara empat mata dengan saudara ini." Bi Lian mengangguk dan Hok Seng lalu berkata kepada Gu Kiat yang masih memandang keheranan itu. "Saudara Gu Kiat, dapatkah kita bicara empat mata di dalam? Apa yang akan saya bicarakan ini sangat penting dan tidak boleh diketahui orang lain."

"Tapi... tapi..., siapakah Paman?" Gu Kiat bertanya ragu.

Hok Seng berbisik, "Aku Tan Hok Seng dan aku ingin bicara mengenai guci emas istana. Mari kita bicara empat mata di dalam."

Gu Kiat nampak kaget bukan kepalang, matanya terbelalak dan mukanya berubah pucat ketika dia memandang kepada Hok Seng. Bi Lian tidak mengerti, hanya mengira bahwa kini orang itu sudah mengenal Hok Seng yang menyamar. Padahal Gu Kiat terkejut sekali karena mendengar bisikan tentang guci emas istana tadi.

Dulu, sebagai prajurit pengawal dia pernah mencuri guci emas istana dan perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lain. Kalau tidak ada Tang Gun yang menyelamatkannya, dia tentu sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman berat. Tidak mengherankan kini dia terkejut setengah mati mendengar laki-laki setengah tua yang tidak dikenalnya itu berbisik tentang guci emas istana! Karena itu, mendengar permintaan orang itu untuk bicara empat mata di dalam, dia pun mengangguk lantas memberi isyarat kepada orang itu untuk memasuki rumahnya.

Bi Lian tidak turut masuk, melainkan duduk menunggu di atas bangku di ruangan depan itu. Biarlah suheng-nya yang melakukan penyelidikan di mana adanya Tang Bun An yang telah melempar fitnah kepada suheng-nya itu. Nanti bila telah berhadapan dengan musuh itu, barulah dia yang akan menandinginya.

Setelah berada di dalam ruangan sebelah dalam, hanya berdua saja dengan Gu Kiat, Hok Seng kemudian berkata lirih, "Gu Kiat, pandanglah baik-baik. Aku adalah Tang Gun yang sedang menyamar!"

Gu Kiat memandang tajam dan dia segera mengenal bekas atasannya itu, mengenal dari suara dan pandang matanya. "Tang-ciangkun....!" katanya terkejut dan heran. Selama ini dia menyangka bahwa bekas komandannya ini telah tewas.

"Ahhh, jangan menyebut aku ciangkun lagi, aku sudah bukan seorang perwira."

"Tapi... tapi... apakah kehendak Tang-kongcu, (tuan muda Tang) mendatangi saya?" jelas bahwa Gu Kiat ketakutan karena tentu saja dia akan celaka kalau sampai diketahui orang bahwa dia kedatangan tamu bekas perwira yang menjadi orang hukuman dan pelarian ini.

"Dengarkan baik-baik, Gu Kiat. Aku pernah menolongmu, dan sekarang saatnya engkau membalas budi itu dan balik menolongku. Pertama, lupakan bahwa namaku adalah Tang Gun. Kini namaku adalah Tan Hok Seng, maka engkau harus menyebutku Tan-kongcu. Mengerti?"

Diingatkan akan ‘budi’ itu, Gu Kiat mengangguk patuh. "Saya mengerti," katanya lirih.

"Dan ke dua, aku ingin mendengar tentang diri Tang Bun An. Nah, ceritakan tentang dia!"

Di dalam hatinya Gu Kiat tersenyum. Akan tetapi wajahnya tidak membayangkan apa pun ketika dia menjawab. "Ahh, dia? Setelah engkau pergi, dia lalu diangkat menjadi seorang perwira tinggi pasukan pengawal di istana."

"Hemm, sudah kuduga. Di mana sekarang dia tinggal?"

Gu Kiat menggeleng kepalanya. "Bagaimana saya bisa tahu? Sekarang dia telah berhenti menjadi perwira."

"Berhenti?"

"Dia mengundurkan diri dan sejak itu, saya tidak tahu lagi di mana dia berada."

Tentu saja Hok Seng kecewa bukan main mendengar berita ini. Musuh besarnya itu telah lolos, dan tidak lagi berada di kota raja!

"Akan tetapi saya dapat membantumu, Kongcu. Di antara kawan-kawan yang dulu pernah menjadi anak buahnya, tentu ada yang tahu di mana adanya bekas perwira itu."

Wajah yang tadinya dibayangi kekecewaan itu menjadi cerah kembali. "Ahh, bagus sekali! Terima kasih dan ternyata engkau seorang yang mengenal budi, Gu Kiat. Kapan engkau akan melakukan penyelidikan itu? Lebih cepat lebih baik!"

"Memang sebaiknya begitu, Kongcu. Malam ini juga saya akan pergi menyelidiki di antara kawan-kawan. Dan sebaiknya kalau Kongcu dan ehh… siapakah nona yang menunggu di depan itu?"

"Dia sumoi-ku."

"Sebaiknya Kongcu dan nona bersembunyi saja di rumah saya ini. Amat berbahaya kalau bermalam di luaran. Kongcu berdua mengaso dan bermalam di sini saja, sedangkan saya akan pergi melakukan penyelidikan. Mudah-mudahahan saja malam ini juga saya sudah bisa mendapatkan keterangan."

Hok Seng menjadi girang bukan kepalang. Dia memesan kepada bekas anak buahnya itu agar tidak keliru menyebut namanya karena semenjak menjadi pelarian dia telah berganti nama, bahkan sumoi-nya sendiri pun mengenalnya sebagai Tan Hok Seng. Sesudah itu barulah mereka keluar dan mempersilakan Siangkoan Bi Lian masuk ke dalam. Sesudah mereka berada di ruangan dalam, Hok Seng memperkenalkan sumoi-nya kepada Gu Kiat.

"Gu Kiat, ini sumoi-ku Siangkoan Bi Lian. Sumoi, saudara Gu Kiat ini dulu pernah menjadi anak buahku yang setia. Sekarang dia suka membantu kita dan malam ini juga dia akan melakukan penyelidikan tentang perwira itu. Malam ini kita tinggal di sini, lebih aman."

Bi Lian mengerutkan alisnya dan dia menatap tajam wajah tuan rumah.

"Kenapa harus menyelidiki lagi? Kita dapat menyelidiki sendiri asalkan diberi tahu di mana tinggalnya.”

"Aihhh, engkau belum tahu, Sumoi. Orang yang kita cari itu ternyata sudah tidak menjadi perwira lagi, dan Gu Kiat ini tidak tahu ke mana dia pergi. Oleh karena itu, malam ini juga dia hendak mencari keterangan dari kawan-kawannya yang dahulu pernah menjadi anak buah perwira tua itu."

"Hemm, begitukah?" Bi Lian merasa kecewa mendengar berita itu.

"Harap Tan-kongcu dan Siangkoan-siocia (nona Siangkoan) tenangkan hati. Jji-wi (kalian) malam ini tinggal di sini, agar lebih aman dari pada kalau tinggal di luar. Dan percayalah, malam ini tentu saya sudah mendapatkan berita tentang perwira itu. Pakailah dua kamar di depan kamar saya, itu memang kamar untuk tamu. Apa bila ji-wi membutuhkan makan minum, di dapur masih ada persediaan lengkap untuk masak dan membuat air teh. Juga masih ada arak di dalam almari. Silakan, harap ji-wi tidak sungkan."

Hok Seng merasa girang sekali. "Saudara Gu Kiat, terima kasih. Ternyata engkau adalah seorang sahabat yang baik sekali."

"Sekarang saya harus berangkat sebelum kawan-kawan tidur semua. Kalau penyelidikan saya telah berhasil, tentu malam ini juga saya pulang, atau paling lambat besok pagi-pagi. Harap ji-wi tinggal dengan tenang saja.”

Dua orang muda itu mengucapkan terima kasih dan Gu Kiat lantas meninggalkan mereka. Karena keduanya merasa lapar tetapi mereka tidak berani pergi ke rumah makan, mereka kemudian memeriksa dapur dan dengan girang mereka mendapatkan bahan-bahan untuk dimasak. Maka mereka segera sibuk membuat masakan untuk makan malam mereka dari bahan-bahan yang ada.

"Ah, di mana-mana orang baik pasti menemukan penolong," kata Hok Seng ketika mereka berdua menghadapi meja dengan makanan dan minuman sederhana. "Tak kukira bahwa Gu Kiat demikian mengenal budi, masih ingat tentang banyak pertolongan yang kuberikan kepadanya ketika aku masih menjadi komandannya."

Bi Lian hanya tersenyum, lantas berkata lembut, "Bagaimana pun juga kita harus berhati-hati, Suheng. Di dunia ini lebih banyak terdapat orang busuk dari pada yang baik. Jangan tergesa-gesa menilai orang apa bila belum terbukti,."

"Aku yakin bahwa dia orang baik, sumoi. Apa lagi karena dia berhutang budi kepaddku. Kalau tidak ada aku yang menolongnya, mungkin dahulu dia telah dihukum mati!"

"Ehh? Perbuatan apa yang telah dia lakukan, Suheng?"

"Ketika itu dia menjadi anak buah pasukanku, pasukan pegawal istana. Sering kali aku mengganti regu penjaga sebelah dalam istana secara bergiliran. Pada waktu dia bertugas di dalam, dia telah mencuri sebuah guci emas. Perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lainnya. Tentu saja pengawal yang lain itu hendak melaporkan perbuatannya itu dan kalau sampai dilaporkan lantas didengar oleh kaisar, tentu dia sudah dihukum mati. Dosa besar bila mencuri barang istana, apa lagi dia bertugas sebagai seorang prajurit pengawal. Aku kasihan kepadanya, lalu aku melarang pengawal yang lain itu melapor, dan menyuruh Gu Kiat mengembalikan guci itu ke tempatnya semula. Maka selamatlah dia dan agaknya dia masih ingat akan budi itu dan sekarang berkesempatan untuk membalas kepadaku."

Bi Lian diam saja. Dia sendiri tidak begitu peduli tentang budi dan sebagainya. Sejak kecil dia sudah menjadi murid Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, dua datuk sesat yang sangat jahat. Meski pun pada dasarnya dia memiliki watak yang gagah perkasa, bahkan pantang melakukan kejahatan dan menuruti nafsu ingin menyenangkan diri sendiri, tapi kehidupan dalam lingkungan dunia sesat membuat dia bersikap keras, bahkan ganas dan tak peduli. Malah dia sempat mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewi Berhati Besi) karena kekerasan hatinya ini.

Namun sesudah dia kembali berkumpul dengan ayah ibunya, dia menerima gemblengan ilmu dan juga keteguhan batin dari ayah dan ibunya yang sakti. Bahkan orang tuanya juga menceritakan secara terus terang bahwa dia merupakan keturunan dari para datuk sesat yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kesaktian dan kejahatan mereka. Oleh karena itu dia harus selalu ingat akan hal ini dan menunjukkan kepada dunia bahwa biar pun keturunan datuk sesat, namun dia dapat bertindak sebagai seorang pendekar!

Kakek dalamnya, yaitu ayah dari ayahnya, adalah Siangkoan Lojin yang terkenal dengan julukan Si Iblis Buta! Dan kakek luarnya, ayah dari ibunya, lebih hebat lagi karena kakek itu adalah mendiang Raja Iblis! Raja Iblis dan isterinya, Ratu Iblis, benar-benar pernah merajai dunia sesat. Dan ayah ibunya, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, pernah pula menjadi orang-orang terhukum di kuil Siauw-lim-si sesudah dianggap berdosa oleh ketua kuil. Mereka berdua bersedia menerima hukuman ini untuk menebus dosa orang-orang tua mereka!

Perbuatan yang dianggap baik oleh pelakunya, apa lagi oleh pelakunya dianggap sebagai budi, bukanlah perbuatan baik lagi, akan tetapi sebuah cara untuk memperoleh sesuatu. Kalau kita menolong orang lalu kita menganggap bahwa pertolongan yang kita berikan itu sebagai budi, bukankah itu sama saja dengan menghutangkan sesuatu yang kelak akan ditagih dan diharuskan membayar kembali berikut bunganya?

Baik buruk hanya penilaian, dan penilaian selalu didasari pada kepentingan pribadi. Kalau segala sesuatu yang kita lakukan didasari cinta kasih, maka tidak ada pamrih lain, tidak ada lagi yang dinamakan budi mau pun dendam! Budi mau pun dendam hanyalah ikatan, perhitungan untung rugi dari hati akal pikiran yang bergelimang nafsu.

Penyesalan tak ada gunanya! Semua perbuatan yang dilakukan melalui pemikiran selalu ditunggangi oleh nafsu pementingan diri sendiri karena pikiran adalah si-aku yang sudah bergelimang nafsu. Yang penting adalah kewaspadaan, pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin. Pengamatan sepenuhnya tanpa si-aku yang mengamati ini akan menimbulkan kesadaran.

Tidak mungkin kita mengubah sifat dan watak kita melalui pemikiran, karena pemikiran tidak mungkin dapat terepas dari pengaruh nafsu daya rendah. Setiap orang mudah saja menyadari dan mengetahui bahwa perbuatannya tidak benar. Namun setiap kali pikiran berniat mengubahnya, semua perbuatan itu malah akan diulang dan pikiran yang berniat mengubah tadi pun menipis dan lenyap.

Tidak mungkin pikiran mampu mencuci kekotoran perbuatan karena perbuatan itu justru sudah dikendalikan oleh pikiran, dan pikiran itu bergelimang nafsu. Bagaimana mungkin mencuci bersih sesuatu yang kotor dengan menggunakan air yang kotor pula?

Hanya kekuatan Tuhan yang dapat membersihkan batin, yaitu hati dan akal pikiran! Kita yang merasa bergelimang kekotoran, yang telah dikuasai oleh nafsu daya rendah, hanya tinggal menyerah saja kepada kekuasaan Tuhan! Biar kekuasaan Tuhan yang mencuci kotoran itu, biarkan kekuasaan Tuhan yang membimbing dan membersihkan batin kita. Kalau batin sudah bersih, maka terbukalah jendela dan pintu batin kita untuk menerima masuknya sinar cinta kasih. Jika sudah begitu maka setiap perbuatan kita diterangi oleh sinar cinta kasih.

Lantas ke mana perginya nafsu daya rendah? Tidak pergi! Masih ada dan masih penting bagi kehidupan kita. Akan tetapi nafsu daya rendah tak lagi menjadi majikan, melainkan menjadi alat, menjadi pelayan untuk kepentingan hidup di dunia ini. Bukan lagi menjadi liar, karena bila nafsu daya rendah yang memegang kemudi, maka kita akan disesatkan ke arah pengejaran kesenangan nafsu sehingga menghalalkan segala cara, melakukan segala yang sifatnya merusak dan yang pada umumnya disebut jahat.


Malam itu tidak terjadi sesuatu. Bi Lian dan Hok Seng menunggu di kamarnya masing-masing, namun tuan rumah tidak kunjung pulang. Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika mereka berdua sudah menyiram tubuh dengan air dingin dan sudah duduk di luar, muncullah Gu Kiat!

"Bagaimana, saudara Gu Kiat? Berhasilkah?" Hok Seng langsung menyambutnya dengan pertanyaan yang ingin tahu sekali.

Gu Kiat tersenyum, menarik napas panjang lalu duduk di depan mereka. "Tiada seorang pun tahu ke mana pindah atau perginya bekas perwira itu. Ketika saya sudah putus asa dan menjelang pagi tadi berjalan pulang, di tengah jalan saya bertemu atau dihadang oleh seorang bertopeng hitam....”

"Topeng hitam...?" Tang Gun berseru kaget.

“Ya, orang itu mengenakan kedok hitam. Ia muncul secara tiba-tiba dan bertanya kenapa saya mencari bekas perwira Tang Bun An. Karena sikapnya menyeramkan, terpaksa saya berterus terang mengatakan bahwa Kongcu yang mencarinya. Si kedok itu lalu menyuruh saya memberi tahukan Kongcu bahwa dia yang akan dapat menunjukkan kepada Kongcu di mana adanya bekas perwira itu."

"Tapi... tapi... siapa dia?” Tang Gun bertanya, suaranya menunjukkan ketegangan hatinya dan Bi Lian hanya mendengarkan saja dengan sikap tenang.

“Tadi saya juga bertanya demikian, Kongcu. Sesudah saya bertanya siapa dia, dia hanya mengatakan bahwa dia pernah memberi sekantung emas kepada Kongcu dan Kongcu tentu mengenalnya!"

“Pendekar itu...!” Tang Gun menoleh kepada Bi Lian. “Sumoi, tentu dia adalah pendekar yang menolongku itu!”

"Mungkin saja," kata Bi Lian. "Akan tetapi bagaimana selanjutnya pertemuanmu dengan si kedok hitam itu?" tanyanya kepada Gu Kiat yang terputus ceritanya tadi.

"Oh, ya! Bagaimana selanjutnya, Gu Kiat? Apa yang dipesankan oleh pendekar berkedok hitam itu?" tanya Tan Gun.

"Pesannya aneh sekali, kongcu. Dia bilang bahwa kalau Kongcu hendak mencari perwira Tang, Kongcu harus menemuinya di kuil tua kosong yang berada di sebelah timur pintu gerbang kota. Dan dia pesan agar kongcu datang seorang diri, tidak boleh ditemani siapa pun. Kalau Kongcu tidak sendirian, maka dia tidak akan menemui Kongcu dan tidak mau membantu lagi."

"Hemm, orang itu penuh rahasia. Juga mencurigakan!" kata Bi Lian sambil mengerutkan alisnya.

"Tapi dia... dia pernah menolongku, Sumoi! Tak mungkin sekarang dia hendak menjebak atau mencelakakan aku. Gu Kiat, kapan aku harus rnenemuinya."

“Sekarang juga, Kongcu. Dia bilang jangan terlalu siang karena dia tidak mungkin dapat menanti terlalu lama."

"Sumoi, kalau begitu aku akan pergi sekarang juga. Kau tunggulah di sini, sumoi. Aku tak akan lama dan akan segera kembali setelah mendapatkan keterangan."

Bi Lian mengerutkan alisnya, akan tetapi dia lantas berkata. "Baiklah, Suheng. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku masih curiga akan sikap aneh orang itu.”

“Dia bermaksud baik, Sumoi, hal ini aku yakin. Nah, aku pergi dulu. Kau tunggulah di sini."

Tang Gun atau Tan Hok Seng lantas pergi dan Bi Lian diam-diam memperhatikan sikap tuan rumah, akan tetapi Gu Kiat kelihatan biasa saja. Sesudah Hok Seng pergi, dia minta maaf kepada Bi Lian untuk beristirahat di dalam kamarnya karena semalam suntuk tadi dia tidak tidur. Tak lama kemudian Bi Lian mendengar dengkurnya dari dalam kamar dan dia pun tidak mempunyai alasan untuk mencurigai Gu Kiat.

Akan tetapi hatinya tetap saja merasa tidak enak. Ingin dia membayangi suheng-nya dan melihat sendiri siapa sebenarnya orang yang berkedok itu. Akan tetapi dia pun tidak ingin menggagalkan usaha suheng-nya mencari orang yang melakukan fitnah itu. Pula, kalau si kedok hitam itu berniat jahat, tentu dahulu tidak menolong Hok Seng. Dengan pikiran ini hatinya menjadi lega dan dia menanti saja di situ…..

********************

Sementara itu dengan cepat Hok Seng berjalan keluar kota melalui pintu gerbang timur. Dia masih menyamar sebagai seorang setengah tua sehingga dia dapat keluar dari pintu gerbang dengan mudah. Dia sudah lama tinggal di kota raja dan tahu kuil tua mana yang dimaksudkan itu.

Di luar pintu gerbang timur terdapat sebuah bukit kecil dan di puncak bukit itulah adanya kuil tua yang sudah lama tak pernah dipergunakan lagi. Ke sanalah dia pergi dan setelah berada di tempat yang sepi, dia mengerahkan tenaga dan berlari cepat mendaki bukit.

Kuil tua itu sunyi sekali. Sepagi itu belum ada anak-anak penggembala menggiring ternak mereka ke bukit yang banyak padang rumputnya itu. Tidak nampak kehidupan di dalam atau di luar kuil, keadaan sunyi saja. Pagi itu langit amat cerah, sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam, seakan mempersiapkan kebersihan bagi kemunculan sang matahari.

Tanpa ragu lagi Tang Gun memasuki kuil, menoleh ke kanan kiri. Kosong saja di bagian depan kuil itu. Selagi dia tidak tahu harus mencari di mana dan baru saja hendak berseru memanggil, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Aku di sini!"

Suara itu datangnya dari belakang. Tang Gun segera menuju ke belakang dan di ruangan yang luas itu karena dindingnya telah runtuh sehingga bagian belakang itu terbuka, berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap dan mengenakan kedok hitam, di tengah ruangan sambil bertolak pinggang.

Tang Gun segera mengenal si kedok hitam yang dulu pernah menolongnya, maka cepat dia maju menghadapi orang itu dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan tubuhnya agak membungkuk dengan sikap hormat.

"Selamat berjumpa, Taihiap (pendekar besar)!" katanya.

Si kedok hitam itu diam saja, akan tetapi sepasang matanya yang mencorong bersinar dari balik kedok, mengamati wajah Tang Gun.

"Hemm, engkau Tang Gun yang sedang menyamar sebagai orang tua?" suara itu dalam dan berwibawa.

"Maaf, Taihiap. Terpaksa saya menyamar karena khawatir kalau kehadiran saya di kota raja diketahui orang. Saya Tang Gun yang dahulu pernah menerima pertolongan Taihiap dan sampai sekarang saya tidak pernah melupakan budi itu."

"Tang Gun, untuk apa engkau menyelidiki di mana tinggalnya Tang Bun An? Apa yang kau inginkan dari orang itu?"

"Ahh, tentu Taihiap mengerti. Orang itulah yang telah mencelakakan saya, yang membuat saya dihukum. Karena itu saya hendak mencarinya untuk membalas dendam kepadanya. Mohon bantuan Taihiap untuk memberi tahu di mana saya dapat menemukan dia!"

"Hemmm, dahulu kepandaianmu kalah jauh olehnya. Bagaimana sekarang engkau akan melawannya? Engkau akan kalah lagi!"

"Sekali ini saya tidak takut! Ada sumoi Siangkoan Bi Lian yang akan membantu saya dan dia lihai sekali." Kemudian Tang Gun mendapat pikiran yang baik sekali. "Dan juga ada Taihiap di sini. Taihiap sudah menolong saya, mohon sekali ini suka pula membantu saya menghadapi Tang Bun An yang jahat itu."

"Tang Gun, engkau memang orang tolol!" Tiba-tiba orang berkedok hitam itu membentak. Tentu saja bekas perwira itu terkejut sekali dan terbelalak heran melihat nada suara yang marah itu. "Engkau memang layak dipukul!"

"Eh... maaf... apa kesalahan saya yang membuat Taihiap tiba-tiba menjadi marah kepada saya?"

"Anak bodoh! Kalau tidak ada Tang Bun An, engkau sekarang tentu sudah mampus!"

"Ehh? Apa artinya ucapan Taihiap itu? Dia telah menangkap saya dan menyeret saya ke depan Sribaginda Kaisar sehingga saya dijatuhi hukuman berat..."

"Bayangkan saja kalau bukan Tang Bun An yang menangkapmu, tapi pasukan keamanan yang menangkapmu. Kau kira akan mampu menyembunyikan diri bersama kekasihmu itu begitu saja? Kau sangka akan mampu melawan kalau para jagoan istana mencarimu dan menemukanmu di kota Yu-sian? Dia sengaja menangkapmu justru untuk menyelamatkan nyawamu!"

Dari heran Tang Gun menjadi penasaran dan tidak percaya. "Taihiap, bagaimana Taihiap bisa mengatakan bahwa dia bermaksud menyelamatkan saya? Saya telah dihukum berat, hukum buang dan sekiranya tidak ada Taihiap yang menolong saya, tentu sekarang saya sudah mati."

"Hemm, jadi engkau mengakui bahwa aku yang dahulu menyelamatkanmu, menolongmu dan membebaskanmu dari tangan para pengawalmu ke tempat pembuangan?"

"Bukan hanya menyelamatkan nyawa saya, tetapi Taihiap juga sudah memberi sekantung emas sehingga saya dapat hidup pantas. Untuk budi itu, saya tidak akan melupakannya selama hidup."

"Tidak usah berterima kasih kepada aku si kedok hitam, tetapi berterima kasihlah kepada penyelamatmu yang sebenarnya, yaitu Tang Bun An!" ,

"Ehhh... tetapi maaf... saya belum dapat menerimanya sebagai penyelamat saya, Taihiap. Dia... dia..."

"Tang Gun! Apakah engkau tidak percaya kepadaku?"

"Percaya... percaya... akan tetapi..."

"Kau lihat, siapa aku!" Berkata demikian, si kedok hitam membuka kedoknya.

Tang Gun terbelalak, wajahnya berubah pucat dan sejenak dia tak mampu bicara, hanya melongo memandang kepada wajah yang tadi bersembunyi di balik kedok hitam. Wajah Tang Bun An.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner